Tampilkan postingan dengan label My Diaries. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Diaries. Tampilkan semua postingan

Tentang Kematian (1)

>> Kamis, Desember 25, 2008

.: 25 Desember 2008 (dedicated for Kurniawati)

Hari ini Ayah dari Kurnia -adik kelas yang serumah dengan saya dulu- meninggal dunia. Beberapa waktu lalu, beberapa kawan saya mendapat musibah yang demikian halnya. Keibaan kita –sebagai kawannya- merupakan suatu hal yang pasti. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menemani dan menghiburnya hari ini.

Kawan-kawan IKPM dan beberapa kawan dekat Kurnia yang lain beramai berkunjung di rumah Gami hari ini. Membacakan yasin dan khataman al-Qur’an serta berusaha menemaninya. Semoga saja Kurnia sabar dan tabah menghadapi segalanya. Percayalah Kurnia, Kurnia tak sendiri. Kuatkan dirimu, Dik.

Oh, kematian. Setiap diri dari kita pasti akan menyusul. Sudahkah setiap bagian dari diri kita mempersiapkannya? Allâhumma ikhtimnâ bi husni al-khâtimah. Âmîn.

Read more...

Di Bawah Naungan Masjid Al-Azhar 1

.: Episode 23 Desember 2008

Langit nampak suram. Rupanya ia tak merestui warna biru menghiasinya. Ia lebih tertarik menyambut debu gurun untuk menari ‘kecak’ bersama angin yang gemulaiannya ‘benar-benar’ menggigilkan badan. Burung pun enggan berceracau di udara walau sekedar untuk menghidupkan suasana langit. Sepertinya burung-burung itu takut mengidap penyakit flu (just an intermezzo). Memang, udara hari ini benar-benar tak mau diajak bersahabat.

Setelah melaksanakan aktifitas pagi, sebenarnya saya ingin segera terpekur dengan muqarrar saya dengan segera. Tersebab al-Qur’an saya dan al-Qur’an Andri ketinggalan di masjid Musa Sabi’, akhirnya saya terpaksa mengambilnya dengan segera. Pukul 10.45 AM saya berangkat dari Asrama Bu’uts -tempatku bernanung selama kurang lebih lima bulan ini- menuju Sabi’.

Dari masjid Musa Sabi’, saya percepat langkah menuju mahattah Vila untuk menunggu kendaraan yang akan mengantarkan saya ke masjid Al-Azhar. Angin berhembus makin kencang. Kacamata saya agak kabur karena terhempas hembusan angin bercampur debu yang benar-benar tak menyehatkan. Sejenak kemudian, saya bersihkan dengan lap kacamata yang selalu saya bawa pergi kemanapun.

Dengan mengendarai 24 jim, saya bertolak menuju masjid Al-Azhar. Udara tetap saja tak bisa diajak berkompromi hari ini. Saya hampir-hampir putus asa. Namun, satu pelajaran berharga tiba-tiba menyelinap di alam fikiran saya hari ini. Yaitu bahwasanya segala persoalan dalam hidup manusia harus dipasrahkan pada Tuhan. Beruntung, saya hari ini merasa diselamatkan oleh kata-kata ‘pasrah’.

Berbekal kepasrahan ini, saya merasa ‘agak’ sedikit ringan dalam berusaha melaksanakan kewajiban belajar saya hari ini, walau hidung saya agak-agak tersumbat dan saya agak terbatuk-batuk. Apalagi tak seorangpun dari mahasiswi Indonesia yang saya temui belajar di masjid Al-Azhar. Sehingga saya merasa bahwa hari ini saya tak ada tempat kembali (sebagai bidikan menitipkan tas dan tempat berbagi kala suka dan duka maksudnya).

Di sana, saya mempelajari buku Adab dan berusaha mengukirnya di setiap lempengan-lempengan otak saya. Alhamdulillâh, saya benar-benar merasa menikmati aktifitas belajar saya hari itu. Walau ketika saya menelfon ‘seseorang’, dia merasa suara saya agak berat. Ya, karena cuaca hari itu memang tak menyehatkan. Tapi percayalah kawan! Kepasrahan pada hari itu benar-benar membuat segalanya terasa ringan. Entahlah seberapa lama lagi kepasrahan ini akan bertahan. Saya merasa enggan berpisah dengannya.[]

.: Tuhan, dekatkanlah hamba-Mu ini dengan kepasrahan! Biarkanlah dirinya setia menemani hamba! Karena dengan kepasrahan ini, hamba-Mu merasa keberwujudan-Mu benar-benar menaungi setiap hamba, rahmat-Mu benar-benar mengalir. Tuhan, kabulkanlah doa hamba-Mu yang tak berdaya ini. Lâ haula wa lâ quwwata illâ bika, Ya Allâh. Fainnanâ natawakkalu ‘alaika, Ya Allâh. Âmîn. Yâ Rabb al-‘Âlamîn.

Read more...

Mozaik Kehidupan Seorang Nana

>> Kamis, November 27, 2008

Pernah mendengar kisah petualangan nyata mencari mozaik kehidupan yang meletup kuat menyemangati kita untuk maju? Saya termasuk salah satu orang yang pernah mendengar kisah pencarian jati diri ini. Ah, baiknya Anda baca saja bagaimana kisah nyata seorang perempuan yang bernama Nana –bukan nama sebenarnya- dalam proyeknya mengais sebuah jati diri.

Beberapa hari yang lalu saya pergi ke masjid al-Azhar. Di sana, saya bertemu dengan seorang kawan –sebutlah namanya Rani-. Pada saya, Rani berkisah tentang seorang perempuan –sebutlah namanya Nana- yang cinta akan petualangan. Perempuan ini bisa kita jadikan sampel menarik dari orang-orang yang telah menemukan mozaik kehidupannya.

Terlahir di keluarga yang sederhana, tak menyurutkan Nana untuk bercita-cita tinggi. Cita-citanya adalah berpetualang ke negara Eropa. Demi mewujudkan citanya, dia mendaftarkan di salah satu universitas yang lumayan ternama di tanah air dan memilih jurusan sastra salah satu negara di Eropa –yang entahlah saya sendiri lupa negara mana-.

Di universitas itu, dirinya merasa kewalahan. Impiannya untuk mampu menguasai bahasa dan adat-istiadat negara tersebut dalam waktu singkat, rupanya tinggal kenangan. Dia tak merasa puas dengan apa yang didapatkannya dari perkuliahan.

Nana nekad. Dalam waktu relatif singkat, Nana memutuskan untuk bertolak ke Jerman. Berbagai cara akhirnya ditempuh. Salah satunya adalah dengan berpetualang menjadi TKW. Di hadapan kedua orangtuanya, Nana menyampaikan bahwa dia ingin kursus berbahasa Jerman di Surabaya. Orangtuanya merestui. Di Surabaya, dia tak mengikuti kursus tetapi malah mendaftarkan diri sebagai TKW di negara Jerman.

Beberapa saat kemudian, dia mendapat panggilan kerja di negara tersebut. Sesampainya di Jerman, dia mengabarkan keadaannya pada keluarganya di Jerman. Keluarganya di tanah air terkejut. Tersebab mereka mengira bahwa selama ini Nana berada di Indonesia tepatnya Surabaya.

Dari cerita yang disampaikannya pada keluarga, dia menyampaikan bahwa nasib mujur rupanya berpihak padanya di Jerman. Dia mendapatkan majikan yang baik. Majikannya sangat bangga padanya. Karena walaupun Nana adalah seorang pembantu rumah tangga, Nana rajin membaca buku.

Berbekal semangat belajar yang qualified dan keberaniannya yang membuncah, dalam waktu dua bulan dia telah mampu berkomunikasi dengan bahasa Jerman. Pengalamannya makin terasah dengan penguasaannya atas adat-istiadat masyarakat setempat.

Nana tak hanya bercita-cita mengenal Jerman. Asanya menjulang tinggi. Dia berhasrat menguasai pelbagai bahasa. Di Jerman, dia berkenalan dengan salah seorang berkebangsaan Perancis. Darinya, Nana mempelajari bahasa Perancis.

Tak puas di Jerman, setahun setelah bekerja di Jerman, dengan bantuan kawannya, dia bertolak ke negara pusat mode, Perancis. Di sana, dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga lagi. Nana tetaplah Nana. Semangat belajarnya tak kunjung surut. Bahasa dan perilaku kehidupan masyarakat Perancis dikuasainya dalam waktu singkat.

Setahun bekerja di Perancis, Nana kembali ke tanah air. Bersua dan bertutur sapa dengan sanak keluarga. Yang mengagumkan, pursuit of knowledge-nya kembali menarik-nariknya untuk tetap konsis belajar.

Setelah puas melepas rasa rindu pada negara dan keluarga, Nana kembali ke Jerman. Kali ini dia tak bermaksud bekerja di sana. Hasrat mulianya untuk belajar di salah satu universitas di Jerman mendentum dan meletup hebat bak uranium yang terhempas.

Nana akhirnya mendaftarkan diri sebagai mahasiswi di salah satu universitas di Jerman. Dan alhamdulillâh dia diterima dengan mudah. Rupanya, hasrat belajarnya itu menarik seorang laki-laki non-Islam hingga bermaksud menikahinya. Lelaki itu kini telah menyandang predikat baru sebagai seorang muslim.

Kini, Nana masih belajar di Jerman. Dan yang lebih membuat saya salut, Nana telah menguasai enam bahasa sekarang. Entahlah bahasa apa saja yang dikuasainya. Hanya yang jelas, pengalaman ini mengingatkan saya pada pesan Bob Sadino –salah seorang pebisnis ternama tanah air- mengenai cara belajar yang baik. Sebagaimana dituturkannya, "Cara belajar yang baik adalah cukup lakukan saja."

Pesan cemerlangnya itu lamat-lamat terdengar senada dengan apa yang diutarakan oleh Rex dan Carolyin Sikes: "We learn about a city from being there, not from a map or guide book. We learned to walk and talk without reading instructions or following recipes. Learning is doing something, then getting rid of the unwanted parasitic movements". (Kita mempelajari suatu kota dengan berada di sana bukan dari peta atau buku panduan. Kita belajar berjalan dan berbicara tidaklah ditempuh dengan membaca instruksi-instruksi atau mengikuti metode-metode. Belajar adalah melakukan sesuatu, kemudian menyelamatkan diri dari tindakan-tindakan parasit yang tidak diinginkan) Wallâhu a’lamu bi al-shawâb.

Read more...

Setelah Enam Tahun; Aku Ingin Kembali Bertutur Pada Bintang

>> Selasa, Oktober 21, 2008

Di malam yang lebih rapat sambut musim dingin dibanding terik siang, aku tengadahkan wajahku menatap mayapada. Kuintip bintang yang mengecupkan sinarnya pada langit di angkasa, malu-malu. Bulan yang mulai bergerak menuju sabit sampaikan senyum simpulnya yang tak tampak ketika purnama.

Ilustrasi alam ini kembali mengais memoar kecil masa silam ketika aku beranjak berusia tujuh belas tahun. Di tanggal yang sama, walau tak ada acara tasyakuran sama sekali, adik-adik kelas dan rekan kerja serayonku –Rayon Bosnia Atas Dua- ramai-ramai mengucapkan, “Selamat Ulang Tahun ke-17, Fissa.”

Kawan sebayaku tak mau ketinggalan. Dia menimpaliku dengan nasehat, “Tujuh belas tahun itu masa dewasa lo, Fis.” Dewasa. Haruskah di usiaku yang ke-17 tahun ini aku meninggalkan masa indah remaja? Apakah lara hidupku tak memberiku kesempatan untuk menikmati masa remaja? Namun, kalau aku menginginkan kebahagiaan, kebahagiaan seperti apa sebenarnya yang aku inginkan? Aku kerap bertanya?

Pertanyaan ini masih membekas hingga sang surya beranjak ke peraduannya dan bulan menatapkan sinarnya. Tak ketinggalan, kusambut kedipan bintang malam itu walau tetap saja malu-malu biaskan kecupannya pada mayapada. Dengan dibarengi suasana belajar karena memang hari-hari itu aku harus menghadapi ujian akhir tahun, aku berujar pada bintang, “Bintang, ajari aku kedewasaan? Apakah kedewasaan harus tinggalkan kebahagiaan? Bintang, sebenarnya kedewasaan terletak di mana?”

Hari ini, genap usiaku dua puluh tiga tahun. Enam tahun sudah tak kutemui bintang di langit pesantrenku. Sekian lama aku tak mengadukan kisahku pada bintang. Termasuk bintang di langit Kairo. Dulu, di pesantren hanyalah bintang malam yang rela mendengarkan kisah-kisahku dan muqarrar-lah yang setia menemaniku. Sayangnya, hingga kini, pertanyaan ini tak kunjung kudapatkan jawabannya.

Fenomena kehidupan enam tahun yang sangat berbeda dengan masa-masa belajarku di ma’had menyeretku untuk kembali bertutur pada bintang malam ini. Kisah-kisah silam yang mengharubiru membuatku kembali pada bintang. Pada bintang langit Kairo aku bertutur, “Bintang, siapapun kamu, walau kamu bukanlah bintang langit pesantrenku, dengarkan setiap kisahku. Sampaikan pada Tuhanmu, aku ingin meraih kedewasaan. Tanyakan pada-Nya, sejatinya apakah itu kebahagiaan?”

“Bintang, hari ini jatah usiaku makin berkurang. Sedang amal kebaikanku tak kunjung bertambah. Bahkan, maksiatku kini makin berbuih. Bantulah aku meraih taubat-Nya, Bintang!”

“Bintang, agaknya fenomena lebih senang menarik-narikku untuk lebih sepakat dengan tutur Andrea Hirata, “Hati yang sepi lebih baik daripada hati yang patah.” Maka, bantulah aku untuk sukses menjadi perempuan berhati hampa! Bintang, kalaulah hatiku tak pernah dibiarkan sepi oleh-Nya, sampaikan pada Tuhanmu, aku ingin hatiku dipenuhi cinta-Nya.”

.: Islamic Mission Abbasea, on my birthday October 21st 2008
Fenomena: Di tengah bayang-bayang ‘Idem’

Read more...

Kembali Pada 'Khittah' Pembelajaran

>> Senin, September 08, 2008

Berbagai persoalan akhir-akhir ini ‘agak’ mengendurkan semangat pacuan belajar yang selama ini tertempuh. Saya tersadar bahwa saya tak sepenuhnya harus menyelesaikannya dengan menyerah pasrah pada keadaan. ‘Mati dalam senyap’ jangan sampai saya jadikan keputusan. Saya harus merevitalisasi kondisi saya dengan segera. Tersebab banyaknya tanggungjawab saya terhadap orangtua yang belum saya penuhi.


Beruntung, walaupun saya tak sempat mencurahkan kepada siapapun, Tuhan mengijinkan saya menggapai ‘semangat pembelajaran’ itu setitik demi setitik. Berawal dari muhasabah diri, saya menemukan fakta ‘kekurangan’ yang saya miliki itu. Sebenarnya, ‘kekurangan’ ini sudah saya sadari sedari awal. Saya tak akan berapologi. Terlebih masukan yang ‘disampaikan’ beberapa waktu lalu adalah batu pijakan kebaikan pada diri. Why not?

Enam purnama lewat, ketika menghadapi persoalan yang ‘mirip’, saya akhiri dengan penyelesaian ‘unik’. Pesan Bapaklah yang kembali menarik saya untuk meningkatkan diri, “Jangan minder, kecil hati, kecewa, putus asa karena kegagalan, pernah jatuh, pernah bersalah, pernah berdosa, lemah, dan cacat kodrat. Untuk melangkah maju, benar, bermanfaat, dan bersyariat. Ingat! Hidup atau umur itu amanat!

Setahun lalu seorang kawan pernah berpesan, “Kalau saya pribadi, saya tak akan pernah peduli dengan apa yang orang omongkan tentang saya. Saya justru takut dengan apa yang terjadi dengan diri saya. Sudah benar belum saya berbuat begini? Sudah ikhlas belum? Kalau ini saja diri saya sudah merasa terganggu, saya seolah tidak menjadi diri saya yang sebenarnya.” “Bijak,” pikir saya kemudian.

Kembali kepada nasehat kawan saya tersebut, sedari awal ketika saya bersahabat, saya tak berpikir untuk to take. Saya ingin membantu sahabat saya berubah kalau perubahan itu benar-benar diinginkannya. Sang Bapak juga pernah berpesan, “to give, to give, to give, and to take” Tuhan, hamba mohon ampunan kalau niat tulus saya ini agak meleset dari linier yang seharusnya saya tempuh.

Kini, setelah semua terjadi, ‘kembali kepada khittah pembelajaran yang seharusnya’ adalah satu-satunya solusi tepat. Sama dengan menyelesaikan persoalan enam purnama silam. Saya tak boleh berhenti belajar. Seandainya diri saya adalah kumpulan organ yang terorganisir, otak saya akan memerintahkan nurani untuk mengadakan acara perploncoan atau reorientasi pada seluruh organ tubuh ini. Tuhan, berikan hamba kekuatan![]

.: Idem itu akan selalu ada. Bagaimana dengan Idem Anda?

Read more...

  © Blogger template Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP