Tampilkan postingan dengan label My Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Stories. Tampilkan semua postingan

Ingat! Di Mesir Bukan Lagi Di Indonesia

>> Jumat, Desember 05, 2008

Bumi Mesir membiaskan bekas-bekas jejak langkahmu sejak hari awal kedatanganmu hingga kini. Entahlah sudah berapa bilangan sinaran langkah yang terpantul di atas himpunan pasir, debu, bebatuan, dan kerikil-kerikil yang menjadi saksi mobilitasmu selama kurun waktu itu. Ribuan atau mungkin ratusan ribu langkah. Makin panjang waktu yang tertoreh dan makin jauh kaki melangkah, sudahkah kau memberikan hal yang terbaik untuk mereka yang menunggumu?

Kedatanganmu di Mesir dihiasi dengan berbagai harapan yang sangat sulit kau penuhi dalam bentangan waktu empat tahun. Dari peningkatan bahasa, pengkondisian diri, termasuk peningkatan mental pribadi. Semuanya serba sulit untuk terpenuhi karena waktu dan kekuatanmu yang serba terbatas.

Teringat kau akan ultimatum orangtuamu yang kerap berkelebat di kibaran sanubarimu, "Nak, di Mesir kuliahmu hanya menggantungkanmu pada muqarrar. Kamu tak perlu ke sana. Dikirim muqarrar al-Azhar saja sudah cukup. Tinggal dibaca dan dipelajari muqarrar itu, kamu akan meraih gelar Lc. Daripada kuliah jauh-jauh dan mahal hanya untuk meraih Lc, lebih baik kamu kuliah di Indonesia saja. So, kalau memang kamu ingin belajar di Mesir, kamu harus banyak berinteraksi dengan orang Mesir, berbahasa Mesir, dan mempelajari tabiat dan kehidupan mereka. Kalau kamu ke Mesir tapi tetap kental dengan suasana Indonesia, mendingan di Indonesia saja. Ingat! Kamu itu kuliah di Mesir bukan di Indonesia." Kau tak berkutik. Tak mampu membantah tutur kata beliau. Yang terbesit seketika itu adalah bahwa kau akan tetap teguh pada pendirian menimba ilmu di bumi kinanah ini. Apapun hasilnya nanti, kau pasrah.

Pertama menginjakkan kaki di Ardh al-Anbiyâ' ini, kau mantapkan hati dan teguhkan diri bersikukuh meningkatkan bahasa dan mengkondisikan diri. Berbagai cara telah kau coba. Percakapanmu dengan kawan-kawan Indonesiamu telah kau usahakan berbahasa Arab. Talaqqî telah kau coba. Interaksi 'hanya' dengan orang Mesir ketika masa aktif muhâdharah dan sedikit menjauh dari kawan-kawan sekampung halaman telah kau laksanakan. Sayang, tetap saja usahamu tak berhasil.

Selang sang waktu menjelang, kau kolaps. Kapalmu beralih haluan. Angin ke-Indonesia-an yang mengitarimu –mengingat ketika itu fenomena bahasa, adat istiadat, pergaulan hampir-hampir kesemuanya kental dengan tanah airmu- berhembus kuat. Tak terasa semasa tiga tahun batang usiamu di Mesir ini kau 'terlupa' akan tanggungjawab yang terutarakan dulu.

Agaknya kau terlena dengan fenomena negara boneka Indonesia yang telah menarik-narikmu memaksa-maksamu mengubah status belajar menjadi 'mahasiswi di negara Indonesia'. Kau limbung. Tak tahu apa yang akan kau berikan pada negaramu kelak. Untuk sedikit menghiburmu, kau berkilah, "Setidaknya aku di Mesir tak main-main."

Hm hm hm... Rupanya apologi ini berhasil menghiburmu walau jujur saja juga melenakanmu. Harapan-harapan yang telah lalu 'agak' sedikit terlupa akibat ulah apologimu sendiri.

Ups! Kini, sisa waktu yang in syâ a Allâh diamanahkan padamu adalah setahun untuk belajar di Mesir. Kau terkesiap terkaget-kaget. Tertatih-tatih menyisiri setiap bagian harapan-harapan yang telah lalu. Rupanya kau belum memenuhi semua tanggungjawab itu. Terutama bahasa.

Selama ini pada dasarnya kau telah tahu dan mengerti dengan sangat bahwa dalam mempelajari suatu bahasa, kau harus bisa menguasai empat hal, reading, writing, speaking, dan listening. Tentunya kau telah temukan bahwa agaknya Universitas Al-Azhar lebih menekankan mahasiswanya pada aspek pertama dan kedua, reading dan writing. Writing-mu saja masih belepotan dan acak adul. Belum tentu memenuhi standar kemampuan bahasa anak Tsanawî al-Azhar. Reading-mu demikian halnya. Tertatih-tatih pula kau membaca dan memahami berhelai-helai buku.

Speaking dan listening-mu agak terlupa karena kau jarang menghadiri aktifitas perkuliahan. Keadaan ini didukung dengan keberadaanmu yang meninggalkan percakapan berbahasa Arab. Porak-poranda sudahlah perasaanmu.

Beberapa waktu lalu sangatlah parah keadaanmu. Seorang dosen mengajakmu berbincang, "Kalau kamu dikeluarkan dari asrama, kamu akan pergi ke mana?" Kau tak memahami kata-katanya. Kau jawab sekenanya, "Saya tak pergi ke mana-mana." Serta merta dahi dosenmu mengerut, "Rupanya kau tak memahami maksudku. Bukankah kau sudah belajar di Mesir selama tiga tahun?" Mendadak, merah pucat bias wajahmu. Lengkap sudah penderitaanmu.

Tahun keempat ini kau berusaha menyusun kembali puing-puing harapan orangtua dan kampungmu. Kau hadir di setiap perkuliahan. Kau menyusun jadwal kuliah dan talaqqî secara rapi dan kau menghadirinya. Dengan tegar tanpa tedeng aling-aling, kau pede dengan bahasa Arabmu walau masih ada sedikit dialek Indonesia. Kau tak malu-malu. Kau bertegur sapa dengan setiap orang berbahasa Arab. Nilai plusmu kali ini, bahasa Arab percakapan yang kau pergunakan ialah 'lughah al-takhâthûb'.

Tak hanya itu, kulihat kau rajin membaca buku-buku berbahasa Arab. Baik berbahasa Arab ringan, menengah, hingga yang sukar dipahami kau coba membaca dan mempelajarinya. Frekuensi belajarmu sangatlah tinggi. Jam belajarmu semakin padat. Istirahat yang kau sisakan hanya empat hingga enam jam tiap hari.

Kemarin, aku melihat artikel bahasa arabmu terpampang di salah satu buletin di Kairo. Menurut kawanku yang ahli bahasa, ushlub-mu makin terasah. Nahwu sharf-mu pada setiap pertautan kalimat mengalir kuat. Dzauq Arabmu kulihat telah menuju proses paripurna. Kau mulai berubah.

Perubahan beberapa waktu ini membuatku terkagum-kagum akan usahamu. Tak segan, emoticon jempol akan kutorehkan padamu jika pada saat itu aku menemuimu di dunia maya. Entahlah. Akankah perubahan ini akan terus dan terus melaju indah atau hanya sementara saja. Karena seorang kawanku pernah berkata, "Perubahan menuju arah perbaikan itu sangat mungkin terjadi di kehidupan kita yang warna-warni ini. Hanya saja, yang diperlukan pada setiap perubahan adalah kontinuitas dan konsisten." Kuharap kau camkan itu.

Setahun ke depan, kau akan mengakhiri tahun terakhirmu. Kisahmu tak sampai di sini. Masih ditunggu kelanjutannya tahun depan. Akankah kau berhasil dengan usahamu ini atau tidak? Akankah kau bersikukuh dengan konsisten dan kontinuitasmu? Ataukah kenyataan akhir-akhir ini hanya bias semata? Aku hanyalah komentator di setiap langkahmu. Semoga kau berhasil. Oh, ya. Aku ada sedikit kata hikmah buatmu, "Life is what happens to us while we are busy making plans." Yang kira-kira artinya begini, 'Hidup adalah saat-saat di mana kita disibukkan oleh berbagai perencanaan'. So, janganlah kau berhenti berencana! Kau bisa. Percayalah, percayalah!

Read more...

Sang Pencuri

>> Selasa, Oktober 21, 2008

Aku masih diam. Bias bayangan gadis itu menggangguku. Semacam ada salah mendera, ada penyesalan tak terlua, dan ada secarik perasaan berdosa. Namun bagaikan hujan mencurah, semua hanya tinggal rasa, perasaan seorang pencuri. Aku telah mencuri buku diktat kuliahnya. Padahal aku yakin barang itu teramat sangat berharga baginya. Aku masih sibuk dengan perasaanku, rasa bersalah dan berdosa.


“Izzayik, Ya Madame?” Sapa gadis itu tiba-tiba. “Alhamdulillah.” Jawabku kemudian.Wajahku pucat masam saat dia menyapaku. Namun seketika itu, keanehan terjadi. Aku tak melihat hal yang terjadi padaku ini terjadi padanya. Padahal, barangnya baru saja aku curi. Tak ada sedikitpun garis kesedihan terbias di wajahnya yang manis. Malahan senyum simpul tersungging dari lesung pipinya. Aneh, pikirku. Sementara dia kelihatan begitu tenang. Aku juga berusaha tak menampakkan rasa takut walaupun aku sulit menyembunyikan kecamuk perasaan dalam hati.

“Madame, apa Madame melihat tas yang saya taruh di sini kemarin?” Gadis itu bertanya padaku. “Nggak, Nak. Saya kemarin cuma sebentar di sini. Saya tak melihat ada tas di sini.” Meyakinkan dan datar kujawab pertanyaannya, seolah aku benar-benar tak tahu.

“Madam, kalau saya boleh curhat ke Madam, saya mohon Madam sudi mendengarkan. Saya di sini sebatang kara, tiada ayah dan ibu. Madam mau kan saya anggap sebagai ibu saya?” Tiba-tiba dia berkeluh kesah dan mau jadi anak angkatku. Aku hanya mengangguk pelan. Tanpa suara dan kata.

“Saya dari Indonesia, Madam. Indonesia sangat jauh dari Mesir. Saya adalah harapan negeri saya. Bagaimana saya akan lulus ujian kalau buku diktat saya hilang? Saya merantau ke Kairo hanya karena saya ingin mencari ilmu dan meraih cita masa depan saya.” Dia melanjutkan keluh kesahnya. Kulihat tetesan air mata mulai mengalir dari kedua kelopak mata menuruni kuning langsat pipinya.

Belum selesai dia bicara, aku menyela. Aku merasa bicaranya menuduhku, “Jadi kamu menuduhku ya? Kenapa kamu tak menuduh orang lain? Walau bertampang gembel, tapi saya bukan pencuri, Nak!”

“Nggak, Madam. Jangan salah sangka, sama sekali tak terlintas pikiran seperti itu. Saya hanya ingin berkeluh kesah pada Madam. Siapa tahu Madam kemarin tahu pencurinya. Madam, Madam punya anak kan?” Tanya anak itu seolah mengalihkan topik pembicaraan.“Ya,” jawabku singkat.

Aku ingat anak-anakku. Aku sedih. Anakku lima. Tiga diantaranya lulus ibtidâî. Mereka kini seprofesi denganku, pencuri. Satunya masih kelas enam ibtidâi, dan yang bungsu satu ibtidâî. Aku memang Ibu yang tak becus. Perasaan itu muncul begitu saja.

***
Cahaya bulan purnama masih berseri-seri, tak tertutup awan. Semilir dingin angin gurun campur debu masih seperti malam-malam kemarin, setia menemaniku. Aku duduk sendirian di balik jendela, menerawang lapisan langit di angkasa. Deru penyesalan menguasai, menciutkan hati.

Memori pencurian itu mengusik lagi, lekat sekali dan sulit dihindari. Meski biasa mencuri tapi pencurian kali ini lain, membawa ketaktenangan batin. Baru kali ini seperti ini. Kenapa?

Kenangan berkelebat uncul begitu saja. Hari itu aku bertemu dengannya di masjid. Kuamati tasnya yang cantik. Aku yakin di dalamnya terdapat uang, HP dan barang berharga lainnya.

Ketika keadaan dalam masjid mulai sepi, aku berkata padanya, “Nak, kamar mandinya mau diperbaiki. Kalau mau wudhu, harus sekarang.” Sejurus aku gunakan tipuan jitu.

Dia begitu polos, tak mengerti apa-apa, menurut saja. Aku tahu, pasti dia masih anak baru. Saat pergi ke kamar mandi, dia lupa membawa tasnya. Melihat dia masuk, tas yang kukira beisi barang berharga langsung aku sambar. Lalu pergi.

“Hore, hari ini aku banyak uang. Tunggu aku, Anak-anakku sayang!” Rasa gembiraku menguasai karena kudapati curian berharga. Namun kebahagiaan itu hanya sesaat. Sebab ketika kubuka, tas itu hanya berisi beberapa buku diktat dan al-Qur’an. Tak apalah, setidaknya aku mendapat tas sekolahnya. Tas sekolah ini akan kuberikan pada anakku, pikirku. Saat itu.

***

Hari dan minggu pun berlalu. Namun aku tak kunjung mengembalikan tas itu. Walau aku tersadar bahwa buku diktat di dalamnya itu sangat penting baginya. Untuk mahasiswa seusia dia, buku diktat adalah segala-galanya. Aku merasa kasihan. Lagi-lagi, tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. Aku masih memiliki anak di bangku sekolah dasar. Mereka benar-benar membutuhkan buku, SPP, dan peralatan sekolah. Dan semuanya itu hanya bisa ditebus dengan uang.

Tapi kini, aku malah mengambil hak itu. Hak yang sangat berharga dari seorang anak, anak yang jauh-jauh belajar ke negaraku ini. Pastinya anak itu memiliki kebutuhan yang sama dengan anakku. Apa yang telah kulakukan padanya?

“Ya Mama, bukuku hilang. Bagaimana saya bisa belajar, Mama? Besok saya ujian, Mama.” Anakku yang duduk di kelas enam ibtidâî mengadu. Lamunanku buyar mendengar aduan serta tangisannya.

Dari ceritanya aku tahu bahwa tas yang dipakainya ternyata sangat menarik hingga pencopet pasar berhasrat mengambilnya. Ya, tas yang kucuri di masjid itu telah kuberikan pada anakku. Namun tas itu sekarang tak kuketahui ujung rimbanya. Ganti dicuri orang.

“Ya Allah, apakah ini hukum karma ya?” Tanyaku dalam benakku. Ya Allah, buku itu sangat penting untuk anakku. Aku tak mau gagal dalam ujian hanya karena bukunya hilang. Aku lemas seketika.

Erat kupeluk tubuh anakku. Airmataku berlinang membasahi punggungnya. Aku tak kuasa menahan. Deras, semakin deras. Aku terantuk pada dua pilihan, antara harus menghadapi kenyataan atas penderitaan anakku dan kenyataan bahwa aku juga seorang pencuri.
Ya Allah, kenapa ini terjadi?

***

Penyesalan tak berkesudahan membawaku pada satu keputusan, aku harus menemui gadis itu. Aku sedih atas segala yang menimpa keluargaku. Penyesalan ini tumbuh bersama musibah yang menimpa anakku. Betapa bodohnya diri ini yang tak pernah mau mengerti keadaan orang lain. Ya Allah, ampunilah dosa hamba-Mu ini. Aku menyesali segalanya. Aku insyaf.

Kulangkahkan kaki menuju masjid. Walau terseok-seok melangkah akhirnya sampai juga di depan tangga menuju pintu masuk mushallâ li al-sayyidât. Jantungku berdegup, makin lama makin kencang. Rasa takut dan was-was menghantui.

Pandanganku menyisir tiap-tiap sudut masjid. Nihil. Tak kutemukan gadis itu. Aku tertegun sejenak. Urat nadiku berdetak pelan, sedikit demi sedikit. Aku hentikan langkahku sebentar, menenangkan diri. Aku sedikit tenang. Namun aku tetap tak kuasa menahan beban penyesalan. Antara ketenangan karena aku belum bertemu gadis muda Indonesia dan beban kupikul di atas pundakku. Segala penyesalan saling berbenturan.

Aku bersabar menanti gadis itu muncul. Dalam penantian panjang, aku beristighfar atas segala kesalahan yang kulakukan, bersalawat dan memuji Yang Maha Pengasih.

***

Dua jam menunggu, terdengar suara langkah kaki dari balik tangga. Jantungku berdegup kencang. Aku yakin itu dia. Ah, bukan. Itu bukan dia. Aku kembali tenang. Aku menunduk sebentar. Sejenak kemudian aku mengangkat kepala. Mataku menyisir ke pojok masjid sebelah kanan. Aku melihat gadis itu. Roman wajah yang tak asing lagi bagiku. Dia sedang salat Dhuha. Aku mendekatinya. Ya Allah, benar. Dia gadis itu. Gadis yang selama ini telah kurisaukan hatinya.

Selesai salat, aku menatapnya. Dua tetes kristal bening dari bola mataku membasahi kedua tanganku. Aku mendekatkan diri, lebih dekat lagi. Aku tak kuasa berkata. Aku memeluk tubuhnya seolah tak ingin sedikit pun melepaskan. Seolah kutub negatif tubuhku telah terikat oleh kutub positif tubuhnya. Gadis itu terperanjat, tak faham dengan tingkahku. Dari raut mukanya aku tahu dia kaget dan heran. Seolah ribuan tanda tanya besar dan kecil berbagai bentuk dan warna berputar di atas kepalanya. Apalagi tangisku ikut meledak.

Sejenak, tangisku reda. Kulepas pelukanku. Satu demi satu tanganku terpisah dari punggungnya. “Apa kabar, Nak. Siapa namamu?” sapaku kemudian. “Alhamdulillâh. Saya baik-baik saja. Nama saya Karimah. Dan Anda, bagaimana kabar Anda? Sehatkah?”

“Saya juga, Nak,” jawabku kemudian. “Nona muda, saya mau minta maaf atas segala kesalahan saya selama ini.” Pintaku padanya penuh harap. “Maaf, Madam. Saya sungguh tak mengerti maksudmu. Madam, Madam salah apa?”

“Nak, sebenarnya selama ini aku berbohong padamu. Akulah pencuri tasmu itu, Nak. Maafkan aku, Nak. Maafkan.”

“Madam jangan merasa menyesal seperti itu. Saya sudah mengcopy buku dari teman. Madam jangan khawatir.” Jawabnya santun.

“Nak, aku ke sini hanya bisa mengembalikan buku karena tasmu telah raib dicuri orang, Nak. Dengan apa saya harus menggantinya? Maafkan saya, Nak.”

“Madam, saya tak butuh tas saya lagi. Saya hanya butuh buku diktat saya. Kalau Madam mengembalikan buku diktat saya saja, saya sangat senang sekali.” Gadis itu menjawab tanpa menyisakan gurat dendam sama sekali padaku.

Kusodorkan padanya buku diktatnya. Tersenyum ianya padaku. Aku merasa damai. Setelah itu, aku berlalu.

“Ya Madam, kemarilah, Madam!” gadis itu memanggilku kembali. “Ada apa, Nak.” Tukasku sambil terus mendekatinya. “Nggak, Madam. Saya hanya mau memberi ini.”

Dia mengeluarkan uang kertas dua puluh pound-an, disodorkannya padaku. Aku menolak. Namun gadis itu tetap memaksa dengan menyatukan ujung jarinya dan menggerakkannya di hadapanku pertanda memohon.

Aku tak mampu mengelak. Aku terima uang itu dan kucium kedua pipinya berkali-kali. Airmataku makin lama makin kurasakan semakin deras dan tak kuasa kutahan. Kubiarkan berlinang membanjiri wajahku. Aku berat meninggalkan rasa haru yang diam-diam menyelinap di kalbu. Andai dia merasakan apa yang kurasakan sekarang? Seandainya... Ya, seandainya...[]

Alih bahasa:
Izzayik : Apa kabar?
Madam : Sapaan dialek Mesir untuk Nyonya
Mama : Sapaan dialek Mesir untuk Ibu
Mushallâ li al-sayyidât : Mushallâ untuk perempuan

Read more...

Andai Takdir Berbisik

>> Kamis, Agustus 21, 2008

Plo…..k Sebuah benda terjatuh dari saku celana seorang pria ketika masuk sebuah tramco. Secepat kilat aku ambil benda itu. “Ups, gila. HP man,” gumamku. “Ya Ammu, ya ammu……”seruku sambil tetap berusaha mengejar tramco yang sudah terlampau jauh jaraknya dariku. Aku semakin bertanya-tanya tentang pemilik HP itu. Tanpa sengaja, inbox yang lupa ditutup oleh pemiliknya itu kubaca: MAS, AKU RINDU. MAS SEHAT KAN?"


Astaghfirullaha-l-‘adhiem. Apa yang tlah kulakukan? Ini kan aib orang. Aku tak tahu harus mencari ke mana pemilik HP itu. Akhirnya, aku coba miscall ke HPku siapa tahu kudapatkan nama sang pemilik di situ. Oh, God. Tidaaaaaaak. Ternyata si empu HP adalah Ustadz Yusron, sosok yang sangat kukagumi selama ini, seorang murobby sejati yang mampu membawaku menuju perubahan haqiqy. Ternyata aku tlah tertipu oleh wajahnya yang sejuk memancarkan cahaya-cahaya keimanan dan sinar-sinar kedamaian yang mampu meluluhlantakkan egoku. Sekarang, tinggal satu anggapanku padanya; KAMU PENIPU. Perhatian yang tertumpahkan dan nasehat yang selalu tercurahkan dari lisan laki-laki itu hanyalah kepalsuan.

Setibanya di rumah, fikiranku melayang tak tentu arah. Semua perasaan campur aduk. Malu, benci, dan sedih kuasai diri. Teringat selalu di benakku, masa-masa awal kedekatanku dengannya. Semula, kedatanganku ke bumi kinanah ini hanyalah untuk menghilangkan identitas sebagai seorang anak Kyai. Ya, ketika itu aku sudah muak dengan title anak Kyai yang selalu melekat pada diriku. Baju seksi dipadu dengan jeans ketat lengkap dengan jilbab gaulnya menjadi model favoritku saat itu. Berbagai pengajian yang ditawarkan Uni Ida –kakak seniorku- kutolak dengan berbagai alasan tak masuk akal. Hukum syar’i tentang ikhtilath laki-laki dan wanita sering kulanggar dengan dalih sudah nggak jamannya lagi.
---000---

"Dalam da'wahnya, Nabi Muhammad mengajak kita untuk selalu berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan sunnahnya. Al-Qur'an dengan bahasanya yang tersurat dan tersirat mampu meruntuhkan tembok-tembok kemungkaran, mampu menghancurkan tebing-tebing kebodohan dan mampu membawa pembacanya ke tempat yang diridloi Allah yaitu di surga. Teman-teman mau di surga kan?" tanya penceramah itu.

"Mau" jawab hadirin secara serentak.

"Gimana mau surga, kalau tiap hari di warnet saja. Gimana mau hidup di tempat yang nyaman, kalau kerjaannya cuma pacaran, tul nggak, saudara-saudara?" tanyanya kemudian. "betul" jawab para hadirin. Ceramah menarik yang terpaksa kuhadiri hanya untuk menunggu seorang Uni Ida menjadi pertemuan awalku dengan Ustadz Yusron. Wajah tampan dengan ilmu yang dimilikinya mampu membius relung hatiku yang sangat dalam. “Ini dia laki-laki perfect yang aku cari” fikirku ketika itu.

Sejak pengajian itu, aku berusaha mengorek info tentang Ustadz Yusron. Pengajian-pengajiannya selalu kuhadiri, tulisan-tulisannya di berbagai buletin senantiasa kubaca, bahkan gaya pidatonya selalu kuikuti. Baju seksi dan jeans ketat aku biarkan tersusun rapi di almariku. Style bajuku berubah menjadi gamis dengan jilbab khas Annida. Ya, aku harus berubah. ‘Kalau aku ingin mendapatkan laki-laki itu, aku harus berubah’ itulah tujuanku.

Masih terngiang-ngiang selalu nasehatnya padaku ketika Uni Ida membawaku ke FORMASI, yaitu lembaga bimbingan dan konseling mahasiswa Mesir yang ditangani oleh Ustadz Yusron. "Dalam hidup, kita dituntut untuk menerima kenyataan yang harus kita hadapi. Termasuk kenyataan pahit untuk terlahir sebagai anak Kyai, anak sopir taksi dan lain sebagainya. Namun yang paling penting Selly ketahui, bahwasanya semua orang di dunia ini bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maa-ktasabat. Nama orangtua yang baik, cukuplah kita jaga tanpa ada keinginan untuk menyamai. Selly jadi anak yang berakhlaq karimah, aktif di berbagai organisasi, berusaha meningkatkan diri, selalu hadir dalam setiap pengajian dan berbagai aktifitas lain yang bermanfaat itu sudah bisa dikatakan Selly bisa menjaga nama orangtua Selly. Yang paling penting Selly lakukan adalah meningkatkan diri di berbagai bidang tanpa beban nama orangtua. Nama orangtua Selly itu bukan tanggungjawab Selly untuk mengeksiskannya. Bahkan, keadaan hanya menuntut Selly untuk menjaganya," tuturnya ketika itu. Qolbuku yang keras bagaikan es mencair seketika. Siapa lagi kalau bukan karena laki-laki itu. Sejak itu pula, Ustadz Yusron sangat perhatian padaku. Aku sering dimotivasinya, dibangunkannya tahajjud, dibawakannya oleh-oleh dan lain-lain. Perhatian-perhatian yang diberikannya padaku, kuanggap sebagai perhatian sayang seorang kekasih kepada kekasihnya. Aku mabuk dibuatnya. Aku yang dulu masyhur dengan sebutan anak nakal karena gaya hidup yang nggak pernah nyar’i berubah drastis menjadi anak alim. Aku yang pasif menjadi aktif. Aku yang suka menghabiskan waktu buat hura-hura, berubah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

---000---

Lamunanku buyar seketika setelah tiba-tiba seseorang menepuk bahuku.. Kutatap wajahnya barang sejenak. “Oh, Reni,” tuturku kemudian. " Ada apa Sel?" tanya Reni padaku. Aku tetap saja terdiam tanpa daya kekuatan tuk menjawab. Bibir ini kelu dan kaku seolah membeku oleh dinginnya salju pengkhianatan laki-laki arif itu. Tanpa sengaja, airmata berlinang dari kedua kelopak mataku. Aku tak mampu membendungnya. Reni menatapku pilu. Didekapnya tubuhku dan diusapnya airmata yang membanjiri roman wajahku. Aku menangis sesenggukan.

Tak lama kemudian, kulepas dekapannya. "Ren, kamu mau kan aku ajak ke FORMASI?" pintaku padanya. "Tapi, kenapa Sel?" tanya Reni.

"Ustadz Yusron penipu, Ren. Ternyata dia tidak sealim yang aku bayangkan. Betapa tidak, ada SMS mesra dari seorang wanita untuk dia. Mau ditaruh mana mukaku, Ren.

Aku harus bagaimana, Ren?" curhatku kemudian.
"Gini aja, Sel," sambil menggenggam erat-erat kedua tanganku, Reni melanjutkan ucapannya, "Kamu nggak perlu ke sana. Telefon aja beliau. Tapi, ngomongnya yang pelan ya?" ajak Reni dengan sangat bijak.
Nomor demi nomor kutekan. Sesaat kemudian, “Hallo, dengan pusat bimbingan dan konseling FORMASI di sini.
Ada yang bisa kami bantu?” tutur seorang laki-laki di seberang.
“Hallo, Assalaamu’alaikum. Bisa bicara dengan Ustadz Yusron?"
"Wa’alaikumussalaam. Oh, ya benar. Saya sendiri Yusron. Ini siapa ya?"
"Saya Selly, Ustadz."
"Oh, ya. Sehat Sel?"
"Alhamdulillaah, Ustadz. Ustadz, boleh saya bertanya?"
"Ya ya. Boleh boleh. Ada apa Sel?"
"Begini Ustadz, Ustadz kehilangan HP ya?"
"Ya, benar. Kenapa?"
"Saya yang menemukan, Ustadz."

Sejenak kemudian, Ustadz Yusron terdiam dan aku semakin dibuatnya penasaran. Aku balik bertanya, "Kenapa Ustadz diam? Sebelumnya, saya minta maaf, Ustadz. Tanpa sengaja, saya membaca SMS yang sudah terbuka sebelumnya. Di situ saya membaca SMS dari seorang wanita. Kalau boleh saya tahu, siapa wanita itu Ustadz?"

Ustadz Yusron yang sejak tadi diam seribu bahasa akhirnya menjawab, "Wanita itu adalah istriku, Sel.” Aku terkejut dengan ucapan laki-laki itu. Kedua kelopak mataku mulai berkaca-kaca.

“Maaf kalau aku tidak pernah cerita ke kamu. Saya menikahinya setahun yang lalu. Sebulan lagi, dia akan menyusulku ke sini. Maafkan aku, Sel!" jelas laki-laki itu padaku.

Aku bertanya kembali, "Trus, kenapa Ustadz tidak pernah cerita ke saya? Dan kenapa Ustadz sangat perhatian kepada saya?" Airmata yang tadi hanya tertahan di kedua kelopak mataku tumpah seketika.

"Maaf, Sel. Aku kira kamu sudah tahu. Kalaulah aku memberi perhatian kepadamu, itu karena aku dan Ida ingin membuatmu berubah. Maaf, kalau ini adalah bagian dari rencanaku dan dia. Ida sendiri adalah adik iparku. Selama ini, dia sering curhat dan memintaku untuk membuatmu berubah. Karena dia sadar bahwa kamu adalah masa depan pondokmu yang juga pondok yang selama ini mendidiknya. Masa depan pondokmu ada di tanganmu, Sel. Maka dari itu, aku berusaha meyembunyikannya hingga waktu itu tiba. Namun, kamu dah tahu dulu sebelum aku cerita. Maafkan aku, Sel. Maafkan Dek Ida juga, ya?" pinta Ustadz Yusron.

Aku hanya terdiam mematung tak kuasa menjawab. Aku tak tahan. Secepat kilat, kututup receiver telefon. Aku berlari menuju kamarku. Perlahan, kubuka diary yang setia menemani memory kehidupanku di bumi anbiya' ini. Kugoreskan pena tuk luapkan suara hati ini…….

ANDAI TAKDIR BERBISIK

Andai takdir berbisik....
kabarkan diri yang kan terjadi nanti

Andai takdir berbisik....
kekecewaan takkan kumiliki

Andai takdir berbisik....
Kan kupenuhi hari dengan kebahagiaan diri

Andai takdir berbisik....
kubersiap diri tuk terima lara hati
tanpa sakit hati
tanpa sedihkan diri
tanpa derita menguasai

Namun takdir hanya Allah yang tahu...
hanya Dia yang paling mengerti...

Astaghfirullaaha-l-'adhiem....
Lara diri tuk beandai-andai

Ah....
kenapa kuberharap seperti ini?

Takdir adalah kekuatan
Takdir adalah dorongan
Takdir adalah kebaikan

Karena takdir, aku kuat....
Karena takdir, aku tabah....
Karena takdir, aku tegar....

Jangan...!
Jangan karena satu batu, kau tersungkur!
Jangan karena satu masalah, kau hancur!
Jangan karena satu penderitaan, kau gugur!

Ingat, Selly!
Masalah bukanlah suatu masalah apabila kau tak jadikannya sebagai masalah. Yang lalu biarlah berlalu, songsong hidup yang baru. Sekarang, solusi terbaik buatmu hanya satu : BE YOUR BEST! Jadilah sisi terbaik dari dirimu. Okey? Kamu bisa!!!
Ingat!
Jangan jatuh...!
Jangan hancur...!
Jangan gugur...!

Allahu akbar…allahu akbar…..suara adzan maghrib memaksaku berhenti dari menulis diary. Sesegera mungkin, kuambil air wudlu dan kutemui Dzat Yang Maha Pengasih. Dalam sujudku, kupanjatkan do'a pada-Nya: Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang meniatkan kebaikan kepada selain-Mu. Ampunilah aku yang tlah menduakan-Mu. Ampunilah diriku yang mengharapkan cinta sejati dari selain-Mu. Karena sesungguhnya Engkau adalah Maha Yang Memiliki cinta sejati. Ya, cinta sejati itu adalah milik-Mu.


Read more...

  © Blogger template Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP