<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675</id><updated>2011-04-22T05:21:03.754+02:00</updated><category term='My Researches'/><category term='My Stories'/><category term='My Opinions'/><category term='My Articles'/><category term='My Emotions'/><category term='My Diaries'/><category term='My Books'/><title type='text'>Be Your Best</title><subtitle type='html'>Berani Hidup Tak Takut Mati, Takut Mati Jangan Hidup, Takut Hidup Mati Saja</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>28</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-7099536649274220383</id><published>2009-04-15T01:09:00.016+02:00</published><updated>2009-04-15T01:40:49.144+02:00</updated><title type='text'>We Moved...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://dhoriefah.co.cc/"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 414px; height: 205px;" src="http://dhoriefah.co.cc/pindah.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bagaimana kabar sahabat semua? Sahabat, tersebab beberapa alasan, blog ini berpindah alamat ke &lt;a href="http://dhoriefah.co.cc/"&gt;http://dhoriefah.co.cc&lt;/a&gt;. Postingan-postingan dan ide-idenya masih tetap. Hanya revisi fisik sedikit kami lakukan, sekedar mendatangkan suasana baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga sahabat-sahabat menikmati postingan blog terbaru saya! Saran dan kritik dari sahabat semua teramat saya harapkan. Terima kasih atas segala perhatian. Selamat berkunjung ke &lt;a href="http://dhoriefah.co.cc/"&gt;http://dhoriefah.co.cc&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-7099536649274220383?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/7099536649274220383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=7099536649274220383' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/7099536649274220383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/7099536649274220383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2009/04/we-moved.html' title='We Moved...'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-2625594275215312745</id><published>2009-02-06T19:33:00.002+02:00</published><updated>2009-02-06T20:00:31.302+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Articles'/><title type='text'>Ketika Arkoun Berbicara tentang Modernitas</title><content type='html'>A. Prolog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya produktif manusia selalu mengalami perubahan setiap zamannya. Ketika generasi terdahulu kita berhadapan dengan zaman pra sejarah, banyak peninggalan-peninggalan pra sejarah yang pada masa kini kita mengaanggap sebagai suatu hal yang sepele. Sebut saja alat pemotong daging hewan mangsaan yang pada awalnya adalah batu lonjong, kemudian berangsur-angsur berubah sedikit demi sedikit menjadi batuan lancip hingga pada akhirnya kita menemukan alat pemotong pisau.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa dipungkiri, hal seperti ini selain sering terjadi pada produk karya manusia, ternyata juga menyentuh ranah pemikiran filsafat dan berbagai objek ilmu pengetahuan. Ketika para terdahulu kita mempercayakan warisan berbagai macam peninggalan ilmiah tertulis –yaitu turas- akan tetapi di lain pihak fenomena modernisasi turut juga menuntut kita untuk mampu mengkolaborasi pemikiran Islam terdahulu supaya tetap eksis pada masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah proses komparasi turas Islam dan modernitas tersebut, hadir sosok Arkoun yang merupakan salah satu corong pembaharu pemikiran Islam selain Muhammad Âbid al-Jâbirî, Hasan Hanafi, Adonis, Muhammad Abduh dan lain-lain. Dibanding dengan yang lain, sosok Arkoun lebih terkenal bernyali memasukkan antropologi aplikatif di tubuh Islam. Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak tawaran modernitas Arkoun yang diwujudkan dalam bentuk beberapa karya kolaborasi stimulan intelejensi dan nurani seorang Arkoun.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Selayang Pandang Perjalanan Hidup Sang Modernis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria ini dilahirkan di Tawrit Maimun salah satu provinsi besar Aljazair pada tahun 1928. Selepas menamatkan jenjang sekolah menengah atasnya di Wahran, Arkoun meneruskan pendidikannya di Aljazair kemudian terbang ke Perancis hingga meraih gelar Doktor dari Univesitas Sorbone pada tahun 1969. Sampai saat ini, sang modernis masih menjadi guru besar di Universitas Sorbone pada mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam. Beberapa karya beliau yang melanglangbuana di dunia pemikiran Islam antara lain;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Insiyah al-‘Arabiyah fî al-Qarn al-Râbi’ al-Hijrî (pada tahun 1970)&lt;br /&gt;2. Min Ajli Naqd al-‘Aql al-Islâmî (pada tahun 1984)&lt;br /&gt;3. Al-Islâm; al-Akhlâq wa al-Siyâsah (pada tahun 1986)&lt;br /&gt;4. Âfâq Musyarra’ah ‘alâ al-Islâm (pada tahun 1989) [2] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pendekatan Sosio historis dan Filosofis terhadap Modernitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Pengertian dari Modernitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti terma linguistik Perancis, modern memiliki nilai historis yang muncul terlebih dahulu dibanding modernitas. Istilah modern berkembang pada akhir abad kelima Masehi sedangkan istilah modernitas barulah dipergunakan pada abad ke 19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah Budlier menyimpulkan bahwa modernitas merupakan jalan menuju pesona eksotik di setiap trend masyarakat yang mengalami perubahan di setiap fase-fasenya, tentunya hal ini lebih terkait pada nilai artistik saja. Kemudian, akan timbullah pertanyaan di benak kita bersama maksud daripada modernitas dalam ruang lingkup nilai filosofis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemikir-pemikir brilian dunia sulit mencapai kata sepakat dalam menentukan maksud modernitas dari segi nilai filosofis. Akan tetapi hal ini tidak menyurutkan langkah kita untuk menentukan beberapa perwajahan dan karakteristik umum modernitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, modernitas lebih bersifat universal yaitu bahwasanya ranah yang disentuh modernitas tidak hanya menyentuh salah satu aspek. Hal ini dikarenakan karena modernitas adalah perwajahan peradaban universal yang menyentuh segala aspek pendekatan humanis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, modernitas segendang sepenarian dengan taklid. Menurut Hebermes, “Modernitas selalu melewati fase sadar masa-masa yang sedang dijalaninya dan mengenal lebih jauh karakteristik era tersebut sehingga mampu mencapai transformasi budaya dari budaya lama ke budaya baru.”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, modernitas mempunyai keterkaitan dengan sejarah Eropa yang merupakan hasil  dari proyek aplikasi sadar sejarah bermula pada masa renaissance dan kodifikasi. Dari karakteristik ketiga ini, kita dapat menyimpulkan bahwa modernitas adalah proyek perwajahan peradaban yang dihasilkan dunia Barat dimulai pada pertengahan abad 19 dan merupakan hasil dari berbagai proses elaborasi termasuk di dalamnya aspek pemikiran, politik, ekonomi, religi dan sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, modernitas mampu menjadi pencerah peradaban dunia. Karena pada dasarnya, aspek globalisasi merupakan salah satu dari nilai esensial proses modernitas. Salah satunya adalah dengan berkembangnya teknologi sebagai sarana audio-visual yang telah melewati fase produktifitas manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, modernitas mampu mengkritisi fenomena yang terjadi di sekitarnya. Salah seorang pakar riset berkata, “karakteristik terpenting modernitas adalah kemampuannya dalam mengkoreksi , mematangkan dirinya dan mengatasi problematika yang belum terfikirkan sebelumnya.             &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pendekatan Sosio-historis Modernitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan pakar sejarah masa kini dan abad pertengahan menyadari bahwa modernisasi muncul karena adanya berbagai macam peristiwa-peristiwa bersejarah seperti jatuhnya konstantinopel tahun 1453 dan ditemukannya benua Amerika tahun 1492. Pada masa-masa tersebutlah masyarakat Eropa mulai meninggalkan masa pertengahan dan memasuki masa modernisasi yang telah berlangsung selama lebih dari tiga abad dan mampu menghasilkan beberapa fase modernisasi, di antaranya adalah, renaissanse di Italia, revitalisasi religi di Jerman, revolusi ilmu pengetahuan (ilmu falak khususnya), revolusi industri di Inggris dan revolusi Perancis. Pada dasarnya untuk lebih mengenal fase-fase tersebut, kita dapat mengidentifikasinya menjadi dua masa yaitu masa renaissance dan masa pencerahan. Untuk lebih jelasnya, kita akan mempelajari perwajahan politis masa renaissance dan masa pencerahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, perwajahan politis masa renaissance.  Istilah renaissance meluas ke ranah sejarah filsafat bercermin pada komunitas sosial dan filsafat Eropa –yang berawal dari renaissance Italia- ketika munculnya masyarakat borjuis pertama pada abad 15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui, renaissance tumbuh berkembang karena adanya dua gerakan pemikiran yang saling berkomplementasi, yaitu kecondongan humanisme dan ditemukannya ilmu-ilmu tabiat sebagai substitusi arah pandangan ketuhanan dalam rangka memahami manusia dan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode antara 1400-1600 telah diwarnai oleh pengaruh besar bidang artistik dan pembangunan, terbentuknya pemikiran modern, dan kembali pada contoh ideal tipe-tipe klasik. Karena, para penulis masa renaissance sering menyebut masa mereka dengan masa restorasi (restauration) yang lebih menitikberatkan kepada revitalisasi turas Yunani kuno.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, perwajahan politis masa pencerahan. Pada dasarnya, abad 17 memiliki dua keistimewaan. Yang pertama ditandai dengan munculnya metodologi eksperimental sedangkan yang kedua ditandai dengan ajakan untuk berfikir rasional dan peletakan dasar-dasar metodologi pemikiran.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kaedah Dasar Modernitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemikir filsafat sepakat menyatakan bahwa modernitas berdiri atas beberapa konsep pokok, utamanya adalah subyektifisme, rasionalisme, dan nihilisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Subyektifisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paham subyektifisme dianggap sebagai titik tolak adanya teori modernitas karena pada akhirnya modernitas telah menjadi ikon prioritas dan kemenangan suatu subyek bahkan hasil akhir suatu proses subyektifitas alam setelah sekian lama Eropa berselimutkan awan hitam abad pertengahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara hasil stabilisasi asas subyektifisme adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Eksistensi alam menjadi obyek yang semakin diamati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Surut dan terbenamnya pancaran ketuhanan di dunia setelah manusia terhegemoni oleh paham imperialisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Rasionalisme[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu paham yang menghendaki perkembangan ilmu pengetahuan dan membuka kedok fenomena abstrak koneksi manusia dengan alam hingga akhirnya modernitas bergumulan dengan hal-hal yang rasional dan menjauhi hal-hal yang tidak rasional. Paham ini berhasil memberikan kontribusi pada rasionalitas pemikiran ilmiah, rasionalitas pemikiran politis, rasionalitas diskursus sejarah, dan rasionalitas diskursus religius.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Nihilisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu diskursus yang menitikberatkan pada kealpaan wujud sesuatu yang bernilai mutlak termasuk di dalamnya peniadaan esensi mendasar suatu etika dan struktur nilai-nilai. Niestche menganggap bahwa paham ini menghendaki sesuatu yang bernilai tidak memiliki nilai. Artinya, apa-apa yang pada awalnya sudah menjadi landasan dan memiliki martabat tinggi perlu diberikan kesan nihil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang nihilisme berarti setuju atau bahkan memberikan posisi besar terhadap relativisme dan menganggap masyarakat sebagai rujukan utama peletak dasar kaedah penilaian sehingga kebaikan adalah apa-apa yang bermanfaat untuk masyarakat sedang keburukan adalah apa-apa yang merugikan keselamatan dan efektifitas masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ketiga asas dasar di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa arah pandangan filsafat berdiri atas tiga hal yaitu pandangan subyektifisme pada alam wujud, kecondongan rasionalisme pada ilmu pengetahuan dan diskursus, dan nihilisme dan relativisme pada penilaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tahap-tahap dan Stereotip Modernitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernitas tumbuh berkembang secara bertahap menyentuh berbagai ranah pemikiran dan memberikan saham besar dalam memutuskan hubungan dengan segala sesuatau hal yang bersifat taklid. Menurut Turaiki, modernitas adalah misteri yang dihadapi manusia baik menyentuh ranah politik, sosial maupun ekonomi.[6]  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek politik sering dianggap sebagai pemicu utama modernitas. Hal ini di samping karena politik merupakan salah satu karakteristik utama pemikiran modern juga karena aturan politiklah legitimasi taklid tersisihkan sehingga yang pada awalnya politik melulu tunduk pada kekuasaan berpindah haluan mentaati keputusan bersama masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernitas juga tampak pada aspek ekonomi yang antara lain berhasil menciptakan hak kepemilikan tiap pribadi, kebebasan lembaga keuangan, pembagian kerja, dan undang-undang pasar didukung oleh semakin tumbuh kembangnya kreatifitas dan berbagai penemuan ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya modernisasi pemikiran dianggap sebagai bukti konkret spirit modernitas dibandingkan tahap-tahap modernitas yang telah disebutkan sebelumnya. Muhammad Sabila misalnya, menjelaskan bahwa keistimewaan alam pemikiran terletak pada empat unsur yaitu,pengetahuan, manusia, alam dan sejarah yang saling berkait kelindan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa aspek modernitas di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwasanya pada dasarnya modernitas terletak pada dua hal yaitu modernitas materialistik dan modernitas intelektualistik. Wacana modernitas intelektualistik menempati posisi khusus dalam tubuh Islam. Hal ini karena modernitas intelektualistik mampu mewarnai kehidupan negara-negara Arab dan negara-negara Islam yanglebih mengajak pada improvisasi cara berfikir hingga mencapai taraf metode berfikir sempurna.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Kritik terhadap Pemikiran Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arkoun berpandangan bahwa untuk mengarahkan umat Islam kepada pola hidup berspirit modernitas, perlu adanya kritik terhadap masa lalu. Tentunya, apabila mengkritisi sejarah masa lalu, kita tidak akan terlepas dari mengkritisi cara berfikir manusia. Demikian halnya ketika akan mengajak umat Islam membelot dari aroma kehidupan rigid, dibutuhkan kritik terhadap pola pemikiran umat Islam itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendekatan terhadap Retorika Islam Terkini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arkoun dalam melakukan pendekatan retorika Islam cenderung menyamaratakan retorika Islam. Pada dasarnya Arkoun mengetahui aneka ria retorika Islam seperti halnya yang dilakukan ‘Abid al-jabiri yang membaginya menjadi tiga sekte bayani, burhani dan irfani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap kesempatan, Arkoun sering menyelipkan puspa ragam retorika Islam. Suatu ketika Arkoun ditanya tentang seberapa luasnya pengaruh retorika Islam terkini. Kemudian Arkoun menjawab bahwa pada dasarnya dirinya mengenal sosok-sosok pembaharu pemikiran Islam seperti ‘Abid al-Jabiri, Abdullah al-‘Urwi, Hisyam Ja’ith dan lain-lain, akan tetapi jumlah mereka masih sangat sedikit padahal setiap dari mereka mampu memberikan perubahan signifikan dan progresif di tubuh Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Arkoun, pembatasan kaedah-kaedah dasar pemikiran Islam tidak cukup hanya merujuk pada satu referensi saja akan tetapi di sana masih dibutuhkan sarana-sarana komunikasi seperti dialog, seminar, pengarahan bahkan media elektronik sekalipun. Hal ini dilakukan sebagai wujud proses pengarahan kontinyu dan berulang-ulang demi tercapainya pergerakan ajaran-ajaran Islam.[7] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengertian Pemikiran Islam dan Kaedah Dasarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berbicara lebih jauh tentang alam pemikiran Islam menurut Arkoun, perlu kita ketahui bersama bahwa diskursus pemikiran Islam bukanlah suatu hal yang bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat Islam, akan tetapi menyisakan berbagai macam polemik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polemik-polemik tersebut membutuhkan pentingnya pemulihan nama baik pemikiran Islam yang salah satunya ditempuh dengan cara mereview kembali maksud dari pemikiran Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pengertian Pemikiran Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembatasan pengertian pemikiran Islam menurut Arkoun tidak berkisar pada kesadaran atas pentingnya pemikiran Islam atau berkisar pada cara berfikir Aristoteles akan tetapi ditekankan pada aspek sadar sejarah.[8] Kalaulah alam pemikiran Islam dihubungkan dengan aspek sadar sejarah, lantas sejak kapankah pemikiran Islam menjadi problemayika menarik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arkoun menilai bahwa pemikiran Islam mendapat perhatian pertama kali ketika dilansirnya kitab Risâlah Imam al-Syâfi’î. Karena sebelum Imam al-Syâfi’î berbicara tentang ilmu Usul Fikih pada kitab al-Risâlah, para ulama usuli kala itu belum menggunakan kaedah dasar yang bisa dijadikan rujukan dalam menentukan hukum fikih. Hingga akhirnya, muncullah Syâfi’î sebagai pemrakarsa berdirinya ilmu Usul Fikih yang dapat dijadilkan rujukan istinbat hukum.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada daftar isi kitab al-Risâlah, secara garis besar Imam al-Syâfi’î membagi judul tiap-tiap bab dengan menampilkan supermasi tingkat tinggi hukum Islam yang menempatkan posisi al-Qur’an sebagai supermasi kekuatan Tuhan yang bertingkat tinggi. Kemudian menempatkan Sunah sebagai supermasi kekuatan Nabi yang selanjutnya disusul ijma’, qiyas dan istihsan sebagai hasil ijtihad manusia hasil proses kristalisasi al-Qur’an dan Sunah.[10] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasr Hamid Abu Zaid menyimpulkan bahwa Imam al-Syâfi’î tidak melepas qiyas demi efektifitas akal. Dalam reproduksi qiyas, qiyas memiliki beberapa persyaratan yang menjadikan qiyas sebagai salah satu perangkat istinbat hukum yang terbatas dengan batasan-batasan hukum asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kita dapat menemukan salah satu keistimewaan pemikiran Islam yang bergerak dalam ruang lingkup pengetahuan siap terap dan mampu berkarya dalam menemukan kebenaran ilmu bersandar pada nash-nash kitab suci. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa pemikiran Islam adalah pemikiran yang tunduk pada kitab suci.[11]         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Epistema Pemikiran Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epistema versi Arkoun adalah aturan pemikiran universal yang mampu mengontrol setiap periode ilmu baik secara implisit, eksplisit maupun secara arkeologis. Dalam keterkaitannya dengan pemikiran Islam, secara garis besar, maksud dari epistema pemikiran Islam mencakup sekumpulan kaedah-kaedah dan hipotesa-hipotesa yang dipergunakan pemikiran Islam secara implisit dalam memproduksi pemikiran pada masa-masa tertentu dan meletakkan pondasi pemikiran bertaraf tinggi yang proses pembentukannya tidak tampak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, unsur-unsur pondasi pemikiran Islam –berkaca pada kitab al-Risâlah- Imam al-Syâfi’î menyandarkan pemikirannya diawali dengan penguasaan bahasa Arab dan didukung oleh realita yang menitikberatkan power mu’jizat al-Qur’an di mana manusia tidak akan mampu mengubahnya. Kemudian Imam al-Syâfi’î mengajak kita untuk bersama menyadari realita keberadaan Sunah sebagai wujud ketaatan pada Rasul sebagaimana telah diperintahkan Allah dalam al-Qur’an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arkoun akhirnya menyimpulkan bahwa metode pemikiran Imam al-Syâfi’î berdiri di atas sekumpulan kaedah yang menghegemoni etika Islam dimulai masa Imam al-Syâfi’î hingga masa kini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode yang dipergunakan Imam al-Syâfi’î tersebut memiliki beberapa epistema pemikiran Islam, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tidak membedakan antara aspek mitos dan aspek sejarah.&lt;br /&gt;2. Memposisikan muslim lebih mulia daripada non muslim.&lt;br /&gt;3. Mensucikan bahasa Arab dan menganggap bahwa esensi tunggal al-Qur’an kembali pada Allah.&lt;br /&gt;4. Para sahabat merupakan generasi istimewa Nabi karena mampu mengajarkan al-Qur’an dan Sunah dengan penuh ketelatenan, ikhlas dan teliti. &lt;br /&gt;5. Syariat Islam merupakan tangan kanan al-Qur’an dan Sunah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah di antaranya beberapa epistema pemikiran Islam. Oleh karena metodologi pemikiran Islam Arkoun menitikberatkan untuk kembali pada masa kini, tentunya Arkoun menginginkan adanya keseimbangan antara pemikiran Islam dan pemikiran modern yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pemikiran Islam dan Pemikiran Modern&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam –menurut Arkoun- bukanlah eksistensi esensial yang tidak dapat berubah pada sejarah perjalanannya dan bukan pula tidak terpengaruh terhadap segala sesuatu atau akan mempengaruhi segala sesuatu sebagaimana dipahami sebagian besar ulama. Itu berarti Islam adalah hasil dari proses sejarah yang puspa ragam sosio-kulturalnya dimulai dari Indonesia, Iran hingga Maroko. Akhirnya, Islam dalam prakteknya tidak selamanya bisa dijadikan sebagai proyek percontohan. Sehingga secara garis besar, Arkoun menganggap bahwa Islam tidak sempurna selamanya dan perlu mengadakan restrukturisasi batas-batas pemahaman Islam dengan berkaca pada persesuaian sejarah sosial dan peradaban serta meninjau ulang setiap periode kesejarahan akan tetapi harus tetapi tetap harus bersumber pada unsur-unsur pembentukan Islam puritan (al-Qur’an, Sunah, Faraidh, dan lain-lain). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, dapat kita tarik benang merah bahwa Arkoun memandang pembaharuan pemikiran Islam berakibat pada tuntutan liberasi sebagai starting point pemikirannya dan dapat diterima kembali dengan cara mengkritisi pengetahuan-pengetahuan yang dimilikinya, menghindari pemikiran dogmatis, dan cara pandang ortodok yang selama ini menggerogoti tubuh Islam.[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Kritik Atas Arkoun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mempelajari beberapa pemikiran Arkoun terhadap dunia Islam secara singkat di atas, terdapat beberapa kritik atas Arkoun yang dilakukan oleh beberapa pemikir Islam. Di antara kritik atas Arkoun tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ketika Arkoun mengkritisi pemikiran Islam dengan berpegang pada pemikiran Kant, Arkoun hanya menyebutkan bahwa pemikiran Islam adalah pemikiran yang memiliki kecenderungan-kecenderungan tanpa perlu adanya penafsiran panjang. Sementara itu, Kant sendiri membagi akal menjadi tiga bagian, yaitu akal murni yang memerintahkan kita untuk berfikir, akal praksis yang memerintahkan kita untuk berbuat, dan akal artistik yang memerintahkan kita untuk memiliki kecenderungan. Dengan demikian, dapat kita simpulkan Arkoun terlalu cepat mengambil keputusan bahwa pemikiran Islam lebih condong kepada akal kecenderungan (akal artistik) dan melupakan akal  perspektif Islam khususnya apabila dikaitkan dengan retorika ilmiah Islam. Lantas, di mana posisi ilmu kedokteran, teknik, aljabar dan lain lain ketika dikaitkan dengan kritik pemikiran Islam Arkoun? Dan apakah hal ini mengarah pada ajakan untuk memisahkan pemikiran ilmiah Arab dari agama mereka?[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketika menjelaskan tentang pemikiran usuli kitab Rîsalah Imam al-Syâfi’î, Arkoun tidak menjelaskan lebih dalam penelitiannya tentang konsensus ulama. Padahal realita membuktikan bahwa konsensus merupakan salah satu asas usul fikih walaupun hanya menempati posisi ketiga setelah al-Qur’an dan Sunah. Di samping itu, dia tidak menjelaskan bahwa konsensus telah mengalami perjalanan sejarah panjang dimulai dari zaman Khulafâ al-Râsyidîn hingga silang pendapat para ulama seputar batasan-batasan konsensus itu sendiri. Ini berarti, Arkoun melupakan aspek sejarah yang dilalui proses Ijma’. Dan bagaimana dia dapat mengkritisi pemikiran Islam tanpa berpijak pada proses asasi ini?[14] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ketika berbicara tentang nihilisme, Arkoun –dan mungkin pembaharu lain- mengajak kita untuk tidak memberikan penilaian benar atas suatu yang kita anggap benar sebelumnya. Sehingga hal seperti ini dapat menimbulkan relativisme kebenaran pada kehidupan. Padahal Islam datang dengan membawa nilai-nilai kebenaran. Umat Islam bila bersikap eksklusif terkadang wajib, merasa benar sendiri terkadang wajib, skeptis terkadang halal dan terkadang haram, berani menanggung semuanya itu, dan itu adalah wajib. Islam itu modern. Yang mengatakan tidak modern dialah yang tidak modern. Semua ciri kemodernan ada di dalam al-Qur’an kalau kita menelaahnya dengan baik.[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Epilog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, fenomena dogmatif di tubuh Islam perlu bahkan wajib. Oleh sebab itulah untuk masuk ke ranah dunia Islam, kita diperintahkan untuk bersyahadat bukan untuk bersumpah bahkan untuk mengetahui saja. Karena bersyahadat memiliki tanggungjawab kompleks, yaitu terhadap Islam umumnya dan terhadap Allah khususnya apalagi yang lebih urgen adalah tanggungjawab terhadap dirinya sendiri. Lain halnya dengan sumpah atau sekedar tahu bahwa dirinya seorang muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, untuk mengakui Islam sebagai agama Allah dan kita adalah hamba Allah yang bersaksi atas keesaannya, kita acap kali diperintahkan mengucapkan Lâilâha illa Allah dan bukan al-Ilâhu Allâh. Ini berarti bahwa kita bersaksi bahwa Tuhan –yang lain- selain Allah itu mutlak tidak ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan modernisasi di tubuh Islam memang sudah banyak digencarkan dan pada hakikatnya, di tubuh Islam terdapat sisi modernitas. Tergantung bagaimana seorang muslim menyikapinya dan menelaahnya dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arkoun menurut sebagian pemikir muslim mungkin dinilai sebagai salah seorang pembaharu pemikiran Islam tetapi di lain pihak, dia juga dinilai sebagai orientalis berjubah muslim. Pemikirannya pun sangat sulit dipahami dikarenakan kemampuannya dalam menggunakan istilah-istilah terbaru yang sesuai dengan sosio-kultural masyarakat kini dan mengadopsi beberapa pemikiran Barat yang selama ini jauh akan sentuhan umat Islam. Oleh sebab itu, dalam rangka menghadapi virus akut atau –mungkin- parfum wangi modernitas versi Arkoun di tubuh Islam, sudah seharusnya kita lebih hati-hati dalam mengkomparasikan yang mana seharusnya kita terima dan mana yang seharusnya kita tinggalkan. Waspadalah! Waspadalah! Wallâhu a’lamu bi al-Shawâb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Makalah ini disampaikan pada Kajian Salsabila Study Club, Kairo, Mesir tanggal 02 November 2007  &lt;br /&gt;[2] Muhammad Arkoun, et.al., al-Islam wa al-Hadâtsah, Dâr al-Sâqî, London, hal. 418.  &lt;br /&gt;[3] Farih Masrahi, al-Hadâtsah fî fikr Muhammad Arkoun, Arab Scientific Publishers, Inc, Aljazair, hal 22. &lt;br /&gt;[4] Ibid., hal. 31.&lt;br /&gt;[5] Rasionalisme adalah suatu faham yang mengemukakan bahwa sumber pengetahuan manusia ialah pikiran, rasio, dan jiwa manusia. (H. Endang Saifuddin Anshari M.A, Ilmu, Filsafat dan Agama, Penerbit PT Bina Ilmu, Surabaya, hal. 91)&lt;br /&gt;[6] Fârih Masrahî, Op.Cit., hal. 43.&lt;br /&gt;[7] Ibid., hal. 56.&lt;br /&gt;[8] Menurut Arkoun, “pemikiran Islam tidak hanya berkisar pada terma-terma alam pemikiran baik secara khusus maupun secara keseluruhan. Karena diskursus tentang hal tersebut tidak akan selesai pada taraf tertentu karena pada dasarnya aspek sadar sejarah sangat sulit menentukan awal dan akhir dari suatu peristiwa.     &lt;br /&gt;[9]Farih Masrahi, Op.Cit., hal. 65.&lt;br /&gt;[10] Ibid., hal. 66.&lt;br /&gt;[11] Ini berarti bahwa akal selamanya patuh kepada perintah wahyu dan dalam memahami nash-nash Tuhan pun, kita harus bersandar pada pemahaman yang benar terhadap al-Qur’an. Pada akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa kita menemukan kembali salah satu keistimewaan pemikiran Islam yaitu adanya pemikiran dogmatif. &lt;br /&gt;[12] Fârih Masrahî, Op.Cit., hal. 82-83. &lt;br /&gt;[13] Al-Fajjârî, Muhtar, Naqd al-‘Aql al-Islâmî ‘inda Muhammad Arkoun, Dâr al-Thalî’ah, Beirut, hal. 111.&lt;br /&gt;[14] Ibid., hal. 150-151.&lt;br /&gt;[15] Hasan Abdullah Sahal, makalah yang berjudul “Islam Eksklusif”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Fajjârî, Muhtar, Naqd al-‘Aql al-Islâmî ‘inda Muhammad Arkoun, Dâr al-Thalî’ah, Beirut, 2005.  &lt;br /&gt;2. Anshari, Endang Saifuddin, M.A, Ilmu, Filsafat dan Agama, Penerbit PT Bina Ilmu, Surabaya, 1979.&lt;br /&gt;3. Arkoun, Muhammad, et.al., al-Islam wa al-Hadâtsah, Dâr al-Sâqî, 1960.&lt;br /&gt;4. Masrahî, Farih, al-Hadâtsah fî Fikr Muhammad Arkoun, Arab Scientific Publishers, Inc, Aljazair, 2006.&lt;br /&gt;5. Sahal, Hasan Abdullah, makalah yang berjudul “Islam Eksklusif”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-2625594275215312745?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/2625594275215312745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=2625594275215312745' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/2625594275215312745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/2625594275215312745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2009/02/ketika-arkoun-berbicara-tentang.html' title='Ketika Arkoun Berbicara tentang Modernitas'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-4552671255519505793</id><published>2009-01-04T15:14:00.002+02:00</published><updated>2009-01-04T15:19:21.654+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Articles'/><title type='text'>Hakikat Penciptaan Kaum Hawa</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kuasa “Teks” atas Pencitraan Subordinasi Kaum Perempuan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskursus gender terlahir karena menimbang fakta riil bahwa subordinasi terhadap kaum Hawa merupakan faktor determinan bagi pendukung proyek ketidakadilan gender.[1] Sikap diskriminatif terhadap kalangan perempuan, galibnya, terlahir atas minimnya pengakuan dan apresiasi masyarakat terhadap kemampuan kaum perempuan dan eksistensinya sekaligus. Ironisnya, pelbagai pendapat para filosof dan tokoh terkemuka mengenai problematika dan isu-isu faktual yang digulirkan turut mengangkat pamor subordinasi perempuan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Misalnya pernyataan Voltaire. Dalam buku Mu’jam al-Falsafah, dia bertutur,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ketika kami merujuk al-Qur’an berdasar interpretasi ulama yang tak masuk akal, kami meyakini bahwa al-Qur’an tak berisikan interpretasi semacam ini. Anehnya, banyak penulis kita yang dengan mudahnya mengemukakan bahwa Muhammad menempatkan perempuan sebagai hewan pemilik kecerdasan. Dan dalam timbangan syariat, mereka serupa hamba sahaya yang tak berhak memiliki kebahagiaan di dunia. Dan tak mendapat posisi di akhirat kelak. Tak dinyana, asumsi ini terang benderang ialah asumsi yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sayangnya, banyak manusia yang mempercayai.”&lt;/span&gt;[2]&lt;br /&gt;                                             &lt;br /&gt;Naguib al-Raihani berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Perempuan adalah suatu elemen yang tanpa eksistensinya pun, kehidupan akan tetap berjalan. Fakta ini merujuk pada perilaku kehidupan Adam yang tetap eksis sejak awal penciptaan. Bahkan sebelum diciptakannya Hawa.”&lt;/span&gt;[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan dalil-dalil agama, baik al-Qur’an maupun hadits Nabi Saw. yang diinterpretasikan tidak secara tepat, merupakan salah satu pendukung ketidakadilan gender tersebut. Pelbagai hadits misoginis lebih kerap nyaring terdengar dibanding hadits yang menyebut keberpihakan Islam terhadap kaum perempuan. Tak pelak, perilaku diskriminatif terhadap perempuan makin merajalela di masyarakat. Padahal, kedatangan Nabi dengan membawa ajaran-ajaran al-Qur’an dan Hadits, dalam berbagai aspek, justru dimaksudkan untuk mengangkat peran serta melakukan pembelaan hak-hak perempuan di masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila menelisik teks-teks agama, kita akan menemukan beberapa ayat al-Qur’an dan hadits yang “dicurigai” bertendensi misoginis. Di antara teks-teks tersebut, akan kita temukan teks yang secara implisit dianggap menguraikan kisah penciptaan perempuan. Kisah penciptaan perempuan menjadi sedemikian penting untuk dipelajari karena terkait realitas bahwasanya akar permasalahan subordinasi kaum perempuan bercokol pada bagaimana agama (Islam) memposisikan perempuan. Jika demikian faktanya, maka untuk mengurai gejala subordinatif atas kaum perempuan mensyaratkan pemahaman yang utuh (clear) atas kisah asal muasal kejadian perempuan. Terlebih hal ini didukung adanya beberapa interpretasi berbeda para ulama terhadap teks kisah penciptaan perempuan. Salah satu dampak keberadaan interpretasi yang beragam adalah munculnya penafsiran yang kurang tepat. Bila kenyataan semacam ini terjadi, maka akan menyulut subordinasi kaum perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mempelajari cerita penciptaan perempuan, penulis berharap kekurangtepatan interpretasi terhadap teks yang mencuatkan adanya anggapan ketidakberpihakan Islam terhadap perempuan, secara gradual akan terhapus. Dan menenangkan pada setiap perempuan, betapa agama kita sangat agung dan bersikap baik dalam memposisikan perempuan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Teks Asal Muasal Kejadian Perempuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teks yang mengkisahkan kejadian perempuan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Allah dalam surat al-Nisâ’ ayat 1 berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang artinya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripadanya keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Dalam suatu riwayat, al-Suddî meriwayatkan dari Abû Shâlih dan Abû Mâlik dari Ibn ‘Abbâs dan dari Murrah dari Ibn Mas’ûd dan dari sekelompok sahabat bahwa: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Allah SWT mengusir Iblis dari surga dan mengizinkan Adam untuk tinggal di dalamnya. Di dalam surga, Adam merasa kesepian dan terasing karena tidak ada istri yang menemaninya. Untuk itu Allah membuat Adam tertidur dan ketika bangun, ia mendapati seorang perempuan yang telah diciptakan Allah dari tulang rusuknya. Kemudian Adam bertanya kepada Hawa: “Kamu ini siapa?”, Hawa menjawab, “Aku seorang perempuan.” Adam bertanya kembali, “Mengapa kamu diciptakan?” “Untuk menemanimu di surga ini”, jawab Hawa. Mengingat pengetahuan yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada Adam, maka para malaikat bertanya padanya, “Siapa nama perempuan itu, Adam?” Adam menjawab: “Hawa Sang Kehidupan.” Para malaikat berkata, “Mengapa Hawa?” “Karena ia diciptakan dari zat yang hidup.””&lt;/span&gt;[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   3. Diriwayatkan dari Ibn Kuraib dan Musa Ibn Hizâm dari Husain Ibn ‘Ali dari Zâidah dari Maisarah al-Asyja’î dari Abî Hâzim dari Abû Hurairah, Nabi bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Saling wasiat mewasiatilah untuk berbuat baik kepada perempuan. Karena mereka itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika engkau mencoba meluruskannya maka engkau akan mematahkannya, dan jika engkau membiarkan apa adanya maka ia akan tetap bengkok. Jadi saling wasiat mewasiatilah untuk berbuat baik kepada perempuan."&lt;/span&gt;[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pembahasan dari Tiap-Tiap Teks al-Qur’an dan Hadits&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Surat al-Nisâ’ ayat 1: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang artinya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripadanya keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an secara eksplisit tak menjelaskan esensi nafs wahidah. Dan tentu wajar, jika pendapat para ulama pun lantas terasa simpang siur dan penuh dengan aneka hipotesa. Apabila kita bersafari, puspa ragam buku-buku tafsir mu’tabar semisal tafsîr al-Qurthubî,[6] al-Kasysyâf karya al-Zamakhsyarî,[7] tafsîr Ibn Katsîr,[8] tafsîr al-Râzî,[9] tafsîr al-Thabarî,[10] dan tafsîr Rûh al-Ma’ânî karya al-Alûsî,[11] niscaya kita temukan mayoritas berpendapat bahwa nafs wahidah di sini berarti Adam. Lebih lanjut, Wahbah Zuhaylî menguraikan dalam tafsirnya, kata minhâ bermakna dari bagian tubuh Adam yaitu tulang rusuk. Sedang lafal zaujahâ berarti pasangan Adam yaitu Hawa.[12] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mufassir lain menyodorkan analisis yang tak sama. Kalangan mufassir ini menyebut nafs wâhidah sebagai jenis manusia laki-laki dan perempuan. Pendapat kedua ini, secara nyata disampaikan para ulama seperti Mutawallî al-Sya’râwî[13], Rasyîd Ridhâ[14], al-Bahî al-Khûlî[15], Quraish Shihâb[16], Su’âd Ibrâhîm Shâlih[17], Nasaruddin Umar[18], dan Fatimah Umar Nâshif[19].   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, terbelahnya para ulama menjadi dua pendapat lebih karena berakar pada interpretasi atas potongan ayat “wa khalaqa minhâ”. Terutama dalam mengartikan kata minhâ. Apabila dikategorisasikan secara rinci, ada dua jenis model interpretasi yang dilakukan oleh sarjana Muslim:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.      “Darinya”, artinya dari Adam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat bahwa dhamir hâ yang dimaksud adalah Adam terlahir atas kisah yang beredar di masyarakat kala itu bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Râzî sendiri menyampaikan dalam tafsirnya,[20] “Mayoritas ulama mempercayai kisah ketika Allah menciptakan Adam, Adam ditidurkan. Kemudian diciptakannya Hawa dari tulang rusuk Adam sebelah kiri. Ketika bangun, Adam melihatnya. Adam lantas tertarik padanya dan menikahinya. Karena dia diciptakan dari bagiannya (Adam). Mereka menyandarkan penafsirannya pada hadits Nabi yang artinya, “Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Apabila kau berusaha meluruskannya, maka kau mematahkannya. Apabila kau membiarkannya, maka dia tetap saja bengkok tapi kamu masih bisa memanfaatkannya.” [21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petuahnya ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Ibn Katsîr, “Kita mengetahui dari kaum Ahl al-kitâb dan khususnya dari pengikut kitab Taurat, bahwa Adam ditidurkan. Kemudian Allah mengambil tulang rusuk kirinya dan menggantikannya dengan daging. Setelah itu Adam bangun dan mendapati istrinya (Hawa) yang telah Allah ciptakan dari tulang rusuknya. Ketika Adam terbangun dan mendapat Hawa di sampingnya, menurut kaum Ahl al-Kitâb, Adam berkata: “Dagingku, darahku, istriku.” Maka Adam mempercayai Hawa dan Allah memberkati penyatuan dan pernikahan mereka. Tetapi sebelumnya Allah berkata kepada Adam: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. al-Baqarah: 35)[22] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Muhammad Rasyîd Ridhâ memaparkan, sejatinya ide kelahiran Hawa dari tulang rusuk Adam berawal dari apa yang termaktub dalam Perjanjian Lama (Kejadian II: 21-22) yang menyatakan, “ketika Adam tidur lelap, maka diambil oleh Allah sebilah tulang rusuknya, lalu ditutupkannya pula tempat itu dengan daging. Maka dari tulang yang telah dikeluarkan dari Adam itu, Tuhan menciptakan seorang perempuan”.[23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasyid Ridha menambahkan, “Seandainya tidak tercantum kisah kejadian Adam dan Hawa dalam Perjanjian Lama seperti redaksi di atas, niscaya pendapat yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam tidak pernah akan terlintas dalam benak seorang muslim”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.      “Darinya”, artinya dari jenis manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Râzî mengutip pendapat Abû Muslim al-Isfahânî yang menyatakan bahwa nafs wahidah tak selamanya diartikan sebagai Adam.[24] Karena dalam kasus ayat lain ditemukan bahwa nafs juga berarti jiwa. Sebagaimana termaktub dalam surat al-Nahl ayat: 72 yang artinya, “Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri...”. Di dalam surat Âli ‘Imrân ayat 164, Allah berfirman yang artinya, “...ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri,...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun bila ditinjau secara terminologi, niscaya kita menemukan bahwa nafs dapat dipahami sebagai ruh, sifat maknawi manusia, dan bentuk manusia secara zahir. Lantas kenapa di sini ditulis “dari diri yang satu” dan bukan dari dua yang berpasangan? Karena suatu hal apabila terdiri dari dua, maka yang satu adalah bias atau prasangka. Dan apabila lebih dari dua, maka akan menimbulkan aneka bias atau prasangka. Sedang manusia tercipta dari satu jenis manusia.[25] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imâm Muhammad ‘Abduh bertutur, “Nafs wahidah di sini bukan berarti Adam. Karena belahan ayat wa batsta minhumâ rijâlan katsîran wa nisâ’an menggunakan nakirah. Padahal yang dimaksud adalah wa batsta minhumâ jamî’a al-rijâl wa al-nisâ’. Di samping itu, bagaimana mungkin nafs wahidah diartikan sebagai Adam. Sedang khithâb ayat ini ditujukan untuk seluruh bangsa. Pun tak seluruh bangsa mengakui bahwa mereka adalah anak cucu Adam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasyid Ridha menambahkan, “Pendapat sebagian besar mufassir dalam menafsirkan nafs wahidah ialah Adam, tak diambil dari pemahaman teks maupun konteksnya. Akan tetapi berasal dari cerita yang beredar di antara mereka. Yaitu, bahwasanya Adam adalah bapak seluruh manusia.”[26]   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut al-Sya’râwî, dalam hal penciptaan manusia, Allah mengasihi segenap manusia. Ini mengapa Tuhan mengejawantahkannya dengan cara memposisikan permasalahan penciptaan manusia dalam koridor teks yang dhannî. Termasuk di dalamnya kasus penciptaan Hawa. Kalau minhâ berarti dari tulang rusuk, sedang eksperimen penciptaan Hawa belum membuktikannya, maka sesuatu hal yang belum bisa dibuktikan tak dapat dijadikan dalil kecuali bagi yang pernah membuktikannya. Hanya saja, Allah menegaskan bahwa setelah Adam, diciptakanlah Hawa.[27] Dengan demikian bisa difahami kalau asal-usul kejadian Hawa bukan dari tubuh Adam, akan tetapi dari unsur genetika yang satu, yakni sebagai sumber kejadian seluruh makhluk hidup.[28] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Dalam suatu riwayat, Al-Suddî meriwayatkan dari Abû Shâlih dan Abû Mâlik dari Ibn ‘Abbâs dan dari Murrah dari Ibn Mas’ûd dan dari sekelompok sahabat bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah SWT mengusir Iblis dari surga dan mengizinkan Adam untuk tinggal di dalamnya. Di dalam surga, Adam merasa kesepian dan terasing karena tidak ada istri yang menemaninya. Untuk itu Allah membuat Adam tertidur dan ketika bangun, ia mendapati seorang perempuan yang telah diciptakan Allah dari tulang rusuknya. Kemudian Adam bertanya kepada Hawa: “Kamu ini siapa?”, Hawa menjawab, “Aku seorang perempuan.” Adam bertanya kembali, “Mengapa kamu diciptakan?” “Untuk menemanimu di surga ini”, jawab Hawa. Mengingat pengetahuan yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada Adam, maka para malaikat bertanya padanya, “Siapa nama perempuan itu, Adam?” Adam menjawab: “Hawa Sang Kehidupan.” Para malaikat berkata, “Mengapa Hawa?” “Karena ia diciptakan dari zat yang hidup.””[29]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu perawi hadits ini adalah al-Suddî al-Shaghîr. Menurut kitab al-Isrâiliyât Fî al-Tafsîr wa al-Hadîts, al-Suddî adalah murid dari Muhammad Ibn al-Sâib al-Kalbî. Al-Kalbî -sebagaimana diceritakan- adalah Saba’i, Kadzdzâb, dan Wadhdhâ’. Maka muridnya –al-Suddî- dinilai demikian halnya.[30] Bahkan al-Imâm al-Suyûthî menyebutkan bahwa riwayat terlemah hadits Ibn Abbâs adalah riwayat al-Kalbî dari Abû Shâlih dari Ibn ‘Abbâs. Dan bila ditambah perawi al-Suddî yang meriwayatkannya dari al-Kalbî, maka silsilah hadits ini bohong.[31]   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat ini makin dipertegas kebohongannya dengan perkataan al-Kalbî –di atas peraduannya ketika sakit- pada muridnya, “Hadits yang kuceritakan dari Abû Shâlih adalah hadits bohong.”[32] Dalam hal ini, maka penulis lebih condong pada satu kesimpulan, jika kisah ini kurangtepat dijadikan dalil pembenar bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk. Karena ditinjau dari sanad (transmisi), terdapat perawi kadzdzâb yang tak dapat diakui kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun kisah dalam hadits ini benar, maka kita perlu meninjau dari redaksi (matn), niscaya kita temukan bahwa di hadits tertera kalimat ‘dari zat yang hidup’. Maka tak dapat dipungkiri bahwa zat yang hidup itu adalah diri manusia yang hidup dan bukan tulang rusuk sebagaimana diceritakan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Diriwayatkan dari Ibn Kuraib dan Musa Ibn Hizâm dari Husain Ibn ‘Ali dari Zâidah dari Maisarah al-Asyja’î dari Abû Hâzim dari Abû Hurairah, “Nabi bersabda, “Saling wasiat mewasiatilah untuk berbuat baik kepada perempuan. Karena mereka itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika engkau mencoba meluruskannya maka engkau akan mematahkannya, dan jika engkau membiarkan apa adanya maka ia akan tetap bengkok. Jadi saling wasiat mewasiatilah untuk berbuat baik kepada perempuan.[33]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahîh Muslim, terdapat suatu riwayat dari Abu Bakr Ibn Abî Syaibah dari Husain Ibn ‘Alî dari Zâidah dari Maisarah dari Abû Hâzim dari Abû Hurairah dari Nabi SAW. Nabi bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, apabila dia memberikan kesaksian, maka dia akan berkata yang baik atau diam. Perlakukanlah perempuan dengan baik. Perempuan telah diciptakan dari tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika engkau mencoba meluruskannya maka engkau akan mematahkannya, dan jika engkau membiarkan apa adanya maka ia akan tetap bengkok. Jadi perlakukanlah perempuan dengan baik.[34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini kita akui kesahihannya. Hanya saja, sudah selayaknya kita memahami istilah tulang rusuk di sini sebagai ungkapan metaforis (majâzî).[35] Bila kita telaah kembali teks haditsnya, kita memahami bahwa hadits ini menyeru setiap muslim untuk berbuat baik pada perempuan. Baik di awal atau di akhir hadits, kita temukan kalimah istaushû bi al-nisâ’. Niscaya kita mempercayai bahwa interpretasi teks ini mengajak seluruh manusia untuk berlaku sabar, bersikap bijak dan memahami tindak tanduk perempuan. Terlebih dalam pergaulan suami istri di rumah tangga, hadits ini menjadi sedemikian penting demi keutuhan rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imâm al-Nawawî dalam kitab Shahîh Muslim Bi Syarh al-Nawawî menyampaikan, “Dalam hadits ini, terdapat perintah Rasul untuk bertingkah laku lemah lembut, berakhlak baik, dan bersabar menghadapi perempuan. Dan Rasul menyebutkan bahwa menceraikan mereka merupakan suatu hal yang makruh.”[36]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dimaksudkan Nabi, hadits tersebut tak mengedepankan aspek penciptaan tulang rusuk. Lihatlah betapa Rasulullah peduli terhadap keutuhan hubungan antar manusia yang satu dan yang lain. Beliau tak menginginkan perpecahan. Tak menginginkan perbedaan dalam martabat. Hanya menginginkan saling pengertian antar umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan watak antara laki-laki dan perempuan adalah suatu hal yang wajar. Namun perbedaan ini tak berpengaruh pada kesetaraan martabat laki-laki dan perempuan. Perbedaan watak ini saling mendukung mereka dalam memenuhi kewajiban-kewajiban mereka dalam menjalani amanah kehidupan. Pun perbedaan ini sangatlah penting demi stabilitas tujuan diciptakannya manusia sebagai khalîfah fî al-ardh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kesimpulan Penulis Terhadap Tiap-Tiap Pembahasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ketiga pembahasan ayat dan hadits di atas, penulis berkesimpulan bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Ayat yang memaktubkan nafs wahidah tak menerangkan secara jelas bahwa nafs di sini adalah Adam. Karena dalam beberapa kasus, nafs juga berarti jiwa.&lt;br /&gt;   2. Interpretasi ayat nafs wahidah yang terkesan mensubordinasikan perempuan dengan dihadirkannya kisah penciptaan Hawa yang mengitarinya, hendaknya ditinjau ulang. Karena pada dasarnya kaum perempuan memiliki martabat yang sama di hadapan Sang Khaliq. Hal ini diperkuat dengan interpretasi kontekstual ayat seperti di bawah ini:&lt;br /&gt;         a. Pada awal ayat tertera kalimat yâ ayyuhâ al-nâs yang menunjukkan bahwa Islam tak membedakan ras maupun golongan, termasuk posisi laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;         b. Potongan ayat min nafsin wâhidatin menekankan interpretasi teks bahwa jenis manusia benar-benar memiliki ruh. Interpretasi ini lebih kentara jika dibandingkan dengan interpretasi teks bahwa manusia terbentuk atas jalinan antara laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;         c. Sedang potongan ayat wa khalaqa minhâ dan kedua potongan ayat sebelumnya terang benderang menjelaskan pada kita bahwa laki-laki dan perempuan benar-benar memiliki kesatuan dalam bingkai ruh kemanusiaan.[37]     &lt;br /&gt;   3. Hadits sahih yang menyebutkan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk bersifat metaforis. Bertujuan mendorong laki-laki untuk menghormati istri dan berlemah lembut padanya. Menerimanya apa adanya dan tak mempermasalahkan ketakparipurnaannya.&lt;br /&gt;   4. Kisah tentang penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam berasal dari Taurat. Kalaupun terdapat hadits yang berkisah tentang penciptaan Hawa –sebagaimana dijelaskan pada pembahasan kedua- salah satu perawinya yaitu al-Suddî adalah perawi kadzdzâb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menegakkan sisi kemanusiaan perempuan menjadi sedemikian penting di tengah hingar-bingar gerakan feminisme yang cenderung liar dan tanpa arah. Nilai penting tersebut karena muncul satu asumsi kuat bahwa kaum perempuan hanyalah hewan yang memiliki kecerdasan. Label semacam itu hanya akan mengarah pada stereotip ketakberdayaan wanita. Di samping akan melemahkan semangat mereka dalam menjalankan amanah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap-sikap subordinatif masyarakat terhadap perempuan perlu segera dihapuskan. Karena image-image yang memojokkan perempuan akan menimbulkan tindakan ketidakadilan gender di masyarakat. Seperti terjadinya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;double burden&lt;/span&gt; (peran ganda),[38] subordinasi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;stereotype&lt;/span&gt; (pelabelan),[39] &lt;span style="font-style:italic;"&gt;violence&lt;/span&gt; (kekerasan),[40] dan marginalisasi.[41] Ketimpangan tersebut akan teratasi dengan mengadakan pendekatan kepada masyarakat melalui deep dialogue and critical thinking. Penulis yakin, model pendekatan ini akan membentuk persepsi dan opini yang sehat dan jernih terhadap perempuan. Di samping itu, tentu perlu mengadakan gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan sebagai upaya memahamkan hak dan kewajiban perempuan secara proporsional sebagaimana diatur oleh agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengadakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;deep dialogue&lt;/span&gt; and &lt;span style="font-style:italic;"&gt;critical thinking&lt;/span&gt; yang penulis maksudkan adalah dengan mengadakan penyuluhan, dialog, seminar, dan lain sebagainya mengenai diskursus gender. Mendudukkan permasalahan diskursus gender yang beredar, menjelaskan, dan memberikan solusi penting yang nyata-nyata harus diselesaikan. Deep dialogue and critical thinking saja tentu tak mencukupi. Akan tetapi kita perlu mengadakan berbagai gerakan pemberdayaan perempuan. Gerakan ini dilaksanakan di berbagai lini, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Karena salah satu stereotip yang muncul atas perempuan adalah ‘perempuan tak berdaya’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, penulis dalam tulisan ini tak bermaksud mendukung sepenuhnya semangat emansipatoris yang didengungkan oleh kaum feminis. Tak semua karya mereka kita terima dengan tangan terbuka. Perlu kita cerna satu persatu. Ada yang sebagian layak kita apresiasi. Dan sebagian yang lain layak kita kritisi. Menyalahkan spirit emansipasi mereka secara sepihak juga bukanlah hal yang benar. Karena tujuan mereka –dengan semangat emansipasi mereka ini- menginginkan perempuan tak diinjak-injak oleh pencitraan luput yang beredar di masyarakat bahwa perempuan adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kanca wingking&lt;/span&gt; laki-laki dan perempuan hanyalah makhluk yang lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tak bertujuan pula untuk merendahkan kaum perempuan. Tentunya tiap pribadi memiliki ukurannya masing-masing. Penulis sendiri sepakat dengan prakata Prof. Dr. Muhgah Ghâlib Abdurrahman, salah seorang dosen tafsir al-Azhar yang menyatakan bahwa perempuan ideal adalah perempuan yang mengetahui kemampuan dan ukurannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang merasa mampu membagi waktu antara keluarga dan karir, menyeimbangkan tenaga, materi dan fikiran antara keluarga dan peran Anda di masyarakat, silakan mengembangkan diri Anda di medan yang Anda inginkan. Dan membuktikan betapa berdayanya perempuan. Sedang bagi Anda yang merasa kurang mampu, silakan menggandrungi dunia rumah tangga. Karena siapa tahu, anak Anda kelak yang lebih bergerak dan berperan di masyarakat. Di samping itu, penulis berpendapat bahwa Anda lebih mengetahui ukuran Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu data penelitian mampu mematahkan semangat emansipasi yang menghendaki perempuan lebih baik berperan di masyarakat. Dalam salah satu artikel yang berjudul “The Latest Status Symbol”[42] mengatakan bahwa simbol status perempuan terkini bukanlah desain baju, atau menjadi direktris sebuah perusahaan besar, atau memiliki BMW dan mercy di garasi, akan tetapi simbol status perempuan kini adalah “Menjadi Ibu yang ada di dapur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagaimana dikutip dalam koran tersebut, penulis artikel tersebut menjelaskan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“In many communities mothers who stay home to rise their children have become fashionable again. That having Mom at home has become a new kind of luxury that few families can afford.”&lt;/span&gt;[43]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu survey yang terjadi pada tahun 1995 menggambarkan bahwa sekitar 38% dari kaum ibu lebih senang bersama anak-anaknya di rumah. Jumlah ini makin meningkat. Sepuluh tahun kemudian tepatnya tahun 2005, jumlah prosentase ini meningkat menjadi sebesar 56%. Bagaimana dengan Anda? Dalam kesempatan ini, penulis merasa tergerak dengan pesan yang disampaikan beberapa penulis dalam bukunya untuk Anda kaum perempuan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Jika kau kira dengan satu sayap aku akan terkoyak maka camkanlah dengan sebelah sayap itu akan kujelajah gunung, ombak-ombak samudera dan gemintang di angkasa.”&lt;/span&gt;[44]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sungguh, perempuan tercipta untuk memenuhi celah-celah kecil kehidupan. Dia ibarat jerami yang diletakkan di antara bilangan bejana kaca di sebuah kotak. Jerami ini tak layak dijual. Tersebab jerami ada untuk menjaga bejana kaca dari kerusakan.”[45] Wallâhu a’lamu bi al-Shawâb.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DAFTAR PUSAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Abu Sa’dullah Muhammad Ibn Ahmad al-Anshori al-Qurthubi, al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân, Vol. 03, Dâr al-Hadîts, Kairo, 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Abu al-Qâsim Jârullah Mahmûd Ibn ‘Umar al-Zamakhsyârî al-Khawârizmî, al-Kasysyâf ‘An Haqâiq al-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl Fî Wujûh al-Ta’wîl, Vol.1, Maktabah Misr, Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Al-Hâfidh Ibn Katsîr, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, Vol.02, Dâr al-Hadîts, Kairo, 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Al-Imâm Fakhruddîn Muhammad Ibn ‘Umar Ibn al-Husain Ibn al-Hasan Ibn ‘Alî al-Tamîmî al-Bakrî al-Râzî al-Syâfi’î, al-Tafsîr al-Kabîr/ Mafâtîh al-Ghaib, Vol. 05, al-Maktabah al-Taufîqiyah, Kairo, 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarîr al-Thabarî, Tafsîr al-Thabarî, Vol.03, al-Maktabah al-Taufîqiyah, Kairo, 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.      Abû al-Fadhl Syihâbuddin al-Sayyid Mahmûd al-Alûsî al-Baghdâdî, Rûh al-Ma’ânî, Vol. 02, Dâr al-Hadîts, Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.      Imâduddîn Abu al-Fidâ’ Ismâ’îl Ibn ‘Amr Ibn Katsîr, Qishash al-Anbiyâ’, Dâr al-Salâm, Kairo, Mesir, 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.      Muhammad Rasyid Ridha, Tafsîr al-Manar, Kairo, al-Maktabah al-Taufiqiyah, 1367 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.      Sayyid Quthub, Fî Dzilâl al-Qur’an, Jil. 4, edisi no. 7 dan no. 1, Beirut, Dâr al-Syurûq, 1398 H/1974.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.  Wihbah al-Zuhailî, al-Tafsîr al-Munîr, Vol. 02, Maktabah Dâr El-Fikr, Damaskus, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.  M. Quraish Shihab, Tafsîr al-Mishbâh (Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an), Vol.II, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.  Al-Imâm al-Hâfidh Ahmad Ibn ‘Alî Ibn Hajar al-‘Asqalânî, Fath al-Bârî Bi Syarh Shahih al-Bukhârî, Vol. 06, Maktabah Dâr al-Hadîts, Kairo, 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.  Al-Imâm Muhyyiddîn Abû Zakariâ Yahyâ Ibn Syaraf al-Nawawî, Shahîh Muslim Bi Syarh al-Nawawî, Vol. 05, Maktabah Dâr al-Manâr, Kairo, 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.  Muhammad Husain al-Dzahabî, al-Isrâiliyât Fî al-Tafsîr wa al-Hadîts, Maktabah Wahbah, Kairo, 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.  Dr. Muhammad Ibn Muhammad Abû Syahibah, al-Isrâiliyât wa al-Maudhû’ât Fî Kutub al-Tafsîr, Maktabah al-Sunnah, Kairo, 1408 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.  M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Penerbit Mizan, Bandung, 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.  Mushthafa al-Sibâ’î, al-Mar’ah Baina al-Fiqh wa al-Qânûn, Maktabah Dâr al-Salâm, Kairo, Mesir, 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.  Al-Bahî al-Khûlî, al-Islâm wa Qadhâyâ al-Mar’ah al-Muâshirah, Maktabah Dâr el-Turâts, Kairo, 1984.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.  Su’âd Ibrâhîm Shâlih, Qadhâyâ al-Mar’ah al-Mu’âshirah, Maktabah Madbouly, Kairo, 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.  Nasaruddin Umar, Kudrat Wanita dalam Islam, Sister In Islam, Selangor, 1959.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.  Fatimah Umar Nasif, Hak dan Kewajiban Perempuan dalam Islam, Cendekia Sentra Muslim, Jakarta, 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.  Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender, Perspektif al-Qur’an, Paramadina, Jakarta, 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.  PP. Fatayat Nahdhatul ‘Ulama, Modul Analisis Gender, Tim LKP2 PP Fatayat NU dan The Asia Foundation, Jakarta, 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.  Sayed Siddîq Abdul Fattâh, Rawâi’ Min Aqwâl al-Falâsifah wa al-‘Udhamâ’, Maktabah Madbouly, Kairo, 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.  Asma Nadia, Catatan Hari Seorang Istri, PT. Lingkar Pena Kreativa, Depok, 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.  Slamet Sholeh, Cairo Cairo, KHY Design &amp; Graphic, Kairo, 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Subordinasi adalah kenyataan di masyarakat yang mengetengahkan bahwa perempuan kerap kali mendapat kedudukan sebagai bawahan laki-laki. Perempuan  dianggap sebagai jajaran kedua setelah laki-laki karena kedudukannya dianggap tidak sedemikian penting atau sebagai pelengkap semata. Sedang terma gender di dalam buku Women’s Studies Encyclopedia berarti suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan dalam hal peran, perilaku, mental, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang di masyarakat. Gender berbeda dengan seks. Seks merupakan kodrat yang telah ditetapkan Tuhan terhadap perempuan dari aspek biologis seperti perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, aspek reproduksi, anatomi fisik, dan karakteristik biologis lainnya. Ketidakadilan gender berarti suatu sikap diskriminatif terhadap perempuan yang berdasar pada perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan. Ironisnya sikap diskriminatif ini menimpa perempuan. Untuk lebih jelasnya, lihat; PP. Fatayat Nahdhatul ‘Ulama, Modul Analisis Gender, Tim LKP2 PP Fatayat NU dan The Asia Foundation, Jakarta, 2003. hal. 57-63.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Mushthafa al-Sibâ’î, al-Mar’ah Baina al-Fiqh wa al-Qânûn, Maktabah Dâr al-Salâm, Kairo, Mesir, 2003, hal. 142&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Sayyid Shiddîq Abdul Fattâh, Rawâi’ Min Aqwâl al-Falâsifah wa al-‘Uzhamâ’, Maktabah Madbouly, Kairo, 1999, hal. 27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Lihat: al-Hâfizh ‘Imâduddîn Abû al-Fidâ’ Ismâ’îl Ibn ‘Umar Ibn Katsîr, Qishash al-Anbiyâ’, Dâr al-Salâm, Kairo, Mesir, 2002, hal. 21. Lihat: al-Hâfizh Ibn Katsîr, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, Vol.01, Dâr al-Hadîts, Kairo, 2002, hal. 191.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Lihat : al-Imâm al-Hâfizh Ahmad Ibn ‘Alî Ibn Hajar al-‘Asqalânî, Fath al-Bârî Bi Syarh Shahih al-Bukhârî, Vol. 06, Maktabah Dâr al-Hadîts, Kairo, 1998, hal. 412.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Lihat: Abû Sa’dullah Muhammad Ibn Ahmad al-Anshori al-Qurthubî, al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân, Vol. 03, Dâr al-Hadîts, Kairo, 2002, hal. 06.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Lihat: Abû al-Qâsim Jârullah Mahmûd Ibn ‘Umar al-Zamakhsyarî al-Khawârizmî, al-Kasysyâf ‘An Haqâiq al-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl Fî Wujûh al-Ta’wîl, Vol.1, Maktabah Misr, Kairo, hal. 405.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Lihat: al-Hâfizh Ibn Katsîr, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, Vol.02, Dâr al-Hadîts, Kairo, 2002, hal. 229.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Lihat: al-Imâm Fakhruddîn Muhammad Ibn ‘Umar Ibn al-Husain Ibn al-Hasan Ibn ‘Alî al-Tamîmî al-Bakrî al-Râzî al-Syâfi’î, al-Tafsîr al-Kabîr/ Mafâtîh al-Ghaib, Vol. 05, al-Maktabah al-Taufîqiyah, Kairo, 2003, hal. 137.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Lihat: Abû Ja’far Muhammad Ibn Jarîr al-Thabarî, Tafsîr al-Thabarî, Vol.03, al-Maktabah al-Taufîqiyah, Kairo, 2004, hal. 233.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Lihat: Abû al-Fadhal Syihâbuddîn al-Sayyid Mahmûd al-Alûsî al-Baghdâdî, Rûh al-Ma’ânî, Vol. 02, Dâr al-Hadîts, Kairo, hal.541.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Lihat: Wihbah al-Zuhailî, al-Tafsîr al-Munîr, Vol. 02, Maktabah Dâr El-Fikr, Damaskus, 2005, hal. 555.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Lihat: al-Syaikh Mutawallî al-Sya’râwî, Tafsîr al-Sya’râwî, Vol. 04, Akhbâr al-Yaum, Kairo, hal.1995-1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Lihat: Muhammad Rasyîd Ridhâ, Tafsîr Al-Manâr, Vol. 04, Kairo, al-Maktabah al-Taufîqiyah, 1367 H, hal 277.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Lihat: al-Bahî al-Khûlî, al-Islâm wa Qadhâyâ al-Mar’ah al-Muâshirah, Maktabah Dâr el-Turâts, Kairo, 1984, hal. 20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] Lihat: M. Quraish Shihab, Tafsîr al-Mishbâh (Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an), Vol.II, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2000, hal. 189. Lihat juga: M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Penerbit Mizan, Bandung, 1994, hal. 270-272.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] Lihat: Su’âd Ibrâhîm Shâlih, Qadhâyâ al-Mar’ah al-Mu’âshirah, Maktabah Madbouly, Kairo, 2008, hal. 197.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18] Lihat: Nasaruddin Umar, Kudrat Wanita dalam Islam, Sister In Islam, Selangor, 1959, hal.13.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[19] Lihat: Fatimah Umar Nasif, Hak dan Kewajiban Perempuan dalam Islam, Cendekia Sentra Muslim, Jakarta, 1999, hal. 72.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[20] Lihat: Al-Imâm Fakhruddîn Muhammad Ibn ‘Umar Ibn al-Husain Ibn al-Hasan Ibn ‘Alî al-Tamîmî al-Bakrî al-Râzî al-Syâfi’î, op. cit., hal. 137.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[21] Penjelasan tentang hadits ini lebih rinci akan dijelaskan pada pembahasan ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[22] Lihat: al-Hâfizh Ibn Katsîr, op. cit.,  Vol.01, hal. 191.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[23] Lihat: M. Quraish Shihab, op. cit., hal 314-315.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[24] Lihat: Al-Imâm Fakhruddîn Muhammad Ibn ‘Umar Ibn al-Husain Ibn al-Hasan Ibn ‘Alî al-Tamîmî al-Bakrî al-Râzî al-Syâfi’î, op. cit., Vol. 05, hal. 137.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[25] Lihat: al-Syaikh Mutawallî al-Sya’râwî, op. cit., Vol.04, hal. 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[26] Lihat: Al-Imâm Fakhruddîn Muhammad ibn ‘Umar Ibn al-Husain ibn al-Hasan ibn ‘Alî al-Tamîmî al-Bakrî al-Râzî al-Syâfi’î, op. cit., Vol. 05, hal. 137.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[27] Lihat: al-Syaikh Mutawallî al-Sya’râwî, op. cit., Vol. 04, hal. 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[28] Lihat. Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender, Perspektif al-Qur’an, Paramadina, Jakarta, 2001, hal. 236-242. Lihat juga; PP. Fatayat Nahdhatul ‘Ulama, Modul Analisis Gender, Tim LKP2 PP Fatayat NU dan The Asia Foundation, Jakarta, 2003. hal. 114-115.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[29] Lihat: al-Hâfizh Imâduddîn Abu al-Fidâ’ Ismâ’îl Ibn ‘Umar Ibn Katsîr, Qishash al-Anbiyâ’, Dâr al-Salâm, Kairo, Mesir, 2002, hal. 21. Lihat: al-Hâfizh Ibn Katsîr, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, Vol.01, Dâr al-Hadîts, Kairo, 2002, hal. 191.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[30] Bahkan dalam buku al-Isrâiliyât wa al-Maudhû’ât Fî Kutub al-Tafsîr, di samping al-Suddî dinilai memiliki kemiripan dengan gurunya dalam periwayatan dha’if. Beliau juga lebih dianggap lebih dha’if dalam periwayatan dibandingkan gurunya. Untuk lebih jelasnya, lihat : Dr. Muhammad Ibn Muhammad Abû Syahibah, al-Isrâiliyât wa al-Maudhû’ât Fî Kutub al-Tafsîr, Maktabah al-Sunnah, Kairo, 1408, hal. 151. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[31] Lihat: Muhammad Husain al-Dzahabî, al-Isrâiliyât Fî al-Tafsîr wa al-Hadîts, Maktabah Wahbah, Kairo, 2004, hal. 92-93.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[32] Lihat: Dr. Muhammad Ibn Muhammad Abû Syahibah, al-Isrâiliyât wa al-Maudhû’ât Fî Kutub al-Tafsîr, Maktabah al-Sunnah, Kairo, hal. 151.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[33] Lihat : al-Imâm al-Hâfizh Ahmad Ibn ‘Alî Ibn Hajar al-‘Asqalânî, Fath al-Bârî Bi Syarh Shahih al-Bukhârî, Vol. 06, Maktabah Dâr al-Hadîts, Kairo, 1998, hal. 412.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[34] Lihat : al-Imâm Muhyyiddîn Abû Zakariâ Yahyâ Ibn Syaraf al-Nawawî, Shahîh Muslim Bi Syarh al-Nawawî, Vol. 05, Maktabah Dâr al-Manâr, Kairo, 2003, hal. 46.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[35] Ungkapan metaforis ini senada dengan yang disampaikan oleh Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan al-Qur’an, “Tulang rusuk yang bengkok harus dipahami dalam pengertian majâzî (kiasan), dalam arti bahwa hadits tersebut memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana. Karena ada sifat, karakter, dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan lelaki, hal mana bila tidak disadari akan dapat mengantar kaum lelaki untuk bersikap tidak wajar. Mereka tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan. Kalaupun mereka berusaha akibatnya akan fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.” Selengkapnya, lihat: M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Penerbit Mizan, Bandung, 1994, hal. 270-272.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[36] Lihat : al-Imâm Muhyyiddîn Abû Zakariâ Yahyâ Ibn Syaraf al-Nawawî, op. cit., Vol. 05, hal. 46.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[37] Lihat: al-Bahî al-Khûlî, op. cit., hal. 21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[38] Double Burden (peran ganda) ialah adanya dua beban pekerjaan bahkan lebih yang harus diemban oleh perempuan. Untuk lebih lengkapnya, silakan membaca: PP. Fatayat Nahdhatul ‘Ulama, Modul Analisis Gender, Tim LKP2 PP Fatayat NU dan The Asia Foundation, Jakarta, 2003, hal. 59.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[39] Stereotype (pelabelan) ialah label-lebel negatif yang diberikan masyarakat kepada perempuan, karena budaya di dalam masyarakat kita, pelabelan atas dasar seksualitas masih berlaku. Selengkapnya, silakan membaca: PP. Fatayat Nahdhatul ‘Ulama, Modul Analisis Gender, Tim LKP2 PP Fatayat NU dan The Asia Foundation, Jakarta, 2003, hal. 59-60.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[40] Violence (kekerasan) ialah suatu tindakan yang menyakitkan atau tindakan penyerangan yang menimbulkan luka, trauma dan penderitaan yang berkepanjangan terhadap korban. Selengkapnya, silakan membaca: PP. Fatayat Nahdhatul ‘Ulama, Modul Analisis Gender, Tim LKP2 PP Fatayat NU dan The Asia Foundation, Jakarta, 2003, hal. 60.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[41] Marginalisasi (pemiskinan) ialah pemiskinan terhadap perempuan yang terjadi di tempat kerja, dalam rumah tangga, masyarakat, bahkan dalam negara. Selengkapnya, silakan membaca: PP. Fatayat Nahdhatul ‘Ulama, Modul Analisis Gender, Tim LKP2 PP Fatayat NU dan The Asia Foundation, Jakarta, 2003, hal. 63.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[42] Artikel tersebut terdapat dalam koran Wall Street Journal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[43] Slamet Sholeh, Cairo Cairo, KHY Design &amp; Graphic, Kairo, 2008, hal. 78-90&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[44] Lihat. Asma Nadia, Catatan Hari Seorang Istri, PT. Lingkar Pena Kreativa, Depok, 2008, hal. 45.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[45] Lihat. Sayed Siddîq Abdul Fattâh, op. cit., hal. 31.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-4552671255519505793?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/4552671255519505793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=4552671255519505793' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/4552671255519505793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/4552671255519505793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2009/01/hakikat-penciptaan-kaum-hawa.html' title='Hakikat Penciptaan Kaum Hawa'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-5049115026401818181</id><published>2008-12-25T14:59:00.001+02:00</published><updated>2008-12-25T15:02:04.234+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Diaries'/><title type='text'>Tentang Kematian (1)</title><content type='html'>.: 25 Desember 2008 (dedicated for Kurniawati)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Ayah dari Kurnia -adik kelas yang serumah dengan saya dulu- meninggal dunia. Beberapa waktu lalu, beberapa kawan saya mendapat musibah yang demikian halnya. Keibaan kita –sebagai kawannya- merupakan suatu hal yang pasti. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menemani dan menghiburnya hari ini.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kawan-kawan IKPM dan beberapa kawan dekat Kurnia yang lain beramai berkunjung di rumah Gami hari ini. Membacakan yasin dan khataman al-Qur’an serta berusaha menemaninya. Semoga saja Kurnia sabar dan tabah menghadapi segalanya. Percayalah Kurnia, Kurnia tak sendiri. Kuatkan dirimu, Dik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, kematian. Setiap diri dari kita pasti akan menyusul. Sudahkah setiap bagian dari diri kita mempersiapkannya? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Allâhumma ikhtimnâ bi husni al-khâtimah. Âmîn.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-5049115026401818181?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/5049115026401818181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=5049115026401818181' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/5049115026401818181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/5049115026401818181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/12/tentang-kematian-1.html' title='Tentang Kematian (1)'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-7608954754180639166</id><published>2008-12-25T14:25:00.001+02:00</published><updated>2008-12-25T14:31:09.448+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Diaries'/><title type='text'>Di Bawah Naungan Masjid Al-Azhar 1</title><content type='html'>.: Episode 23 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit nampak suram. Rupanya ia tak merestui warna biru menghiasinya. Ia lebih tertarik menyambut debu gurun untuk menari ‘kecak’ bersama angin yang gemulaiannya ‘benar-benar’ menggigilkan badan. Burung pun enggan berceracau di udara walau sekedar untuk menghidupkan suasana langit. Sepertinya burung-burung itu takut mengidap penyakit flu (just an intermezzo). Memang, udara hari ini benar-benar tak mau diajak bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah melaksanakan aktifitas pagi, sebenarnya saya ingin segera terpekur dengan muqarrar saya dengan segera. Tersebab al-Qur’an saya dan al-Qur’an Andri ketinggalan di masjid Musa Sabi’, akhirnya saya terpaksa mengambilnya dengan segera. Pukul 10.45 AM saya berangkat dari Asrama Bu’uts -tempatku bernanung selama kurang lebih lima bulan ini- menuju Sabi’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari masjid Musa Sabi’, saya percepat langkah menuju mahattah Vila untuk menunggu kendaraan yang akan mengantarkan saya ke masjid Al-Azhar. Angin berhembus makin kencang. Kacamata saya agak kabur karena terhempas hembusan angin bercampur debu yang benar-benar tak menyehatkan. Sejenak kemudian, saya bersihkan dengan lap kacamata yang selalu saya bawa pergi kemanapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengendarai 24 jim, saya bertolak menuju masjid Al-Azhar. Udara tetap saja tak bisa diajak berkompromi hari ini. Saya hampir-hampir putus asa. Namun, satu pelajaran berharga tiba-tiba menyelinap di alam fikiran saya hari ini. Yaitu bahwasanya segala persoalan dalam hidup manusia harus dipasrahkan pada Tuhan. Beruntung, saya hari ini merasa diselamatkan oleh kata-kata ‘pasrah’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal kepasrahan ini, saya merasa ‘agak’ sedikit ringan dalam berusaha melaksanakan kewajiban belajar saya hari ini, walau hidung saya agak-agak tersumbat dan saya agak terbatuk-batuk. Apalagi tak seorangpun dari mahasiswi Indonesia yang saya temui belajar di masjid Al-Azhar. Sehingga saya merasa bahwa hari ini saya tak ada tempat kembali (sebagai bidikan menitipkan tas dan tempat berbagi kala suka dan duka maksudnya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, saya mempelajari buku Adab dan berusaha mengukirnya di setiap lempengan-lempengan otak saya. Alhamdulillâh, saya benar-benar merasa menikmati aktifitas belajar saya hari itu. Walau ketika saya menelfon ‘seseorang’, dia merasa suara saya agak berat. Ya, karena cuaca hari itu memang tak menyehatkan. Tapi percayalah kawan! Kepasrahan pada hari itu benar-benar membuat segalanya terasa ringan. Entahlah seberapa lama lagi kepasrahan ini akan bertahan. Saya merasa enggan berpisah dengannya.[] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.: Tuhan, dekatkanlah hamba-Mu ini dengan kepasrahan! Biarkanlah dirinya setia menemani hamba! Karena dengan kepasrahan ini, hamba-Mu merasa keberwujudan-Mu benar-benar menaungi setiap hamba, rahmat-Mu benar-benar mengalir. Tuhan, kabulkanlah doa hamba-Mu yang tak berdaya ini. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lâ haula wa lâ quwwata illâ bika, Ya Allâh. Fainnanâ natawakkalu ‘alaika, Ya Allâh. Âmîn. Yâ Rabb al-‘Âlamîn.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-7608954754180639166?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/7608954754180639166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=7608954754180639166' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/7608954754180639166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/7608954754180639166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/12/di-bawah-naungan-masjid-al-azhar-1.html' title='Di Bawah Naungan Masjid Al-Azhar 1'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-2094745221590384296</id><published>2008-12-05T15:09:00.003+02:00</published><updated>2008-12-10T01:07:07.221+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Stories'/><title type='text'>Ingat! Di Mesir Bukan Lagi Di Indonesia</title><content type='html'>Bumi Mesir membiaskan bekas-bekas jejak langkahmu sejak hari awal kedatanganmu hingga kini. Entahlah sudah berapa bilangan sinaran langkah yang terpantul di atas himpunan pasir, debu, bebatuan, dan kerikil-kerikil yang menjadi saksi mobilitasmu selama kurun waktu itu. Ribuan atau mungkin ratusan ribu langkah. Makin panjang waktu yang tertoreh dan makin jauh kaki melangkah, sudahkah kau memberikan hal yang terbaik untuk mereka yang menunggumu?&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kedatanganmu di Mesir dihiasi dengan berbagai harapan yang sangat sulit kau penuhi dalam bentangan waktu empat tahun. Dari peningkatan bahasa, pengkondisian diri, termasuk peningkatan mental pribadi. Semuanya serba sulit untuk terpenuhi karena waktu dan kekuatanmu yang serba terbatas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat kau akan ultimatum orangtuamu yang kerap berkelebat di kibaran sanubarimu, "Nak, di Mesir kuliahmu hanya menggantungkanmu pada muqarrar. Kamu tak perlu ke sana. Dikirim muqarrar al-Azhar saja sudah cukup. Tinggal dibaca dan dipelajari muqarrar itu, kamu akan meraih gelar Lc. Daripada kuliah jauh-jauh dan mahal hanya untuk meraih Lc, lebih baik kamu kuliah di Indonesia saja. So, kalau memang kamu ingin belajar di Mesir, kamu harus banyak berinteraksi dengan orang Mesir, berbahasa Mesir, dan mempelajari tabiat dan kehidupan mereka. Kalau kamu ke Mesir tapi tetap kental dengan suasana Indonesia, mendingan di Indonesia saja. Ingat! Kamu itu kuliah di Mesir bukan di Indonesia." Kau tak berkutik. Tak mampu membantah tutur kata beliau. Yang terbesit seketika itu adalah bahwa kau akan tetap teguh pada pendirian menimba ilmu di bumi kinanah ini. Apapun hasilnya nanti, kau pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama menginjakkan kaki di Ardh al-Anbiyâ' ini, kau mantapkan hati dan teguhkan diri bersikukuh meningkatkan bahasa dan mengkondisikan diri. Berbagai cara telah kau coba. Percakapanmu dengan kawan-kawan Indonesiamu telah kau usahakan berbahasa Arab. Talaqqî telah kau coba. Interaksi 'hanya' dengan orang Mesir ketika masa aktif muhâdharah dan sedikit menjauh dari kawan-kawan sekampung halaman telah kau laksanakan. Sayang, tetap saja usahamu tak berhasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang sang waktu menjelang, kau kolaps. Kapalmu beralih haluan. Angin ke-Indonesia-an yang mengitarimu –mengingat ketika itu fenomena bahasa, adat istiadat, pergaulan hampir-hampir kesemuanya kental dengan tanah airmu- berhembus kuat. Tak terasa semasa tiga tahun batang usiamu di Mesir ini kau 'terlupa' akan tanggungjawab yang terutarakan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya kau terlena dengan fenomena negara boneka Indonesia yang telah menarik-narikmu memaksa-maksamu mengubah status belajar menjadi 'mahasiswi di negara Indonesia'. Kau limbung. Tak tahu apa yang akan kau berikan pada negaramu kelak. Untuk sedikit menghiburmu, kau berkilah, "Setidaknya aku di Mesir tak main-main." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm hm hm... Rupanya apologi ini berhasil menghiburmu walau jujur saja juga melenakanmu. Harapan-harapan yang telah lalu 'agak' sedikit terlupa akibat ulah apologimu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ups! Kini, sisa waktu yang in syâ a Allâh diamanahkan padamu adalah setahun untuk belajar di Mesir. Kau terkesiap terkaget-kaget. Tertatih-tatih menyisiri setiap bagian harapan-harapan yang telah lalu. Rupanya kau belum memenuhi semua tanggungjawab itu. Terutama bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini pada dasarnya kau telah tahu dan mengerti dengan sangat bahwa dalam mempelajari suatu bahasa, kau harus bisa menguasai empat hal, reading, writing, speaking, dan listening. Tentunya kau telah temukan bahwa agaknya Universitas Al-Azhar lebih menekankan mahasiswanya pada aspek pertama dan kedua, reading dan writing. Writing-mu saja masih belepotan dan acak adul. Belum tentu memenuhi standar kemampuan bahasa anak Tsanawî al-Azhar. Reading-mu demikian halnya. Tertatih-tatih pula kau membaca dan memahami berhelai-helai buku.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Speaking dan listening-mu agak terlupa karena kau jarang menghadiri aktifitas perkuliahan. Keadaan ini didukung dengan keberadaanmu yang meninggalkan percakapan berbahasa Arab. Porak-poranda sudahlah perasaanmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu sangatlah parah keadaanmu. Seorang dosen mengajakmu berbincang, "Kalau kamu dikeluarkan dari asrama, kamu akan pergi ke mana?" Kau tak memahami kata-katanya. Kau jawab sekenanya, "Saya tak pergi ke mana-mana." Serta merta dahi dosenmu mengerut, "Rupanya kau tak memahami maksudku. Bukankah kau sudah belajar di Mesir selama tiga tahun?" Mendadak, merah pucat bias wajahmu. Lengkap sudah penderitaanmu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tahun keempat ini kau berusaha menyusun kembali puing-puing harapan orangtua dan kampungmu. Kau hadir di setiap perkuliahan. Kau menyusun jadwal kuliah dan talaqqî secara rapi dan kau menghadirinya. Dengan tegar tanpa tedeng aling-aling, kau pede dengan bahasa Arabmu walau masih ada sedikit dialek Indonesia. Kau tak malu-malu. Kau bertegur sapa dengan setiap orang berbahasa Arab. Nilai plusmu kali ini, bahasa Arab percakapan yang kau pergunakan ialah 'lughah al-takhâthûb'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, kulihat kau rajin membaca buku-buku berbahasa Arab. Baik berbahasa Arab ringan, menengah, hingga yang sukar dipahami kau coba membaca dan mempelajarinya. Frekuensi belajarmu sangatlah tinggi. Jam belajarmu semakin padat. Istirahat yang kau sisakan hanya empat hingga enam jam tiap hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, aku melihat artikel bahasa arabmu terpampang di salah satu buletin di Kairo. Menurut kawanku yang ahli bahasa, ushlub-mu makin terasah. Nahwu sharf-mu pada setiap pertautan kalimat mengalir kuat. Dzauq Arabmu kulihat telah menuju proses paripurna. Kau mulai berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan beberapa waktu ini membuatku terkagum-kagum akan usahamu. Tak segan, emoticon jempol akan kutorehkan padamu jika pada saat itu aku menemuimu di dunia maya. Entahlah. Akankah perubahan ini akan terus dan terus melaju indah atau hanya sementara saja. Karena seorang kawanku pernah berkata, "Perubahan menuju arah perbaikan itu sangat mungkin terjadi di kehidupan kita yang warna-warni ini. Hanya saja, yang diperlukan pada setiap perubahan adalah kontinuitas dan konsisten." Kuharap kau camkan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun ke depan, kau akan mengakhiri tahun terakhirmu. Kisahmu tak sampai di sini. Masih ditunggu kelanjutannya tahun depan. Akankah kau berhasil dengan usahamu ini atau tidak? Akankah kau bersikukuh dengan konsisten dan kontinuitasmu? Ataukah kenyataan akhir-akhir ini hanya bias semata? Aku hanyalah komentator di setiap langkahmu. Semoga kau berhasil. Oh, ya. Aku ada sedikit kata hikmah buatmu, "Life is what happens to us while we are busy making plans." Yang kira-kira artinya begini, 'Hidup adalah saat-saat di mana kita disibukkan oleh berbagai perencanaan'. So, janganlah kau berhenti berencana! Kau bisa. Percayalah, percayalah!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-2094745221590384296?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/2094745221590384296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=2094745221590384296' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/2094745221590384296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/2094745221590384296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/12/ingat-di-mesir-bukan-lagi-di-indonesia.html' title='Ingat! Di Mesir Bukan Lagi Di Indonesia'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-4991232995979559089</id><published>2008-11-27T16:56:00.004+02:00</published><updated>2008-12-10T01:05:49.862+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Diaries'/><title type='text'>Mozaik Kehidupan Seorang Nana</title><content type='html'>Pernah mendengar kisah petualangan nyata mencari mozaik kehidupan yang meletup kuat menyemangati kita untuk maju? Saya termasuk salah satu orang yang pernah mendengar kisah pencarian jati diri ini. Ah, baiknya Anda baca saja bagaimana kisah nyata seorang perempuan yang bernama Nana –bukan nama sebenarnya- dalam proyeknya mengais sebuah jati diri. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu saya pergi ke masjid al-Azhar. Di sana, saya bertemu dengan seorang kawan –sebutlah namanya Rani-. Pada saya, Rani berkisah tentang seorang perempuan –sebutlah namanya Nana- yang cinta akan petualangan. Perempuan ini bisa kita jadikan sampel menarik dari orang-orang yang telah menemukan mozaik kehidupannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlahir di keluarga yang sederhana, tak menyurutkan Nana untuk bercita-cita tinggi. Cita-citanya adalah berpetualang ke negara Eropa. Demi mewujudkan citanya, dia mendaftarkan di salah satu universitas yang lumayan ternama di tanah air dan memilih jurusan sastra salah satu negara di Eropa –yang entahlah saya sendiri lupa negara mana-. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di universitas itu, dirinya merasa kewalahan. Impiannya untuk mampu menguasai bahasa dan adat-istiadat negara tersebut dalam waktu singkat, rupanya tinggal kenangan. Dia tak merasa puas dengan apa yang didapatkannya dari perkuliahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nana nekad. Dalam waktu relatif singkat, Nana memutuskan untuk bertolak ke Jerman. Berbagai cara akhirnya ditempuh. Salah satunya adalah dengan berpetualang menjadi TKW. Di hadapan kedua orangtuanya, Nana menyampaikan bahwa dia ingin kursus berbahasa Jerman di Surabaya. Orangtuanya merestui. Di Surabaya, dia tak mengikuti kursus tetapi malah mendaftarkan diri sebagai TKW di negara Jerman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, dia mendapat panggilan kerja di negara tersebut. Sesampainya di Jerman, dia mengabarkan keadaannya pada keluarganya di Jerman. Keluarganya di tanah air terkejut. Tersebab mereka mengira bahwa selama ini Nana berada di Indonesia tepatnya Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita yang disampaikannya pada keluarga, dia menyampaikan bahwa nasib mujur rupanya berpihak padanya di Jerman. Dia mendapatkan majikan yang baik. Majikannya sangat bangga padanya. Karena walaupun Nana adalah seorang pembantu rumah tangga, Nana rajin membaca buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal semangat belajar yang qualified dan keberaniannya yang membuncah, dalam waktu dua bulan dia telah mampu berkomunikasi dengan bahasa Jerman. Pengalamannya makin terasah dengan penguasaannya atas adat-istiadat masyarakat setempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nana tak hanya bercita-cita mengenal Jerman. Asanya menjulang tinggi. Dia berhasrat menguasai pelbagai bahasa. Di Jerman, dia berkenalan dengan salah seorang berkebangsaan Perancis. Darinya, Nana mempelajari bahasa Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak puas di Jerman, setahun setelah bekerja di Jerman, dengan bantuan kawannya, dia bertolak ke negara pusat mode, Perancis. Di sana, dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga lagi. Nana tetaplah Nana. Semangat belajarnya tak kunjung surut. Bahasa dan perilaku kehidupan masyarakat Perancis dikuasainya dalam waktu singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun bekerja di Perancis, Nana kembali ke tanah air. Bersua dan bertutur sapa dengan sanak keluarga. Yang mengagumkan, pursuit of knowledge-nya kembali menarik-nariknya untuk tetap konsis belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas melepas rasa rindu pada negara dan keluarga, Nana kembali ke Jerman. Kali ini dia tak bermaksud bekerja di sana. Hasrat mulianya untuk belajar di salah satu universitas di Jerman mendentum dan meletup hebat bak uranium yang terhempas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nana akhirnya mendaftarkan diri sebagai mahasiswi di salah satu universitas di Jerman. Dan alhamdulillâh dia diterima dengan mudah. Rupanya, hasrat belajarnya itu menarik seorang laki-laki non-Islam hingga bermaksud menikahinya. Lelaki itu kini telah menyandang predikat baru sebagai seorang muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Nana masih belajar di Jerman. Dan yang lebih membuat saya salut, Nana telah menguasai enam bahasa sekarang. Entahlah bahasa apa saja yang dikuasainya. Hanya yang jelas, pengalaman ini mengingatkan saya pada pesan Bob Sadino –salah seorang pebisnis ternama tanah air- mengenai cara belajar yang baik. Sebagaimana dituturkannya, &lt;strong&gt;"Cara belajar yang baik adalah cukup lakukan saja."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan cemerlangnya itu lamat-lamat terdengar senada dengan apa yang diutarakan oleh Rex dan Carolyin Sikes: &lt;em&gt;"We learn about a city from being there, not from a map or guide book. We learned to walk and talk without reading instructions or following recipes.  Learning is doing something, then getting rid of the unwanted parasitic movements". &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;Kita mempelajari suatu kota dengan berada di sana bukan dari peta atau buku panduan. Kita belajar berjalan dan berbicara tidaklah ditempuh dengan membaca instruksi-instruksi atau mengikuti metode-metode. Belajar adalah melakukan sesuatu, kemudian menyelamatkan diri dari tindakan-tindakan parasit yang tidak diinginkan)&lt;/strong&gt;  Wallâhu a’lamu bi al-shawâb.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-4991232995979559089?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/4991232995979559089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=4991232995979559089' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/4991232995979559089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/4991232995979559089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/11/mozaik-kehidupan-seorang-nana.html' title='Mozaik Kehidupan Seorang Nana'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-664093291006971440</id><published>2008-10-21T18:49:00.001+02:00</published><updated>2008-12-10T01:08:05.735+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Diaries'/><title type='text'>Setelah Enam Tahun; Aku Ingin Kembali Bertutur Pada Bintang</title><content type='html'>Di malam yang lebih rapat sambut musim dingin dibanding terik siang, aku tengadahkan wajahku menatap mayapada. Kuintip bintang yang mengecupkan sinarnya pada langit di angkasa, malu-malu. Bulan yang mulai bergerak menuju sabit sampaikan senyum simpulnya yang tak tampak ketika purnama.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi alam ini kembali mengais memoar kecil masa silam ketika aku beranjak berusia tujuh belas tahun. Di tanggal yang sama, walau tak ada acara tasyakuran sama sekali, adik-adik kelas dan rekan kerja serayonku –Rayon Bosnia Atas Dua- ramai-ramai mengucapkan, “Selamat Ulang Tahun ke-17, Fissa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan sebayaku tak mau ketinggalan. Dia menimpaliku dengan nasehat, “Tujuh belas tahun itu masa dewasa lo, Fis.” Dewasa. Haruskah di usiaku yang ke-17 tahun ini aku meninggalkan masa indah remaja? Apakah lara hidupku tak memberiku kesempatan untuk menikmati masa remaja? Namun, kalau aku menginginkan kebahagiaan, kebahagiaan seperti apa sebenarnya yang aku inginkan? Aku kerap bertanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini masih membekas hingga sang surya beranjak ke peraduannya dan bulan menatapkan sinarnya. Tak ketinggalan, kusambut kedipan bintang malam itu walau tetap saja malu-malu biaskan kecupannya pada mayapada. Dengan dibarengi suasana belajar karena memang hari-hari itu aku harus menghadapi ujian akhir tahun, aku berujar pada bintang, “Bintang, ajari aku kedewasaan? Apakah kedewasaan harus tinggalkan kebahagiaan? Bintang, sebenarnya kedewasaan terletak di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, genap usiaku dua puluh tiga tahun. Enam tahun sudah tak kutemui bintang di langit pesantrenku. Sekian lama aku tak mengadukan kisahku pada bintang. Termasuk bintang di langit Kairo. Dulu, di pesantren hanyalah bintang malam yang rela mendengarkan kisah-kisahku dan muqarrar-lah yang setia menemaniku. Sayangnya, hingga kini, pertanyaan ini tak kunjung kudapatkan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena kehidupan enam tahun yang sangat berbeda dengan masa-masa belajarku di ma’had menyeretku untuk kembali bertutur pada bintang malam ini. Kisah-kisah silam yang mengharubiru membuatku kembali pada bintang. Pada bintang langit Kairo aku bertutur, “Bintang, siapapun kamu, walau kamu bukanlah bintang langit pesantrenku, dengarkan setiap kisahku. Sampaikan pada Tuhanmu, aku ingin meraih kedewasaan. Tanyakan pada-Nya, sejatinya apakah itu kebahagiaan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bintang, hari ini jatah usiaku makin berkurang. Sedang amal kebaikanku tak kunjung bertambah. Bahkan, maksiatku kini makin berbuih. Bantulah aku meraih taubat-Nya, Bintang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bintang, agaknya fenomena lebih senang menarik-narikku untuk lebih sepakat dengan tutur Andrea Hirata, “Hati yang sepi lebih baik daripada hati yang patah.” Maka, bantulah aku untuk sukses menjadi perempuan berhati hampa! Bintang, kalaulah hatiku tak pernah dibiarkan sepi oleh-Nya, sampaikan pada Tuhanmu, aku ingin hatiku dipenuhi cinta-Nya.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.: Islamic Mission Abbasea, on my birthday October 21st 2008&lt;br /&gt;   Fenomena: Di tengah bayang-bayang ‘Idem’&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-664093291006971440?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/664093291006971440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=664093291006971440' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/664093291006971440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/664093291006971440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/10/setelah-enam-tahun-aku-ingin-kembali.html' title='Setelah Enam Tahun; Aku Ingin Kembali Bertutur Pada Bintang'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-5426024218698637333</id><published>2008-10-21T18:29:00.001+02:00</published><updated>2008-12-10T01:09:26.740+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Opinions'/><title type='text'>Menelisik Kegamangan Kehormatan Perempuan</title><content type='html'>"Perempuan terjepit!!!" fenomena menarik yang beredar di masyarakat bahwasanya perempuan selalu dihadapkan pada masa dilematis antara dua hal yang sering mengusik masa transisi dan stabilitas kehidupan mereka. Ketika perempuan ingin mempertahankan kehormatan mereka dengan lebih mempertahankan suatu tradisi, perempuan juga dituntut untuk nrimo fenomena teranyar arus globalisasi yang mengharuskan problem solving serba cepat seiring berkembangnya komunikasi progresif.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali saya hunting buku tentang kaum perempuan, saya juga sering  menemukan judul buku yang selalu memposisikan perempuan pada dua sisi tersebut.  Seperti judul buku yang dikarang Ramadhân al-Bûthî, al-Mar'ah baina Thughyân al-Nidzâm al-Gharbî wa Lathâif al-Tasyrî' al-Rabbânî dan buku yang dikarang Alî Jum'ah, al-Mar'ah fî al-Hadhârah al-Islâmiyah baina Nushûs al-Syar'î  wa Turâts al-Fiqh wa al-Wâqi' al-Ma'îsyî. Bulan Februari kemarin, saya juga sempat mengikuti seminar World Assembly Moslem Youth (WAMY) yang berjudul al-Mar'ah baina Mathâriq al-'Aulamah wa Sindân al-Maurûts al-Ijtimâ'î. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realita yang ada sudah cukup membuktikan bahwa perempuan di Timur Tengah mengalami fenomena yang sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Seperti halnya yang terjadi di Arab Saudi dalam rangka menggalakkan proses transformasi ilmu, pada tahun 1955, pemerintah Arab Saudi tidak segan-segan memberikan porsi belajar kepada kaum Hawa dengan cara memisahkan kaum Hawa dari  kaum Adam di setiap jenjang pendidikan kecuali Taman Pendidikan Taman Kanak-kanak. Tidak hanya itu, fenomena terakhir menyebutkan, perempuan Arab Saudi mendapat larangan operasional mobil dan sejenisnya.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya yang terjadi di Turki, Maroko dan Tunisia. Pada rezim Kemal Ataturk –yang terkenal dengan sekulerisasi peradabannya, pemerintah Turki melarang fenomena hijab muslimah di . Rupanya, fenomena pelarangan hijab tersebut juga turut mewarnai negara lain seperti Tunisia, Maroko dan sempat menyentuh ranah peradaban Iran. Beberapa waktu lalu, RAM (Royal Air Maroc)  juga melarang penggunaan hijab bagi buruh perempuannya. Bahkan, mereka mengadakan standarisasi seragam resmi. Tak tanggung-tanggung, pemerintah Maroko juga turut mendukung program RAM tersebut dengan pelarangan yang sama dan menghapus gambar-gambar perempuan berjilbab di buku-buku sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, problematika perempuan sering mengetengahkan  dua fenomena yang simpang siur, yaitu fenomena perempuan Timur Tengah dan perempuan Barat. Di Amerika misalnya, gerakan emansipasi perempuan dinilai berhasil meningkatkan jumlah perempuan bekerja. Namun sayangnya prestasi tersebut tidak dibarengi dengan peningkatan jumlah pendapatan perkapitanya. Berdasarkan laporan beberapa situs, survey membuktikan, pada tahun 1985 perempuan AS hanya mendapatkan tingkat upah rata-rata 64 % dari tingkat pria. Tidak hanya itu, kekerasan terhadap perempuan turut mewarnai negara yang mengaku pioner demokratis tersebut. Terbukti, sekitar 13% atau 12,1 juta anak gadis Amerika pernah diperkosa lebih dari satu kali dan yang membuat miris adalah bahwasanya 61%nya belum mencapai usia 18 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jerman, fenomena yang terjadi tidak jauh berbeda. Menurut sebuah penelitian, setiap lima belas menit telah terjadi perkosaan terhadap perempuan. Ini belum termasuk data riil yang terjadi di lapangan. Tentunya apabila ditelisik lebih dalam, masih banyak kaum perempuan yang mengalami nasib yang sama atau bahkan lebih miris lagi. (Maisar Yasin, Perempuan Karir dalam Perbincangan, halaman 96)       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena kontradiktif tersebut sebenarnya hanya bermuara pada satu hal yaitu kehormatan perempuan, dengan mengedepankan dua cara yang berbeda yaitu mempertahankan kehormatan perempuan dan membentuk perempuan terhormat. Mempertahankan kehormatan perempuan merupakan salah satu hal yang sudah seyogyanya dilakukan oleh setiap perempuan karena perempuan memiliki kewajiban untuk mempertahankan kehormatannya yang semuanya tercermin pada kemampuan protektif harga dirinya. Proteksi harga diri sebenarnya dapat diaplikasikan dengan powerisasi sikap dan penyuaraan suara hatinya yang paling dalam (dhomir). Hal ini dapat dilakukan dengan pembentukan idealisme perempuan yang diharapkan mampu menjadi ujung tombak dalam mengambil berbagai prinsip dan keputusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di tubuh Islam proses protektif kehormatan perempuan tersebut sedang dielaborasi, di Barat sebaliknya, proses protektif kehormatan perempuan tersebut justru dianggap telah mencapai proses penggodokan yang kuat sehingga muncullah keinginan untuk membentuk perempuan terhormat. Nah, salah satu komponen pendukungnya adalah mencetak perempuan intelek. Sayangnya, taraf aplikasi pemberdayaan perempuan tersebut dibarengi dengan proses fenomena pembebasan ruang gerak perempuan untuk memamerkan bentuk tubuhnya dan batasannya pun sejak awal tidak pernah dicermati. Sehingga pelanggaran kodrati seorang perempuan dianggap sebagai suatu hal yang wajar  selama mendukung kepuasan era globalisasi. Padahal, seharusnya proses sinergi kekuatan perempuan secara otak tidak perlu ditampilkan dengan fenomena umbar aurat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah muncul anggapan di tubuh Islam bahwa degradasi moral perempuan merupakan akibat dari improvisasi intelektual Barat. Suatu hal yang lumrah tentunya, ketika seorang perempuan diberikan kebebasan berekspresi, ada beberapa oknum yang menyuarakan pingitisasi perempuan dengan cara menolak atau meminimalisasi hasrat mereka dalam menimba ilmu dan menjajal segala kemampuan bercerminkan pada fenomena yang terjadi di Barat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, pun pada kesempatan ini saya berteori, saya bukanlah problem solver terbaik permasalahan ini. Namun demikian, saya berharap semoga teori –yang saya ketengahkan di sini- dapat dijadikan sebagai salah satu bahan perenungan bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kehormatan, perempuan memang memiliki standar kehormatan yang dalam beberapa  hal yang tidak dimiliki kaum Adam. Perbedaan tersebut tampak pada tiga aspek, spiritual, emosional, dan intelektual. Pada aspek spiritual, perempuan memiliki kehormatan untuk menjaga aspek seksualitas. Maksudnya, ketika kaum Adam diberikan porsi batasan aurat dari pusar hingga lutut, perempuan mendapatkan kehormatan untuk mendapat porsi lebih, yaitu seluruh badan kecuali telapak tangan dan wajah. Tentunya, proteksi aurat tersebut haruslah berkaca pada batasan penutup tubuh yang sesuai syariat Islam antara lain, longgar dan tidak transparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan perempuan dalam menyejukkan hati kaum Adam merupakan salah satu kehormatan perempuan pada aspek emosional yang tidak dimiliki pria. Berkaca pada tulisan Saudara Ahdi Rif di buletin  Terobosan, fakta membuktikan, bahwasanya dukungan moril yang diterapkan dengan pengayoman, penyejukan hati, penenangan jiwa, kehangatan kaum Hawa atau apalah namanya banyak memberikan kontribusi besar pada perkembangan tiga agama samawi. Salah satu contohnya, kita dapat bercermin pada apa yang dilakukan Siti Khadijah ketika berhasil memotivasi Nabi untuk tegar dalam menerima wahyu pertama kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya kehormatan perempuan pada aspek intelektual. Pada situasi tertentu, eksistensi perempuan dalam dunia intelektual banyak dibutuhkan dalam aspek mutakâmil atau penyempurna kaum Adam. Aspek ini apabila saya definisikan di sini akan semakin memperluas pembahasan di samping memerlukan banyak perenungan. Nah, teori 'standarisasi' intelektual penyempurnanya perempuan inilah yang merupakan PR bagi kita bersama demi tercapainya stabilitas kehidupan perempuan yang mampu mensinergikan aspek intelektual, spiritual dan emosional. Mari bergabung!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-5426024218698637333?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/5426024218698637333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=5426024218698637333' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/5426024218698637333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/5426024218698637333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/10/menelisik-kegamangan-kehormatan.html' title='Menelisik Kegamangan Kehormatan Perempuan'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-8149812348661559639</id><published>2008-10-21T18:26:00.000+02:00</published><updated>2008-10-21T18:29:14.275+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Emotions'/><title type='text'>Dengan Doa Langkah Bermula</title><content type='html'>Di suatu malam, &lt;br /&gt;Dengan polos aku bertanya pada sosok yang selalu setia ukir hari-hariku penuh makna,&lt;br /&gt;“Aku takut dengan hasil ujian.”&lt;br /&gt;Penuh optimis, dia berkata, &lt;br /&gt;“Yakini saja. Dan percayalah dengan doa.”&lt;br /&gt;Dadaku yang sesak mendadak terasa lapang,&lt;br /&gt;Sejenak aku berfikir, “Ya, aku masih punya kekuatan. Doa.”&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari ini doa terpanjat,&lt;br /&gt;Walau kutahu selama ujian usahaku alpa adanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa kusenandungkan&lt;br /&gt;Pada Tuhan Yang Tak Pernah Lelah Penuhi Asa&lt;br /&gt;Pada-Nya kupinta,&lt;br /&gt;“Berikanlah padaku kekuatan dan kesabaran hadapi segala coba. Sebab kuyakin kesabaran tiada batasnya. Yang terbatas adalah waktu dan hitungan. Sesungguhnya pahala-Mu bagi orang yang bersabar tak ada batasnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, aku tak punya kekuatan apa pun,&lt;br /&gt;Aku tak tahu pasti apakah cita kan kusapa,&lt;br /&gt;Atau aku masih tetap di sini menanti bahagia?&lt;br /&gt;Kuyakin aku bisa jalani ini semua&lt;br /&gt;Entahlah…&lt;br /&gt;Hanya saja, aku teringat tuturnya&lt;br /&gt;D O A…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat…&lt;br /&gt;Dengan bernaung di bawah tabir doa&lt;br /&gt;Langkahku selamanya akan kumula,&lt;br /&gt;Asaku bergantung,&lt;br /&gt;Damaiku terjunjung…&lt;br /&gt;Semoga… &lt;br /&gt;Ya, semoga…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petuah Bapak:&lt;br /&gt;- Ungkapan “Kesabaran ada batasnya”, itu tidak benar dalam kehidupan apapun dan siapapun. Yang ada batasnya adalah waktu dan hitungan, karena pahala nya  orang sabar tidak ada batasnya.&lt;br /&gt;- Orang boleh menyatakan dirinya sabar, kalau dia berusaha minimal bersikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentarku atas Petuah Bapak:&lt;br /&gt;- Entahlah Bapak, kini anakmu belum juga bisa menjadi seorang penyabar sepertimu.&lt;br /&gt;- Bapak, sabarmu masih terekam dalam benakku. Tulus cintamu masih kurasakan. Namun sadar atas sabar dan tulus cintamu masih tetap kulalaikan. Maafkan aku, Bapak!!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-8149812348661559639?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/8149812348661559639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=8149812348661559639' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/8149812348661559639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/8149812348661559639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/10/dengan-doa-langkah-bermula.html' title='Dengan Doa Langkah Bermula'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-6788673159890935431</id><published>2008-10-21T18:20:00.003+02:00</published><updated>2008-10-21T18:26:02.574+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Books'/><title type='text'>Daur al-‘Arab fî Takwîn al-Fikr al-‘Ûrûbî</title><content type='html'>Judul Buku  : Daur al-‘Arab fî Takwîn al-Fikr al-‘Ûrûbî &lt;br /&gt;Penulis          : Abdurrahman Badawî&lt;br /&gt;Penerbit  : Maktabah al-Usrah&lt;br /&gt;Cetakan          : 2004&lt;br /&gt;Tebal   : 252 halaman&lt;br /&gt;Resentator  : Dhoriefah Niswah El-Fidaa’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini ditulis oleh Abdurrahman Badawi, salah seorang pakar filsafat Arab pada abad 20. Dia sukses menghasilkan berbagai karya monumental. Bilangan karya yang dihasilkannya berkisar 150 buku. Kesemuanya merupakan hasil dari proses riset, translasi, dan karya tulis. Beberapa kalangan menobatkannya sebagai filosof pertama Mesir yang menekuni bidang Eksistensialisme.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita telisik, karya Badawi banyak menitikberatkan pada diskursus filsafat dan sosial. Karya Badawi kerap menjadi referensi utama para pemikir Arab Islam. Hasil-hasil riset literatur klasiknya kian mengukuhkan Badawî dalam ajang riset akademi. Tak pelak, Badawî pun  dijuluki sebagai pakar riset literatur klasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya pada buku ini, Badawi banyak mencantumkan fakta sejarah kegemilangan Islam Abad Pertengahan. Lantas, ia mengkomparasikan dengan pengaruh Islam Abad Pertengahan terhadap pemikiran Eropa. Baik dalam segi sastra, pemikiran ilmiah, tasawuf, filsafat, ilmu pengetahuan, musik, maupun arsitektur.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal wawasan yang luas dalam penguasaan pelbagai literatur kuno, Badawî menerangkan dengan jelas pengaruh Islam terhadap Barat. Buku yang berkisah tentang Komedi Tuhan karya Dante merupakan salah satunya. Buku tersebut terinspirasi kisah dari beberapa literatur Islam era klasik.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dikomparasikan dengan buku sejenisnya, yaitu buku Baina al-Madaniyah al-‘Arabiyah wa al-Ûrûbiyah karangan Muhammad Kurdî Alî, niscaya kita akan menemukan keterkaitan keduanya. Kalaulah Kurdî Alî menceritakan fakta historis kegemilangan Islam Abad Pertengahan, Badawî memperkuatnya dengan bukti ilmiah kegelimangan Islam melalui kemahirannya dalam mendalami literatur klasik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badawî menjabarkan setiap bagian bukunya dengan rapi. Dia menceritakan setiap detil kemenangan Islam Abad Pertengahan dalam beberapa aspek. Badawî mengawalinya dari aspek sastra dan berhenti pada aspek arsitektur Arab. Sedangkan Kurdi Ali –dalam bukunya- lebih menitikberatkan pengaruh Islam terhadap Barat atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teori tentang keterpurukan Islam pasca Abad Pertengahan dituliskan Kurdî Alî dalam bukunya. Sedang Badawî tak muluk-muluk mengais faktor tumbangnya peradaban Islam tersebut. Dia tak lebih hanyalah pemacu semangat keilmuan Islam terkini. Melalui spirit literatur klasik yang sudah lama ditekuni, dia berharap pada setiap pembaca untuk menyelami peradaban Islam yang sarat akan nilai imani.  &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Sangat sayang buku ini bila tak dimiliki para peminat diskursus sejarah Islam Abad Pertengahan. Yang disampaikan buku ini tak hanya berkisar pada peran penting Arab terhadap Eropa. Namun juga mengetengahkan proyek pendalaman turâts demi memperkuat peradaban Islam. Selamat membaca![]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[] This article was editted and presented on April 3rd 2008 at Second Gate of Tenth District, Nasr City, Cairo, Egypt.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-6788673159890935431?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/6788673159890935431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=6788673159890935431' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/6788673159890935431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/6788673159890935431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/10/daur-al-arab-f-takwn-al-fikr-al-rb.html' title='Daur al-‘Arab fî Takwîn al-Fikr al-‘Ûrûbî'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-4129639406719597261</id><published>2008-10-21T18:13:00.001+02:00</published><updated>2008-10-21T18:18:44.415+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Stories'/><title type='text'>Sang Pencuri</title><content type='html'>Aku masih diam. Bias bayangan gadis itu menggangguku. Semacam ada salah mendera, ada penyesalan tak terlua, dan ada secarik perasaan berdosa. Namun bagaikan hujan mencurah, semua hanya tinggal rasa, perasaan seorang pencuri. Aku telah mencuri buku diktat kuliahnya. Padahal aku yakin barang itu teramat sangat berharga baginya. Aku masih sibuk dengan perasaanku, rasa bersalah dan berdosa.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Izzayik, Ya Madame?” Sapa gadis itu tiba-tiba. “Alhamdulillah.” Jawabku kemudian.Wajahku pucat masam saat dia menyapaku. Namun seketika itu, keanehan terjadi. Aku tak melihat hal yang terjadi padaku ini terjadi padanya. Padahal, barangnya baru saja aku curi. Tak ada sedikitpun garis kesedihan terbias di wajahnya yang manis. Malahan senyum simpul tersungging dari lesung pipinya. Aneh, pikirku. Sementara dia kelihatan begitu tenang. Aku juga berusaha tak menampakkan rasa takut walaupun aku sulit menyembunyikan kecamuk perasaan dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Madame, apa Madame melihat tas yang saya taruh di sini kemarin?” Gadis itu bertanya padaku. “Nggak, Nak. Saya kemarin cuma sebentar di sini. Saya tak melihat ada tas di sini.” Meyakinkan dan datar kujawab pertanyaannya, seolah aku benar-benar tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Madam, kalau saya boleh curhat ke Madam, saya mohon Madam sudi mendengarkan. Saya di sini sebatang kara, tiada ayah dan ibu. Madam mau kan saya anggap sebagai ibu saya?” Tiba-tiba dia berkeluh kesah dan mau jadi anak angkatku. Aku hanya mengangguk pelan. Tanpa suara dan kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya dari Indonesia, Madam. Indonesia sangat jauh dari Mesir. Saya adalah harapan negeri saya. Bagaimana saya akan lulus ujian kalau buku diktat saya hilang? Saya merantau ke Kairo hanya karena saya ingin mencari ilmu dan meraih cita masa depan saya.” Dia melanjutkan keluh kesahnya. Kulihat tetesan air mata mulai mengalir dari kedua kelopak mata menuruni kuning langsat pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai dia bicara, aku menyela. Aku merasa bicaranya menuduhku, “Jadi kamu menuduhku ya? Kenapa kamu tak menuduh orang lain? Walau bertampang gembel, tapi saya bukan pencuri, Nak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak, Madam. Jangan salah sangka, sama sekali tak terlintas pikiran seperti itu. Saya hanya ingin berkeluh kesah pada Madam. Siapa tahu Madam kemarin tahu pencurinya. Madam, Madam punya anak kan?” Tanya anak itu seolah mengalihkan topik pembicaraan.“Ya,” jawabku singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat anak-anakku. Aku sedih. Anakku lima. Tiga diantaranya lulus ibtidâî. Mereka kini seprofesi denganku, pencuri. Satunya masih kelas enam ibtidâi, dan yang bungsu satu ibtidâî. Aku memang Ibu yang tak becus. Perasaan itu muncul begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Cahaya bulan purnama masih berseri-seri, tak tertutup awan. Semilir dingin angin gurun campur debu masih seperti malam-malam kemarin, setia menemaniku. Aku duduk sendirian di balik jendela, menerawang lapisan langit di angkasa. Deru penyesalan menguasai, menciutkan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memori pencurian itu mengusik lagi, lekat sekali dan sulit dihindari. Meski biasa mencuri tapi pencurian kali ini lain, membawa ketaktenangan batin. Baru kali ini seperti ini. Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan berkelebat uncul begitu saja. Hari itu aku bertemu dengannya di masjid. Kuamati tasnya yang cantik. Aku yakin di dalamnya terdapat uang, HP dan barang berharga lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika keadaan dalam masjid mulai sepi, aku berkata padanya, “Nak, kamar mandinya mau diperbaiki. Kalau mau wudhu, harus sekarang.” Sejurus aku gunakan tipuan jitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia begitu polos, tak mengerti apa-apa, menurut saja. Aku tahu, pasti dia masih anak baru. Saat pergi ke kamar mandi, dia lupa membawa tasnya. Melihat dia masuk, tas yang kukira beisi barang berharga langsung aku sambar. Lalu pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hore, hari ini aku banyak uang. Tunggu aku, Anak-anakku sayang!” Rasa gembiraku menguasai karena kudapati curian berharga. Namun kebahagiaan itu hanya sesaat. Sebab ketika kubuka, tas itu hanya berisi beberapa buku diktat dan al-Qur’an. Tak apalah, setidaknya aku mendapat tas sekolahnya. Tas sekolah ini akan kuberikan pada anakku, pikirku. Saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari dan minggu pun berlalu. Namun aku tak kunjung mengembalikan tas itu. Walau aku tersadar bahwa buku diktat di dalamnya itu sangat penting baginya. Untuk mahasiswa seusia dia, buku diktat adalah segala-galanya. Aku merasa kasihan. Lagi-lagi, tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. Aku masih memiliki anak di bangku sekolah dasar. Mereka benar-benar membutuhkan buku, SPP, dan peralatan sekolah. Dan semuanya itu hanya bisa ditebus dengan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini, aku malah mengambil hak itu. Hak yang sangat berharga dari seorang anak, anak yang jauh-jauh belajar ke negaraku ini. Pastinya anak itu memiliki kebutuhan yang sama dengan anakku. Apa yang telah kulakukan padanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Mama, bukuku hilang. Bagaimana saya bisa belajar, Mama? Besok saya ujian, Mama.” Anakku yang duduk di kelas enam ibtidâî mengadu. Lamunanku buyar mendengar aduan serta tangisannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ceritanya aku tahu bahwa tas yang dipakainya ternyata sangat menarik hingga pencopet pasar berhasrat mengambilnya. Ya, tas yang kucuri di masjid itu telah kuberikan pada anakku. Namun tas itu sekarang tak kuketahui ujung rimbanya. Ganti dicuri orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, apakah ini hukum karma ya?” Tanyaku dalam benakku. Ya Allah, buku itu sangat penting untuk anakku. Aku tak mau gagal dalam ujian hanya karena bukunya hilang. Aku lemas seketika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erat kupeluk tubuh anakku. Airmataku berlinang membasahi punggungnya. Aku tak kuasa menahan. Deras, semakin deras. Aku terantuk pada dua pilihan, antara harus menghadapi kenyataan atas penderitaan anakku dan kenyataan bahwa aku juga seorang pencuri.&lt;br /&gt;Ya Allah, kenapa ini terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyesalan tak berkesudahan membawaku pada satu keputusan, aku harus menemui gadis itu. Aku sedih atas segala yang menimpa keluargaku. Penyesalan ini tumbuh bersama musibah yang menimpa anakku. Betapa bodohnya diri ini yang tak pernah mau mengerti keadaan orang lain. Ya Allah, ampunilah dosa hamba-Mu ini. Aku menyesali segalanya. Aku insyaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulangkahkan kaki menuju masjid. Walau terseok-seok melangkah akhirnya sampai juga di depan tangga menuju pintu masuk mushallâ li al-sayyidât. Jantungku berdegup, makin lama makin kencang. Rasa takut dan was-was menghantui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanganku menyisir tiap-tiap sudut masjid. Nihil. Tak kutemukan gadis itu. Aku tertegun sejenak. Urat nadiku berdetak pelan, sedikit demi sedikit. Aku hentikan langkahku sebentar, menenangkan diri. Aku sedikit tenang. Namun aku tetap tak kuasa menahan beban penyesalan. Antara ketenangan karena aku belum bertemu gadis muda Indonesia dan beban kupikul di atas pundakku. Segala penyesalan saling berbenturan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersabar menanti gadis itu muncul. Dalam penantian panjang, aku beristighfar atas segala kesalahan yang kulakukan, bersalawat dan memuji Yang Maha Pengasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam menunggu, terdengar suara langkah kaki dari balik tangga. Jantungku berdegup kencang. Aku yakin itu dia. Ah, bukan. Itu bukan dia. Aku kembali tenang. Aku menunduk sebentar. Sejenak kemudian aku mengangkat kepala. Mataku menyisir ke pojok masjid sebelah kanan. Aku melihat gadis itu. Roman wajah yang tak asing lagi bagiku. Dia sedang salat Dhuha. Aku mendekatinya. Ya Allah, benar. Dia gadis itu. Gadis yang selama ini telah kurisaukan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai salat, aku menatapnya. Dua tetes kristal bening dari bola mataku membasahi kedua tanganku. Aku mendekatkan diri, lebih dekat lagi. Aku tak kuasa berkata. Aku memeluk tubuhnya seolah tak ingin sedikit pun melepaskan. Seolah kutub negatif tubuhku telah terikat oleh kutub positif tubuhnya. Gadis itu terperanjat, tak faham dengan tingkahku. Dari raut mukanya aku tahu dia kaget dan heran. Seolah ribuan tanda tanya besar dan kecil berbagai bentuk dan warna berputar di atas kepalanya. Apalagi tangisku ikut meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak, tangisku reda. Kulepas pelukanku. Satu demi satu tanganku terpisah dari punggungnya. “Apa kabar, Nak. Siapa namamu?” sapaku kemudian. “Alhamdulillâh. Saya baik-baik saja. Nama saya Karimah. Dan Anda, bagaimana kabar Anda? Sehatkah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya juga, Nak,” jawabku kemudian. “Nona muda, saya mau minta maaf atas segala kesalahan saya selama ini.” Pintaku padanya penuh harap. “Maaf, Madam. Saya sungguh tak mengerti maksudmu. Madam, Madam salah apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, sebenarnya selama ini aku berbohong padamu. Akulah pencuri tasmu itu, Nak. Maafkan aku, Nak. Maafkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Madam jangan merasa menyesal seperti itu. Saya sudah mengcopy buku dari teman. Madam jangan khawatir.” Jawabnya santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, aku ke sini hanya bisa mengembalikan buku karena tasmu telah raib dicuri orang, Nak. Dengan apa saya harus menggantinya? Maafkan saya, Nak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Madam, saya tak butuh tas saya lagi. Saya hanya butuh buku diktat saya. Kalau Madam mengembalikan buku diktat saya saja, saya sangat senang sekali.” Gadis itu menjawab tanpa menyisakan gurat dendam sama sekali padaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusodorkan padanya buku diktatnya. Tersenyum ianya padaku. Aku merasa damai. Setelah itu, aku berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Madam, kemarilah, Madam!” gadis itu memanggilku kembali. “Ada apa, Nak.” Tukasku sambil terus mendekatinya. “Nggak, Madam. Saya hanya mau memberi ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengeluarkan uang kertas dua puluh pound-an, disodorkannya padaku. Aku menolak. Namun gadis itu tetap memaksa dengan menyatukan ujung jarinya dan menggerakkannya di hadapanku pertanda memohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mampu mengelak. Aku terima uang itu dan kucium kedua pipinya berkali-kali. Airmataku makin lama makin kurasakan semakin deras dan tak kuasa kutahan. Kubiarkan berlinang membanjiri wajahku. Aku berat meninggalkan rasa haru yang diam-diam menyelinap di kalbu. Andai dia merasakan apa yang kurasakan sekarang? Seandainya... Ya, seandainya...[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih bahasa:&lt;br /&gt;Izzayik   : Apa kabar?&lt;br /&gt;Madam   : Sapaan dialek Mesir untuk Nyonya&lt;br /&gt;Mama    : Sapaan dialek Mesir untuk Ibu&lt;br /&gt;Mushallâ li al-sayyidât : Mushallâ untuk perempuan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-4129639406719597261?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/4129639406719597261/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=4129639406719597261' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/4129639406719597261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/4129639406719597261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/10/sang-pencuri.html' title='Sang Pencuri'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-7822597943913931314</id><published>2008-09-16T11:17:00.001+02:00</published><updated>2008-09-16T11:21:42.616+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Emotions'/><title type='text'>Mengetuk Pintu Taubat</title><content type='html'>23 tahun lalu…&lt;br /&gt;Orokku terlahir&lt;br /&gt;Menyimak dentingan tangisku, &lt;br /&gt;Hati Ibu berdesir&lt;br /&gt;Bibir Bapak melecut takbir&lt;br /&gt;Sukacita sanak enggan bertabir&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kala itu&lt;br /&gt;Putih hati bersinar binar&lt;br /&gt;Wajah tak berdosa tersirat benar&lt;br /&gt;Jernih akal enggan bernanar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini…&lt;br /&gt;Limbung diri penuh maksiat&lt;br /&gt;Poranda hati menapak pekat&lt;br /&gt;Titah-Mu padaku hanya melewat&lt;br /&gt;Dosa tercatat melimpah pesat&lt;br /&gt;Akankah taubat-Mu daku mendapat&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tuhan…&lt;br /&gt;Izinkan hamba menuai taubat &lt;br /&gt;Tersebab rahmat-Mu nian berlipat&lt;br /&gt;Harap maksiat enggan melekat&lt;br /&gt;Menghapus durja dunia yang meliuk rapat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.: Rabbanâ dzolamnâ anfusanâ wa in lam taghfir lanâ wa tarhamnâ lanakûnanna min al-&lt;br /&gt;   Khâsirîn&lt;br /&gt;.: Islamic Mission Egypt [08 Sep 2008 9:39 AM]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-7822597943913931314?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/7822597943913931314/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=7822597943913931314' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/7822597943913931314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/7822597943913931314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/09/mengetuk-pintu-taubat.html' title='Mengetuk Pintu Taubat'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-2655076895213661271</id><published>2008-09-08T13:42:00.000+02:00</published><updated>2008-09-08T14:07:26.419+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Emotions'/><title type='text'>Arogansi Itu</title><content type='html'>Arogansi itu… &lt;br /&gt;Umpama bulu-bulu emas &lt;br /&gt;Kujaga rapi&lt;br /&gt;Hati-hati…&lt;br /&gt;Kuraba,&lt;br /&gt;Kucium,&lt;br /&gt;Kusembahkan ke khalayak ramai&lt;br /&gt;“Saksikanlah-saksikanlah”, pekikku di tengah hiruk pikuk yang makin menyeranai&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Arogansi itu…&lt;br /&gt;Tersebab munafik diri tlah kuasai&lt;br /&gt;Daku-ku tlah selubungi &lt;br /&gt;Himbau baik enggan kupenuhi&lt;br /&gt;Kebenaran serupa hitam pekat di hati&lt;br /&gt;Kejujuran bagiku hanya sebatas katup kedua bibir ini&lt;br /&gt;Amanat sulit tertempuhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ups, hamba terlupa…&lt;br /&gt;Otak dan hatiku tak terjaga&lt;br /&gt;Otak pusing, sekujur tubuh terasa pening,&lt;br /&gt;Hati terluka, tak sekujur tubuh saja yang terluka,&lt;br /&gt;Duniaku hancur…&lt;br /&gt;Porak poranda,&lt;br /&gt;Diterjang berbagai bala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arogansi itu, &lt;br /&gt;Harus segera kujauhi&lt;br /&gt;Otak dan hatiku, &lt;br /&gt;Harus kuatur rapi &lt;br /&gt;Tak rela jatuh diri &lt;br /&gt;Di lembah nista yang terjal berduri&lt;br /&gt;Untuk kesekian kali…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yâ Robbî… &lt;br /&gt;Maaf diri yang arogansi tak indahkan koreksi&lt;br /&gt;Maaf diri atas tinggi hati enggan introspeksi&lt;br /&gt;Ihdi… Ihdi… Ihdi… Ihdinâ al-Shirâth al-Mustaqîm&lt;br /&gt;Âmîn…&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-2655076895213661271?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/2655076895213661271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=2655076895213661271' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/2655076895213661271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/2655076895213661271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/09/arogansi-itu.html' title='Arogansi Itu'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-4396429320016316216</id><published>2008-09-08T13:39:00.001+02:00</published><updated>2008-09-08T13:41:30.554+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Emotions'/><title type='text'>Krisis Pe De</title><content type='html'>Kita tak bisa berkutik&lt;br /&gt;Kecuali Allah akan membantu kita&lt;br /&gt;Kita tak bisa apa-apa &lt;br /&gt;Kecuali Allah akan memberikan kekuatan dan kemampuan pada kita&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pun…&lt;br /&gt;Kita harus berusaha sekuat tenaga&lt;br /&gt;Untuk bisa,&lt;br /&gt;Bisa,&lt;br /&gt;Dan bisa&lt;br /&gt;Sebab kekuatan itu hanyalah milik-Nya…&lt;br /&gt;Sebab kita yakin Allah pasti akan selalu dan selalu membantu hamba-Nya&lt;br /&gt;Menyemaikan sepercik sinar kekuatan-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah!&lt;br /&gt;Kau akan bisa &lt;br /&gt;Bila kau mencobanya&lt;br /&gt;Yakinlah…&lt;br /&gt;Yakinlah…&lt;br /&gt;Yakinlah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.: Kullu sanah wa nehna chaiyo!!! Hehehe…&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-4396429320016316216?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/4396429320016316216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=4396429320016316216' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/4396429320016316216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/4396429320016316216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/09/krisis-pe-de.html' title='Krisis Pe De'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-9158737126205864104</id><published>2008-09-08T13:26:00.001+02:00</published><updated>2008-09-08T13:32:02.207+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Diaries'/><title type='text'>Kembali Pada 'Khittah' Pembelajaran</title><content type='html'>Berbagai persoalan akhir-akhir ini ‘agak’ mengendurkan semangat pacuan belajar yang selama ini tertempuh. Saya tersadar bahwa saya tak sepenuhnya harus menyelesaikannya dengan menyerah pasrah pada keadaan. ‘Mati dalam senyap’ jangan sampai saya jadikan keputusan. Saya harus merevitalisasi kondisi saya dengan segera. Tersebab banyaknya tanggungjawab saya terhadap orangtua yang belum saya penuhi.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, walaupun saya tak sempat mencurahkan kepada siapapun, Tuhan mengijinkan saya menggapai ‘semangat pembelajaran’ itu setitik demi setitik. Berawal dari muhasabah diri, saya menemukan fakta ‘kekurangan’ yang saya miliki itu. Sebenarnya, ‘kekurangan’ ini sudah saya sadari sedari awal. Saya tak akan berapologi. Terlebih masukan yang ‘disampaikan’ beberapa waktu lalu adalah batu pijakan kebaikan pada diri. Why not?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam purnama lewat, ketika menghadapi persoalan yang ‘mirip’, saya akhiri dengan penyelesaian ‘unik’. Pesan Bapaklah yang kembali menarik saya untuk meningkatkan diri, “Jangan minder, kecil hati, kecewa, putus asa karena kegagalan, pernah jatuh, pernah bersalah, pernah berdosa, lemah, dan cacat kodrat. Untuk melangkah maju, benar, bermanfaat, dan bersyariat. Ingat! Hidup atau umur itu amanat! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun lalu seorang kawan pernah berpesan, “Kalau saya pribadi, saya tak akan pernah peduli dengan apa yang orang omongkan tentang saya. Saya justru takut dengan apa yang terjadi dengan diri saya. Sudah benar belum saya berbuat begini? Sudah ikhlas belum? Kalau ini saja diri saya sudah merasa terganggu, saya seolah tidak menjadi diri saya yang sebenarnya.” “Bijak,” pikir saya kemudian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada nasehat kawan saya tersebut, sedari awal ketika saya bersahabat, saya tak berpikir untuk to take. Saya ingin membantu sahabat saya berubah kalau perubahan itu benar-benar diinginkannya. Sang Bapak juga pernah berpesan, “to give, to give, to give, and to take” Tuhan, hamba mohon ampunan kalau niat tulus saya ini agak meleset dari linier yang seharusnya saya tempuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, setelah semua terjadi, ‘kembali kepada khittah pembelajaran yang seharusnya’ adalah satu-satunya solusi tepat. Sama dengan menyelesaikan persoalan enam purnama silam. Saya tak boleh berhenti belajar. Seandainya diri saya adalah kumpulan organ yang terorganisir, otak saya akan memerintahkan nurani untuk mengadakan acara perploncoan atau reorientasi pada seluruh organ tubuh ini. Tuhan, berikan hamba kekuatan![]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.: Idem itu akan selalu ada. Bagaimana dengan Idem Anda?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-9158737126205864104?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/9158737126205864104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=9158737126205864104' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/9158737126205864104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/9158737126205864104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/09/kembali-pada-khittah-pembelajaran.html' title='Kembali Pada &apos;Khittah&apos; Pembelajaran'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-4444428474522068801</id><published>2008-08-30T09:37:00.000+02:00</published><updated>2008-08-30T09:38:52.466+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Opinions'/><title type='text'>Pembaharuan “al-Azhar” Mazhab Indonesia</title><content type='html'>Pada kita, sejarah pernah bercerita tentang sosok wazir Malik Syah –pendiri Madrasah Nizamiyah- dan pengaruh kuatnya. Sejak awalnya, madrasah ini memiliki manajemen yang sangat rapi. Para pelajar lalu-lalang menuntut ilmu di madrasah tersebut. Bilangan mereka sangatlah banyak. Konon, jumlahnya mencapai 6000 orang. Yang istimewa, Nizamiyah telah menetapkan sistem penerimaan murid baru, ujian kenaikan kelas dan ujian kelulusan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kini, kisah sukses Madrasah Nizamiyah seperti menjelma kembali pada cerita kesuksesan Korea Selatan dan India. Dua negara ini layak memperoleh apresiasi lantaran dukungan kuat pemerintahannya terhadap infrastruktur pendidikan. Korea Selatan, sebagaimana penjelasan Organization for Economic Cooperation and Development mengalokasikan 7,1 persen dari gross domestic product-nya untuk kebutuhan pendidikan rakyatnya. Dan nominal tersebut berhasil mengantarkan Korea Selatan sebagai negara terunggul dalam investasi pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal dana pendidikan yang cukup besar, Korea Selatan berhasil menggoncang dunia. Jika ditilik, pada tahun 2007, persentase populasi kelulusan dari perguruan tinggi di Korea beranjak posisinya dari urutan ke-17 ke posisi ke-3. Untuk kategori proporsi penduduk ideal dalam pendidikan, Korea berhasil mengalahkan 24 negara lain yang juga berperingkat. Utamanya, untuk taraf usia 45 sampai 54 tahun, 49 persen warganya mengenyam pendidikan SLTA.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belahan Selatan, India pun tak mau kalah. Kepedulian India pada anak negerinya yang tengah belajar di luar negeri patut diacungi jempol. Artikel Yale Global Online menyebutkan bahwa India mengalokasikan dana sebesar 3 miliar dollar AS untuk memfasilitasi kebutuhan belajar. Dari segi pendidikan dalam negeri, walau memiliki kualitas fisik, bangunan, dan infrastruktur yang relatif sederhana, India memiliki mutu pendidikan bertaraf internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga sample di atas, sesungguhnya memberikan satu kesimpulan menarik bahwa otoritas pemerintah sebagai pemegang kekuasaan mempunyai pengaruh mendalam bagi bidang pendidikan. Ini bermakna bahwa kebijakan sang penguasa yang berpihak pada dunia pendidikan akan menjadikan pelaku dunia pendidikan berkonsentrasi penuh. Dunia pendidikan akan berjalan sesuai dengan harapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah niatan serupa, beberapa waktu ini, nampak jelas dalam kebijakan KBRI dengan gawe besar bernama lokakarya. Semangat membuncah itu dimaksudkan sebagai salah satu upaya mengupas habis problematika studi Masisir seraya memberikan serangkaian tawaran solusi. Bila demikian, apresiasi yang besar layak kita atributkan pada KBRI tentunya. Walau dengan harap-harap cemas, semoga kelak lokakarya tersebut mampu memberikan warna terbaru bagi proses akademik kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun mulia, sayangnya, ada satu hal tak sepele yang ‘belum sempat’ diperhatikan KBRI. Al-Azhar bukan milik Indonesia. Dia adalah mutiara sungai Nil sekaligus karya monumental anak negeri Musa. Kita tentu tak bisa gegabah begitu larut turut serta dalam permasalahan di seputarnya. Dia masih memiliki pemerintahan sendiri. Juga kewenangan dan karakteristik. Sebelum daya dianggap kesia-siaan, kita harus paham bahwa semua itu pada akhirnya adalah tawaran semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua sadar, al-Azhar sebagai pemegang tampuk pendidikan pelajar dan mahasiswanya memang perlu mulai menata diri. Sekalipun perkembangan al-Azhar tiap tahun terlihat cukup memuaskan, seperti nampak dari banyaknya dana yang disalurkan, berdirinya bangunan sekolah dan universitas baru, namun faktor-faktor ini tak kunjung mampu mengantarkan al-Azhar pada titik sukses yang diharapkan.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Azhar mungkin tengah di persimpangan. Terlebih, dewasa ini, corak ragam konsep lembaga pendidikan banyak ditawarkan. Al-Azhar sedang berhadapan dengan dinamika dunia pendidikan yang semakin tak tentu arah. Pelbagai iklim persaingan antar lembaga pendidikan kian tak tertahankan. Fenomena-fenomena eksternal itu sudah seharusnya menyulut al-Azhar untuk segera menentukan orientasi studi yang jelas dan tak gamang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laiknya institusi pendidikan lain, al-Azhar perlu mengentaskan dirinya dari “kemiskinan” tujuan pendidikan. Al-Azhar tak boleh lagi disalahprasangkai. Seperti anggapan sebagian kalangan bahwa lulusan al-Azhar berpotensi menjadi kiai. Komunitas lain tak kalah seru berpendapat. Bagi mereka, al-Azhar cukup membekali alumninya agar mampu menjadi muslim yang berkepribadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kata lain, al-Azhar harus mau membuka diri pada perubahan. Dulu, konsep progresif bagi al-Azhar sudah muali disuguhkan. Muhammad Abduh mengawalinya dengan upaya modernisasi kurikulum pendidikan. Dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah hingga Universitas. Konsep perubahan juga pernah ditawarkan Hamdi Zaqzuq. Sayang, tak mempan. Tetap saja Al-Azhar mati suri. Belum lagi kebijakan politik pemerintah Mesir yang kerap berseberangan menghantam stake holders al-Azhar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan al-Azhar kian kedodoran. Padahal, di masa silam, ketenaran al-Azhar demikian meraja. Sejarah al-Azhar bersaksi bahwa para penguasa Mesir berupaya keras bertanggungjawab pada pendanaan al-Azhar. Dari khalifah, pejabat hingga kaum bangsawan. Input berupa wakaf yang diberikan –pada masa lalu- berhasil menghasilkan output yang luar biasa. Banyak ulama besar hasil didikan al-Azhar malang melintang di ranah keilmuan Islam. Seperti Ibnu Khaldun, al-Farisi, al-Suyuthi, al-‘Aini, al-Khawi, al-Maqrizi dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragisnya, kini, generasi muda yang mengecap bangku al-Azhar mengalami kegamangan. Mereka tak mampu meneladani cerita keemasan al-Azhar. Juga ada kesenjangan komunikasi di sini. Akhirnya, anak didik al-Azhar tak kuasa sepenuhnya menentukan cita-cita. Kevakuman orientasi al-Azhar dan ketiadaan komunikasi yang sehatlah beberapa di antara sebab kemunduran tersebut. Berpijak dari sini, al-Azhar harus didorong untuk mempertegas orientasi pendidikannya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dipahami, lokakarya merupakan propaganda akademik.  Di dalamnya, pejabat selayaknya juga menyoal kevakuman orientasi tersebut. Agar nanti lokakarya mampu serupa korek api. Bisa menyalakan semangat, sekalipun belum tentu abadi. Dia seolah lidi. Tak berdaya guna jika tak berbentuk sapu. Perlu ratusan bahkan ribuan propaganda dari berbagai pihak. Baik negara asal anak didik al-Azhar, otoritas kekuasaan, masyarakat Mesir. Bahkan umat Islam sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, propaganda akademik semacam ini perlu diadakan secara terpadu dan serentak. Dimulai dari bawah sampai atas untuk menyerap aspirasi sekaligus koreksi. Dan semoga al-Azhar segera bangkit setelah sekian lama tak siuman.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-4444428474522068801?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/4444428474522068801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=4444428474522068801' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/4444428474522068801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/4444428474522068801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/08/pembaharuan-al-azhar-mazhab-indonesia.html' title='Pembaharuan “al-Azhar” Mazhab Indonesia'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-2913886837255862703</id><published>2008-08-30T09:32:00.002+02:00</published><updated>2008-08-30T09:36:16.329+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Opinions'/><title type='text'>Mahasiswi Sekedar Pemanis? Jawaban bagi yang ragu!</title><content type='html'>“Ah, namanya cewek, kiprahnya di Masisir itu cuma buat pemanis doang. Nggak bisa diandalin, capek deh!!!” Sebuah opini yang beberapa kawan lontarkan tersebut mengilhami saya untuk mengejawentahkannya sebagai obyek penulisan saya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Serta merta saya seolah ditimpuk berbagai lambang tanda tanya lengkap dengan pertanyaannya di atas kepala; apakah benar mahasiswi kita adalah pemanis? Latar belakang apa yang membawa mereka melontarkan klaim tersebut? Terus apa solusinya? Beberapa pertanyaan tersebut selalu saja menyelinap namun saya belum bertatap muka dengan solusinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah selayaknya segera ditanggapi dan dicari jawabannya. Semakin penuh pertanyaan, semakin saya tidak menemukan solusinya. Bagi saya, opini tersebut layak dicermati lebih dalam lagi. Mengingat anggapan bahwa mahasiswi sebagai pemanis di berbagai kiprah kemahasiswaan memberikan sinyal keraguan atas kemampuan mahasiswi. Ini berarti masa sekarang tidak mampu mengangkat nilai-nilai mahasiswi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, pengalaman saya –meski subjektif—berkata lain. Dalam setahun perjalanan saya menjalankan amanah di organisasi induk mahasiswi, saya melihat jelas peran dan kredibilitas kerja mahasiswi. Misalnya, saya menemukan kepanitiaan co-mahasiswa-mahasiswi yang kerja lapangannya didominasi mahasiswi. Ketika itu, yang menjadi sorotan saya adalah bagian penerbitan jurnal di salah satu kepanitiaan PPMI. Dari rancangan kerja, penentuan tema, wawancara, hingga lay out, saya menemukan dominasi mahasiswi begitu kental. Bahkan ajaibnya, mereka mampu menerbitkan dua jurnal dengan rentang waktu kepanitiaan selama satu minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain kesempatan, saya juga pernah menemukan dominasi mahasiswi yang ketika itu mendapat amanah sebagai seksi acara sebuah kegiatan PPMI. Dominasi itu terlihat dalam pendataan peserta, menggerakkan peserta, hingga mengatur jalannya acara. Pengalaman saya ini tentu hanya sebagian kecil dari catatan sejarah peran mahasiswi pada masa-masa sebelumnya. (Lihat peran mereka di media-media Masisir, persidangan-persidangan dan penyelesaian masalah-masalah penting.) Sudah jelas, anggapan kiprah mahasiswi sebagai pemanis harusnya ditepis sejak jauh hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, bisa jadi opini miring soal mahasiswi muncul sebagai bias keadaan tanah air yang menjadikan wanita sebagai alat untuk kesenangan pria. Hal ini dikuatkan melalui siasat media massa yang menggunakan gambar wanita untuk melariskan barang-barang konsumtif, menyiarkan ide kontes ratu kecantikan atau kontes peragaan busana yang mempertontonkan aurat. Kenyataan ini, disamping bertujuan menarik minat pasar, tetapi juga tanpa disadari untuk menegaskan anggapan bahwa wanita hanya sekedar ‘pemanis’. Dan jadilah fenomena umbar aurat wanita sebagai satu-satunya dasar yang menunjukkan nilai dan statusnya di tengah-tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, banyak hal positif pada gerakan pemberdayaan wanita kontemporer. Pintu kesempatan untuk menggali potensi dan meningkatkan wawasan menjadikan dia mampu berkiprah dalam banyak bidang. Akan tetapi hal tersebut tidak menutup kemungkinan untuk mengatakan bahwa kebangkitan wanita ini dibarengi dengan banyak hal yang memperburuk moralnya dan jati dirinya. Hal ini terjadi lantaran makin bertambahnya jumlah wanita karir makin membuahkan persaingan tidak sehat di antara mereka. Lihat saja, banyak wanita karir ‘banting setir’: yang semula menuju profesionalisme kerja ‘membelot’ mengarah kepada ajang unjuk diri di hadapan kaum Adam atas nama ‘emansipasi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menyalahkan satu pihak pun, saya memandang perlu adanya koreksi dari kedua belah pihak, baik dari mahasiswi maupun dari pihak yang melontarkan opini miring tersebut. Hendaknya dari pihak pelontar opini memberikan dukungan dan mengupayakan pemberdayaan perempuan dalam aspek intelektual, moral dan spiritual sehingga semuanya jalan seimbang. Karena opini ‘pemanis’ yang mereka ketengahkan tersebut –sekali lagi- merupakan penghambat kesempatan mahasiswi untuk berkiprah di Masisir, meskipun saya tidak menafikan bahwa hal tersebut juga pemacu mahasiswi untuk menunjukkan jati dirinya sebagai mahasiswi muslimah yang berkarakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai otokritik untuk mahasiswi, hendaknya kita –mahasiswi- perlu menyadari bersama bahwa di dunia mana pun wanita terus jadi sorotan. Tindak tanduk, perilaku, dan nilai sopan santunnya selalu dicermati. Di sinilah kita bersama hendaknya hati-hati dalam bersikap dan tetap berusaha memberdayakan diri. Solusi beruzlah dan cenderung menghilangkan diri dari blantika kemasisiran bukanlah solusi tepat demi menjaga kredibilitas moral mahasiswi karena pandangan terhadap wanita sudah saatnya diubah, dari sekedar ‘pemanis’ menjadi manusia yang terhormat. Sehingga di sinilah diperlukan adanya peran aktif mahasiswi untuk mengubah opini tersebut, bukan hanya tinggal diam dan menghindar dari realita yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kita ketahui pula bahwa kita sebagai mahasiswi sudah saatnya menggalakkan budaya efektivitas orientasi mahasiswi dalam menjalankan fungsinya sebagai mahasiswi negeri asing yang diharapkan mampu mewarnai masyarakat kita yang multidimensional nantinya. Tentunya, budaya killing time, hedonis, shopping, travelling, chatting dan lain-lain yang mengarah pada disorientasi mahasiswi, perlu satu persatu kita kurangi prioritasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan momentum ini, kita perlu juga mengadakan penyadaran tiap-tiap pribadi (self awareness) akan perlunya peningkatan diri dari segi moral. Karena lagi-lagi, opini skeptis di atas hanya mengajak pada satu hal yaitu bahwa mahasiswi perlu mengislah tatanan moralnya dan menghindari tindakan yang salah, perbuatan yang merusak dan perilaku yang menyimpang (destroying behavior). Menurut hemat saya, proteksi moral mahasiswi terkadang wajib bukan hanya boleh. Pertama, karena seorang muslim lebih diharapkan untuk pandai bersikap dalam berbagai situasi termasuk menjaga kredibilitasnya. Ini didasari atas asumsi bahwa missi dakwah seorang muslim adalah bagaimana dia mampu memenej nilai-nilai Islam. Akan tetapi ini tidak menutup kemungkinan untuk memiliki nilai plus dalam menjajal segala kemampuan. Kedua, sebagai muslimah harus memaksimalkan aspek tsaqofahnya agar mampu menangkal berbagai ide-ide yang berusaha memarjinalkan muslimah. Ketiga, apabila seorang muslim kehilangan moralnya, maka dia telah kehilangan segala sesuatu yang dia miliki di dunia ini sebagaimana dipaparkan oleh sebuah peribahasa ‘who loses material of goods he loses nothing; who loses health he loses something; who loses moral he loses everything.’ Wallâhu a’lamu bi al-shawâb.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-2913886837255862703?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/2913886837255862703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=2913886837255862703' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/2913886837255862703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/2913886837255862703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/08/mahasiswi-sekedar-pemanis-jawaban-bagi.html' title='Mahasiswi Sekedar Pemanis? Jawaban bagi yang ragu!'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-7970376085395997842</id><published>2008-08-30T09:25:00.001+02:00</published><updated>2008-08-30T09:27:22.486+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Emotions'/><title type='text'>Cita-citaku</title><content type='html'>Cita-citaku…&lt;br /&gt;Umpama gores pena mengitari alam fikiran&lt;br /&gt;Yang tercarik dalam kanvas akal kejujuran&lt;br /&gt;Yang semakin berputar semakin membingungkan&lt;br /&gt;Manakah yang aku inginkan…&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cita-citaku…&lt;br /&gt;Terangkum dalam memori ingatan&lt;br /&gt;Kadang memori kan kuubah dalam ringkasan&lt;br /&gt;Sebagian kubuang&lt;br /&gt;Sebagian kutampung dalam akal fikiran&lt;br /&gt;Tapi yang kubuang meninggalkan ribuan harapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-citaku…&lt;br /&gt;Makin lama kufikirkan,&lt;br /&gt;Makin merisaukan&lt;br /&gt;Makin kutinggalkan,&lt;br /&gt;Makin menghancurkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-citaku…&lt;br /&gt;Kalau tak sebab harapku impikanmu&lt;br /&gt;Ikhlas diri tinggalkanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-citaku…&lt;br /&gt;Hanya tuk dirimu&lt;br /&gt;Kurela risau diri kuasai&lt;br /&gt;Kurela pekak menyelimut walau sunyi kusambut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-citaku…&lt;br /&gt;Dengan meraihmu,&lt;br /&gt;Kan kugapai cinta Allah&lt;br /&gt;Dengan meraihmu,&lt;br /&gt;Kan kutinggikan asma Rabbiku&lt;br /&gt;Dengan meraihmu,&lt;br /&gt;Kan kuraih pula ridlo Tuhanku&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-7970376085395997842?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/7970376085395997842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=7970376085395997842' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/7970376085395997842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/7970376085395997842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/08/cita-citaku.html' title='Cita-citaku'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-1189011991831378956</id><published>2008-08-22T17:32:00.001+03:00</published><updated>2008-08-22T17:37:13.439+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Researches'/><title type='text'>Keteladanan Memelihara Lingkungan</title><content type='html'>Indonesiaku yang permai kaya akan etika dan estetika alam nan artistik dan damai. Indonesiaku yang permai menampilkan semburat warna-warni yang cerah, elegan, dan menawan hati. Sejauh mata memandang, Indonesiaku selalu menampakkan senyumnya. Redup dalam balutan mayapada biru yang membentang luas ke angkasa raya. Fenomena alamnya mampu menyihir pelancong asing untuk –sedikitnya- merenggangkan urat-urat nadi yang tegang.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berbagai karunia Sang Khalik berwujud satu dan melestari di negeri ini. Negeri yang kaya akan puspa dan satwa. Melimpah dari bumi, udara dan lautnya. Hutan tropisnya memiliki lebih dari 70 persen jenis tumbuhan dan satwa. Ia juga pernah diketahui memiliki 515 jenis mamalia. Sebanyak 397 jenis burung sembaran terbang di langitnya.  Lautnyapun dihiasi terumbu karang dengan berbagai macam ikan yang melimpah ruah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sayang seribu sayang, kekayaannya tiap hari kian terkuras, alamnya mulai tercemar, flora dan faunanya sedikit demi sedikit mulai punah. Negeri ini berkali-kali diberitakan seakan segera hancur. Segala pujian atas keindahannya tak terdengar lagi. Prestasinya di mata dunia lambat laun meluntur. Dunia meyakininya sebagai salah satu negara penyumbang kepunahan keanekaragaman hayati. PBB pun menyinggungnya sebagai negara terbesar keempat pembuang emisi gas rumah kaca (Greenhouse Gas/GHG) di dunia, tak kurang menyedihkannya, Indonesia telah dicurigai sebagai negara ketiga penyebab global warning saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia kita akhir-akhir ini tengah disibukkan dengan perubahan iklim yang semakin tak menentu. Prakiraan cuaca semakin sulit diprediksikan. Tanda-tanda global warming ini telah begitu menakutkan. Tak pelak, kehidupan agraria Indonesia pun ikut terganggu, tetapi ironinya, di tengah kesulitan yang menimpa, negara ini malah rela dijadikan toilet karbon negara-negara maju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam dan Keteladanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena-fenomena miris di atas akan kontraproduktif jika dilihat dari kacamata apapun, khususnya perspektif agama. Agama dengan tegas mengecam segala bentuk perusakan, penyelewengan dan berlebihan. Islam sendiri sebagai agama dengan penganut terbanyak di negara ini jauh-jauh hari telah menegaskan kepeduliannya terhadap lingkungan dalam ayat-ayatnya. Salah satunya adalah perintah pada kaum muslimin agar bersikap proporsional terhadap apapun. Sebagaimana telah tertuang dalam al-Quran surat al-A’râf ayat 13: “Maka makanlah dan minumlah, dan jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang suka berlebihan.” Di tengah keadaan serba paceklik seperti saat ini hendaknya seorang muslim senantiasa mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhenti sampai di sini, ayat lain yang senada dapat kita jumpai dalam surat al-Baqoroh ayat 195. Ayat ini mewanti-wanti kita agar tidak mempergunakan produk yang dapat merugikan: “…Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu kepada hal yang akan membinasakanmu…” Bahkan, al-Qur’an dengan lantang bersuara memperingati mereka para penebang kayu liar di hutan-hutan: "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, setelah (Allah) memperbaikinya…."(Qs. Al A’râf : 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah memelihara lingkungan hidup turut digambarkan pula dalam sejarah perjalanan Nabi, yaitu bagaimana Rasulullah mewasiatkan pada pasukan perang Mu’tah untuk tidak menyakiti perempuan dan anak-anak, tidak melukai dan membunuh musuh yang sudah tak berdaya, tidak menebang pohon, merusak tanaman, membunuh binatang, dan menghancurkan bangunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah mengatakan: “Saya bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah ajarkanlah aku sesuatu yang dengannya Allah SWT memberikan manfaat kepadaku!’ Rasulullah pun berkata, ‘Lihatlah terhadap apa yang mendatangkan bahaya bagi manusia, kemudian buanglah dari jalan mereka (yang membahayakan itu)’”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampah, onak, dan duri yang ditemui di jalan tentu akan merugikan di kemudian hari, semangat hadis ini dapat terlihat jelas sebagai antisipasi menghindari kemudharatan. Nilai esensial perintah Nabi tersebut mengajak kita untuk menjaga ekosistem alam dan memeliharanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, dengan keteladanannya, agama dan sejarah kenabian berbicara tentang kepedulian lingkungan dan pentingnya menjaga ekosistem alam. Agama biasanya dijadikan sandaran terakhir bagi penyadaran diri manusia. Tak diragukan jika ajaran agama mengandung keteladanan tertinggi, para penyeru agamapun (Nabi) sudah tentu memiliki sifat-sifat mulia agar diikuti seluruh manusia. Para penganut agama seharusnya senantiasa berpegang teguh pada nilai suci keteladanan ajaran agamanya dan diharapkan mampu mengaktualisasikannya. Namun, harapan ini ternyata tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Survey di lapangan banyak membuktikan jika nilai-nilai agama pun semakin dimarjinalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencapai kesadaran memang bukan perkara mudah. Utamanya bangsa ini. Dengan banyaknya populasi muslim dan saling bermunculannya beragam kepercayaan tidak lantas berpengaruh besar pada kebiasaan buruk bangsa terhadap lingkungan. Berbagai penyuluhan, penghijauan dan konferensi hingga taraf internasional telah dilaksanakan. Tetapi tak banyak menghasilkan nilai positif pada kondisi alam bangsa. Tentu kita tak perlu mengkambinghitamkan orang lain, setiap pihak harus sama-sama berkaca pada dirinya masing-masing, kekeliruan dan kekurangan ini bukan milik perorangan, bukan karena sekelompok orang, atau karena kesalahan ajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang harus berani mengoreksi dirinya sendiri, berusaha menyadari pentingnya menjaga lingkungan dan melestarikan habitat alam, di samping tetap mentaati peraturan. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan hendaknya tidak hanya berpangku tangan dan berputar-putar dengan konsep kosong apalagi muluk-muluk. Bangsa ini menuntut pemecahan yang realistis, dan perbaikan segera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemimpin tentu dituntut memiliki sikap keteladanan, dan ini memang keharusan dari pekerjaannya. Keteladanan sejatinya harus berasal dari pemegang otoritas. Tanpanya, seorang pemimpin bakal jadi bahan cemoohan, tidak memiliki nilai tawar, dan hanya menunggu waktu diturunkan, maka tak heran jika rakyat hilang kepercayaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pendidik pun memiliki peran penting dalam mendidik diri dan lingkungannya, posisinya hampir mirip seperti tugas agama, apalagi hubungannya mempersiapkan generasi bangsa yang kompeten. Seorang pendidik hendaknya tidak hanya terpaku pada pencapaian target nominal siswa belaka, melainkan turut berperan aktif menggambarkan pada siswa  how to manage the value of environment dan sekaligus menjadi contohnya. Agar keteladanan yang dicontohkan benar-benar melekat dalam benak tiap siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika para pendidik, agamawan, pemimpin, dan semua orang di bumi ini memiliki kemauan menyadari pentingnya sebuah keteladanan dalam bersikap, maka segala masalah yang terjadi akan menemui perubahannya. Tidak, Indonesia masih belum hancur. Bangsa ini masih bisa diselamatkan. Dia –mungkin- masih terbius tak siuman. Potensinya masih belum habis, keindahannya bisa kembali terjaga, kekayaannya masih tersisa. Semua kemungkinan yang ada ini dapat dijadikan alat membangun kembali Indonesia, asalkan semua pihak memiliki komitmen pada perubahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaksanakan keteladanan dalam segala hal memang tidak mudah. Mendidik masyarakat dan generasi bangsa pada kebaikan juga membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tetapi ia akan segera dicapai jika semua ajaran, nasehat, dan penyuluhan  dapat dilaksanakan tiap individu. Sikap keteladanan yang ditunjukkan dalam hidup akan mengantarkannya pada hakekat tertinggi manusia, sebab kita telah menjalankan sesuatu yang kebanyakan manusia masih mendiskusikannya. Sehingga pada akhirnya, ia telah memiliki pegangan, mampu mengatur pola hidup, dan peka terhadap fenomena di sekitarnya, serta menyikapinya dengan penuh welas asih dan kelapangan dada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh indah jika kebersamaan membangun berjalan beriringan, kesadaran menjaga identitas bangsa menjadi kebanggaan, dan keteladanan menjadi ukurannya. Jika beberapa hal ini terpatri dan terlaksana, tak ayal lagi, kita bersama akan menyaksikan eksistensi Indonesia dengan sejuta aksesoris keindahannya yang mampu menghipnotis setiap netra untuk menyelami setiap sudut kekayaan alam orisinilnya. Bahkan, suatu saat –sangat mungkin- kita akan mendengar Indonesia kita didaulat sebagai negara teladan dalam memelihara eksistensi bumi persada. Semoga bangsa ini terjaga dari kesadaran pada keteladanan setelah kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-1189011991831378956?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/1189011991831378956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=1189011991831378956' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/1189011991831378956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/1189011991831378956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/08/keteladanan-memelihara-lingkungan.html' title='Keteladanan Memelihara Lingkungan'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-3884427893874100111</id><published>2008-08-22T17:28:00.001+03:00</published><updated>2008-08-22T17:32:10.078+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Opinions'/><title type='text'>Seandainya Hari-Hari Kita Adalah Ujian</title><content type='html'>Tak diragukan lagi, sebagian besar dari kita masih harap-harap cemas menanti keputusan nilai ujian dari kampus al-Azhar. Bayang-bayang lulus atau tidak serasa menjerembab diri. Semuanya hanya bisa menyerahkan segala yang terjadi pada Sang Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tentunya fenomena ujian –untuk saat ini- masih asyik diwacanakan. Dari cara belajar misalnya, niscaya akan kita temukan beberapa metode yang layak kita kaji. Terlebih karena mengkaji kembali hal tersebut akan menengedahkan kita untuk saling bermuhasabah dalam mencari solusi belajar terbaik.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang mahasiswi sempat saya utarakan pertanyaan tentang cara belajar. Sebagian menjawab bahwa seketika buku diktat terbeli, mereka membacanya hingga halaman terakhir dalam waktu satu hari. Lantas, mereka akan membacanya berulang-ulang hingga menjelang ujian. Saya tertegun atas tekad dan usaha mereka. Tak heran mereka meraih nilai yang tergolong istimewa tiap tahunnya. Sebaliknya, ada beberapa kawan sempat menuturkan bahwa mereka lebih suka menyicil bacaan diktat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe belajar mahasiswi pertama sangat menarik. Bermodalkan semangat belajar yang membuncah, setiap diktat habis dibaca dalam waktu satu hari. Hal ini akan semakin menarik apabila dia tak lupa memanfaatkan waktu seefisien mungkin untuk menelan habis buku non-diktat dalam waktu satu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat bergelayut kisah menarik di alam khayal saya. Membayangkan seorang mahasiswi yang dalam waktu tiga hari dapat menguasai buku sedetail mungkin. Satu hari untuk membaca. Satu hari untuk mengulang membaca hingga tiga atau empat kali. Dan satu hari untuk mempresentasikan di hadapan beberapa orang kawan. Wah, selepas menyelesaikan jenjang perkuliahan, tentunya dia kembali ke Indonesia dengan bermodal wawasan keilmuan.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, fakta tak sesuai harapan. Beberapa kawan sempat mengutarakan bahwa Masisir khususnya mahasiswi cukup menyelesaikan jenjang perkuliahan tanpa perlu neko-neko membaca buku non-diktat. Yang terpenting, setiap mahasiswi lulus dengan cepat tanpa perlu memperhatikan harapan masyarakat sekembalinya dari Mesir.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun saya mengetengahkan persoalan ini, bukan berarti saya menjustifikasi dekadensi intelektual mereka. Hanya saja, ada beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan pada penghambat progresifitas wawasan keilmuan mahasiswi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja yang pertama adalah faktor personal. Mahasiswi kita identik dengan perasaan kurang percaya diri dalam menjajal wawasan lain. Padahal, apabila dengan kemampuan segitunya kita mampu mengarahkan mereka, setidaknya akan kita temukan sosok perempuan intelek progresif di Masisir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor kedua lebih menekankan pada aspek komunal atau sosial. Perempuan terlahir ibarat daun putri malu. Yang apabila disentil sedikit saja, akan mengatupkan daunnya. Begitu juga dengan perasaan perempuan. Kalaulah mereka diiming-imingi permasalahan sosial, perasaan mereka cenderung menarik mereka. Buku yang berwawasan pun akan ditinggalkan. Seandainya mereka bisa memposisikan seimbang dan memanfaatkan waktu kosong, mereka bisa memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang keilmuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah penting adalah faktor institusional. Mahasiswi kita rupanya telah mencium ajaran bahwa perempuan lebih baik keluar masuk dapur, sumur dan kasur. Kalaupun ingin berwawasan luas, mahasiswi dapat menempuhnya dengan sekedarnya dan sebegitunya saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ditelisik lebih lanjut, ajaran  tersebut bersifat personal pada awalnya yang berkembang menjadi tradisi. Yang sangat disayangkan ialah apabila hal ini berbuntut pada pengakuan tiap personal bahwa ajaran tersebut adalah instruksi dari institusi. Padahal belum tentu ajaran tersebut berasal dari suatu institusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bisa saja terjadi disebabkan –mungkin- tiap personal kurang memahami visi misi institusi tersebut. Bisa jadi tiap personal bangga mengagung-agungkan institusi demi kemudahan mencapai tujuan.  Padahal, suatu ajaran akan semakin melekat apabila diakui secara personal, bukan berembel-embelkan institusi. Syukur-syukur hal ini menjadi kesadaran tiap pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah dan Pendidikan Perempuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah sebagai motor penggerak pendidikan Islam tak pernah lalai terhadap pendidikan perempuan di zamannya. Porsi pendidikan diberikan setaraf dengan kaum Adam. Kala itu, Nabi memberikan hak belajar, hak bertanya dan hak berdiskusi pada perempuan setaraf dengan laki-laki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejarah para sahabiyat, hingga beberapa perempuan yang berhasil mewarnai blantika keilmuan Islam. Khadijah –misalnya- menjadi ikon pelindung Nabi di kala menerima wahyu pertama. Aisyah tak kalah tandingan. Dia menjadi perawi hadis terbanyak dan aktif di majlis ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, pursuit of knowledge Nabi dalam mendidik kaum Hawa dan memperkuat peranannya di masyarakat diterapkan kembali oleh salah seorang pembaharu Mesir Rifa’ah al-Thahthawi. Baginya, perempuan berhak mengenyam pendidikan. Dia sarankan kepada setiap pendidik kaum Hawa untuk membiarkan sifat malu, segan, dan takut tetap menjadi atribut perempuan. Asalkan mereka berniat kuat untuk senantiasa belajar.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh indah membayangkan mahasiswi kita membaca buku selain diktat perharinya satu buku. Indah rasanya apabila kita mereferensi setiap buku yang telah kita baca. Indah rasanya apabila kita saling bertukar pikiran atas buku-buku tersebut. Tentunya, keindahan ini akan semakin indah terasa apabila kita sempatkan diri membaca kitab suci. Kecuali kalau mereka bangga dengan hidup hedonisme. Silakan saja!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-3884427893874100111?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/3884427893874100111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=3884427893874100111' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/3884427893874100111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/3884427893874100111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/08/seandainya-hari-hari-kita-adalah-ujian.html' title='Seandainya Hari-Hari Kita Adalah Ujian'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-1046648362972873218</id><published>2008-08-22T17:23:00.001+03:00</published><updated>2008-08-22T17:27:41.812+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Emotions'/><title type='text'>Seuntai Sajak Buat Ibu</title><content type='html'>Temaram kabut senja hiasi mayapada&lt;br /&gt;Hembus angin sentuhi setiap desir sukma&lt;br /&gt;Terbawa diri selami pancaran indah sinar mata seorang wanita&lt;br /&gt;Yang senyum tulusnya tak henti menebar bahagia&lt;br /&gt;Yang doanya tak jemu merajut makna&lt;br /&gt;Yang harapnya teguh tegar walau pedih melanda&lt;br /&gt;Kasih sayangnya penuh kesejukan &lt;br /&gt;Nasehatnya berikan kehangatan&lt;br /&gt;Belaiannya isyaratkan kekuatan&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dialah Ibu &lt;br /&gt;Tempatku berkeluh,&lt;br /&gt;Namun tak lekang walau keringatnya berpeluh&lt;br /&gt;Tempatku mengadu,&lt;br /&gt;Namun dia tak pernah sedetik pun berlalu&lt;br /&gt;Tempatku bersandar,&lt;br /&gt;Namun senyumnya tak rela memudar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Ibu…&lt;br /&gt;Di masa silam kau melepasku &lt;br /&gt;Merajut titian di negri kaya ilmu&lt;br /&gt;Teringat daku&lt;br /&gt;Ratap tangismu &lt;br /&gt;Peluh rindumu&lt;br /&gt;Tak sanggup hadapi ini semua&lt;br /&gt;Namun yakinilah Ibu…&lt;br /&gt;Asmamu di hatiku tak tergantikan&lt;br /&gt;Senyummu takkan pernah kulupakan&lt;br /&gt;Belaianmu lindungiku dari kehancuran&lt;br /&gt;Doamu kan penuhi semua harapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab waktu tlah kabarkan&lt;br /&gt;Aku bagimu adalah hiasan…&lt;br /&gt;Hiburan…&lt;br /&gt;Dan harapan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-1046648362972873218?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/1046648362972873218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=1046648362972873218' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/1046648362972873218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/1046648362972873218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/08/seuntai-sajak-buat-ibu.html' title='Seuntai Sajak Buat Ibu'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-6590564524502349578</id><published>2008-08-22T17:08:00.001+03:00</published><updated>2008-08-22T17:21:47.344+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Emotions'/><title type='text'>Salam Manis buat Sahabat</title><content type='html'>Untaian kata nan indah terdengar…&lt;br /&gt;Senyuman riang nan tumbuh merekah…&lt;br /&gt;Tangisan sayang nan slalu ternantikan…&lt;br /&gt;Canda tawa nan melegakan…&lt;br /&gt;Nasihat nan slalu tertuahkan…&lt;br /&gt;Sangat mahal tuk dilupakan…&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sahabat…&lt;br /&gt;Akankah jeruji-jeruji waktu…&lt;br /&gt;jeruju-jeruji jarak…&lt;br /&gt;mamisahkan persahabatan kita?&lt;br /&gt;Persahabatan kita…&lt;br /&gt;terbina oleh rasa saling menghargai&lt;br /&gt;yang tak kita harap,&lt;br /&gt;namun itu terjadi…&lt;br /&gt;Persahabatan kita…&lt;br /&gt;bagaikan bangunan&lt;br /&gt;yang pabila itu runtuh,&lt;br /&gt;kita bangun kembali…&lt;br /&gt;yang pondasinya tercipta karna kasih sayang…&lt;br /&gt;yang tiangnya berdiri atas dasar saling pengertian…&lt;br /&gt;yang atapnya menghangatkan hati ketika dingin…&lt;br /&gt;dan mendinginkan hati ketika panas…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarahan yang pernah terjadi di antara kita…&lt;br /&gt;Kebencian yang pernah memisahkan kita…&lt;br /&gt;Pertengkaran yang pernah menghiasi persahabatan kita…&lt;br /&gt;Adalah aksesoris kehidupan&lt;br /&gt;Pahit pabila dirasakan &lt;br /&gt;Namun mahal tuk dilupakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat …&lt;br /&gt;Pertemuan yang kita bina…&lt;br /&gt;ibarat awal perjalanan &lt;br /&gt;Persahabatan yang kita jalin…&lt;br /&gt;ibarat jalan yang tlah kita lalui&lt;br /&gt;Perpisahan yang tak kita harap…&lt;br /&gt;ibarat akhir segalanya&lt;br /&gt;Tapi…&lt;br /&gt;Jangan jadikan akhir sbagai kehilangan!&lt;br /&gt;Jangan jadikan akhir sbagai kemusnahan!&lt;br /&gt;Tapi akhir adalah awal perjuangan tuk tetap mengabadikan persahabatan…&lt;br /&gt;yang terpisah jarak dan waktu&lt;br /&gt;Jangan salahkan jarak dan waktu!&lt;br /&gt;Karna jarak dan waktu kita bersua…&lt;br /&gt;Karna jarak dan waktu kita berpisah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya…&lt;br /&gt;Untaian kata itu…&lt;br /&gt;Senyuman itu…&lt;br /&gt;Tangisan itu…&lt;br /&gt;Canda tawa itu…&lt;br /&gt;Nasihat itu…&lt;br /&gt;Sangat mahal tuk dilupakan&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;[]“Sahabat sejati bukanlah menyayangi sahabat yang sempurna untuk keuntungan diri, tetapi sahabat sejati adalah menyayangi sahabat  yang tak sempurna sepenuh hati”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-6590564524502349578?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/6590564524502349578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=6590564524502349578' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/6590564524502349578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/6590564524502349578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/08/salam-manis-buat-sahabat.html' title='Salam Manis buat Sahabat'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-1961459264846216471</id><published>2008-08-21T13:53:00.001+03:00</published><updated>2008-08-21T13:55:53.918+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Opinions'/><title type='text'>Perempuan di Tengah Arus Budaya</title><content type='html'>Makin marak saja ambisi persaingan manusia menguasai. Semuanya tak mau lapuk dalam menghadapi arus globalisasi. Berbagai produk terbaru ditawarkan, berbagai riset dilakukan, dan inovasi dihasilkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Jumlahnya pun tak sedikit. Tak hanya itu, ketenaran ditebarkan, kualitas ditingkatkan, dan laba tinggi diharapkan. Satu dan lainnya berpacu, berkarya, dan berusaha menarik simpati masyarakat demi tercapai arah tujuan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Persaingan yang membuncah tersebut bersumber dari dua kutub budaya, Barat dan Timur. Kesemuanya saling menghantam, menuntut, melainkan juga memiliki perbedaan yang vulgar. Tak dapat dipungkiri kedua kutub tersebut tak bisa menyatu atau mungkin tak ikhlas bila disatukan. Salah satunya menuntut perubahan progresif yang cenderung terlepas dari kodrat kemanusiaan. Kutub lain tak mau berpangku tangan. Mereka menghendaki keterbatasan bersikap hingga tiap permasalahan hanya bisa diselesaikan sekedarnya saja. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Arus globalisasi tersebut pada dasarnya tak hanya menghendaki kaum pria menjadi agen dan pewaris perubahan. Perempuan pun demikian. Yang demikian, sulit dipercaya bahwa di tengah era yang menuntut perubahan ekstra cepat, perempuan dituntut untuk stagnan dalam menghadapi ritme kehidupan. Dengan semakin banyaknya komunitas perempuan dibanding komunitas laki-laki, justru perempuan semakin dituntut untuk menjadi agent of change.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, selama ini perempuan banyak dituntut untuk menjadi objek perubahan budaya. Dari model pakaian, majalah perempuan, aksesoris-aksesoris, dan produk-produk perusahaan berupaya keras melirik konsumen perempuan. Hal ini didukung dengan stereotip bahwa perempuan memiliki watak konsumtif dibanding kaum Adam. Sebaliknya, fenomena-fenomena tersebut jarang terjadi pada laki-laki yang secara lahiriyah tak sepenuhnya memiliki kebutuhan yang sama dengan kaum Hawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak yang menuntut stigma ngobyek perempuan tersebut bukanlah harga mati untuk rela menghadapi tantangan perubahan. Arus oposisi antara Barat dan Timur hendaknya berhasil ditengahi dengan lebih bijak hingga tiap iklim alterasi dihadapi dengan luwes namun sarat akan nilai Islam.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semisal pada pentas budaya yang merupakan bagian dari pola kehidupan masyarakat, perempuan diiming-imingi berbagai kekayaan budaya Barat. Percepatan budaya yang terjadi anehnya diterima oleh kaum perempuan dengan apa adanya tanpa menentukan pilihan tepat.  Di lain sisi, mereka terjepit. Posisi masyarakat juga menuntut mereka mempertahankan identitas kehormatan mereka. Sayangnya, mereka lebih asyik mencederai dan menyisihkan penyematan kehormatan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perempuan dan Produk Kedua Kutub Budaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tak berkehendak mengajak kaum perempuan untuk menerima tradisi lama yang sejatinya dijadikan pedoman atau mengarahkan mereka untuk menerima arus alterasi progresif dengan sedemikian mudahnya. Karena kedua kutub budaya tersebut tak diragukan lagi sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua belah pihak mengklaim kebenarannya masing-masing. Yang demikian tak harus dihadapi dengan menentukan pilihan pada salah satu kutub saja tanpa merespon eksistensi kutub lain. Terlebih lagi apabila pada saat yang sama, di tubuh Islam muncul tuntutan untuk menyamakan pola kehidupan pada era Nabi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyamaratakan pola kehidupan termasuk budaya segendang sepenarian dengan iklim Nabi tak sepenuhnya patut dipersalahkan. Kemudian daripada itu, merespon budaya Barat yang sarat akan bebas nilai tak harus diterima dengan apa adanya. Kesemuanya sejatinya dipadu-padankan dengan berpedoman pada nilai-nilai yang disepakati hukum kodrati seorang perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tutur kata Asep Ganda Sadikin, salah seorang praktisi dunia pendidikan “Hidup yang baik dan sukses adalah hidup yang sesuai dengan proses alam,” sepertinya menarik diperbincangkan. Opini beliau seolah hendak memisahkan pola kehidupan kita dengan pola kehidupan para pendahulu. Bagi penulis, bukanlah demikian. Beliau mengajak kita menerima perubahan dengan tak memalingkan kita mempertahankan karya pendahulu. Tak pelak, kita adalah anak didik para pendahulu. Mungkin istilah tepatnya ‘mengkondisikan diri’ dalam kancah kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selayaknya, perempuan -muslimah khususnya- mengkondisikan diri dalam menghadapi pentas budaya yang semakin demikian menggila. Tak hanya menyesuaikan diri. Mengkondisikan berarti menerima budaya modern dengan tetap elegan mempertahankan identitas diri. Mengkondisikan pun tak berkehendak hanyut akan gelora cinta stagnasi masa lalu. Dia terlebih adalah konsep keluwesan hidup sukses. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondusif dalam menjalani kehidupan senafas dengan ajaran Islam yang menuntut perempuan mempertahankan kehormatan. Juga tak bermaksud mencerabut hak mereka dalam menerima perubahan budaya. Ramdhân Al-Bûthî dalam bukunya Fiqh al-Sîrah al-Nabawiyyah menjelaskan bahwa Nabi tak hendak melarang kita menerima produk Barat dengan berasumsi keseluruhan karya mereka salah. Akan tetapi Nabi menuntut umatnya untuk mampu berkreatifitas dengan orisinil sehingga setiap perubahan sarat dengan nilai Islam. Decak kagum pun akan disematkan pada kita apabila kreatifitas umatnya itu juga memiliki kualitas tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi kedua kutub perbedaan budaya tersebut sebenarnya bukanlah permasalahan signifikan. Toh kita menjalani kehidupan kerap tak mampu lepas dari virus kontroversi dan iklim persaingan. Pada situasional tertentu misalnya, kedua hal tersebut akan menjadi kasus bila disematkan pada problematika tiap personal. Masing-masing kerap tak berkutik seketika menghadapinya. Lebih apologetik lagi bila tiap personal mengalami self defeating atau tindakan bunuh diri terhadap realita kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tindakan prefentif perlu segera diberikan. Salah satunya dapat ditempuh dengan senantiasa mengajak mereka untuk berani dalam menghadapi tantangan dan siap menjadi pemenang. Karena pada dasarnya mereka layak menjadi pemenang dan sikap menerima kegagalanlah pihak yang patut dikalahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu diperhatikan pula, perempuan tak dilahirkan untuk nrimo pelbagai benturan yang mencelakainya atau keberuntungan yang menyengarainya. Mereka juga memiliki hak memilih seperti kaum laki-laki. Hak memilih tersebut tak hanya menguntungkan mereka, melainkan juga menjadi salah satu cara efektif dalam rangka memberikan sumbangsih perkembangan masyarakat. Di sini perempuan dituntut untuk mampu memilih dan memilah sehingga tak terjerembab dalam benturan kedua kutub budaya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat, perempuan adalah lakon utama pendidik keluarga. Dia juga merupakan tiang bangsa. Demikian animo masyarakat yang sampai pada penulis. Pada taraf seperti ini mereka diharapkan untuk mengkondisikan diri terhadap berbagai perubahan, mempertahankan ikon etika yang tersematkan, menggali potensi, dan menciptakan alternatif sehingga terwujud insan dinamis yang mampu menghadapi perkembangan zaman. Demikian.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-1961459264846216471?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/1961459264846216471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=1961459264846216471' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/1961459264846216471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/1961459264846216471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/08/perempuan-di-tengah-arus-budaya_8655.html' title='Perempuan di Tengah Arus Budaya'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-7899951577243567558</id><published>2008-08-21T13:45:00.002+03:00</published><updated>2008-08-21T13:53:35.410+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Stories'/><title type='text'>Andai Takdir Berbisik</title><content type='html'>Plo…..k Sebuah benda terjatuh dari saku celana seorang pria ketika masuk sebuah tramco. Secepat kilat aku ambil benda itu. “Ups, gila. HP man,” gumamku. “Ya Ammu, ya ammu……”seruku sambil tetap berusaha mengejar tramco yang sudah terlampau jauh jaraknya dariku. Aku semakin bertanya-tanya tentang pemilik HP itu. Tanpa sengaja, inbox yang lupa ditutup oleh pemiliknya itu kubaca: MAS, AKU RINDU. MAS SEHAT KAN?"&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullaha-l-‘adhiem. Apa yang tlah kulakukan? Ini kan aib orang. Aku tak tahu harus mencari ke mana pemilik HP itu. Akhirnya, aku  coba miscall ke HPku siapa tahu kudapatkan nama sang pemilik di situ. Oh, God. Tidaaaaaaak. Ternyata si empu HP adalah Ustadz Yusron, sosok yang sangat  kukagumi selama ini, seorang murobby sejati yang mampu membawaku menuju perubahan haqiqy. Ternyata aku tlah tertipu oleh wajahnya yang sejuk memancarkan cahaya-cahaya keimanan dan sinar-sinar kedamaian yang mampu meluluhlantakkan egoku. Sekarang, tinggal satu anggapanku padanya; KAMU PENIPU. Perhatian yang tertumpahkan dan nasehat yang selalu tercurahkan dari lisan laki-laki itu hanyalah kepalsuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di rumah, fikiranku melayang tak tentu arah. Semua perasaan campur aduk. Malu, benci, dan sedih kuasai diri. Teringat selalu di benakku, masa-masa awal kedekatanku dengannya. Semula, kedatanganku ke bumi kinanah ini hanyalah untuk menghilangkan identitas sebagai seorang anak Kyai. Ya, ketika itu aku sudah muak dengan title anak Kyai yang selalu melekat pada diriku. Baju seksi dipadu dengan jeans ketat lengkap dengan jilbab gaulnya menjadi model favoritku saat itu. Berbagai pengajian yang ditawarkan Uni Ida –kakak seniorku- kutolak dengan berbagai alasan tak masuk akal. Hukum syar’i tentang ikhtilath laki-laki dan wanita sering kulanggar dengan dalih sudah nggak jamannya lagi.&lt;br /&gt;---000---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam da'wahnya, Nabi Muhammad mengajak kita untuk selalu berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan sunnahnya. Al-Qur'an dengan bahasanya yang tersurat dan tersirat mampu meruntuhkan tembok-tembok kemungkaran, mampu menghancurkan tebing-tebing kebodohan dan mampu membawa pembacanya ke tempat yang diridloi Allah yaitu di surga. Teman-teman mau di surga kan?" tanya penceramah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau" jawab hadirin secara serentak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana mau surga, kalau tiap hari di warnet saja. Gimana mau hidup di tempat yang nyaman, kalau kerjaannya cuma pacaran, tul nggak, saudara-saudara?" tanyanya kemudian. "betul" jawab para hadirin. Ceramah menarik yang terpaksa kuhadiri hanya untuk menunggu seorang Uni Ida menjadi pertemuan awalku dengan Ustadz Yusron. Wajah tampan dengan ilmu yang dimilikinya mampu membius relung hatiku yang sangat dalam. “Ini dia laki-laki perfect yang aku cari” fikirku ketika itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pengajian itu, aku berusaha mengorek info tentang Ustadz Yusron. Pengajian-pengajiannya selalu kuhadiri, tulisan-tulisannya di berbagai buletin senantiasa kubaca, bahkan gaya pidatonya selalu kuikuti. Baju seksi dan jeans ketat aku biarkan tersusun rapi di almariku. Style bajuku berubah menjadi gamis dengan jilbab khas Annida. Ya, aku harus berubah. ‘Kalau aku ingin mendapatkan laki-laki itu, aku harus berubah’ itulah tujuanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terngiang-ngiang selalu nasehatnya padaku ketika Uni Ida membawaku ke FORMASI, yaitu lembaga bimbingan dan konseling mahasiswa Mesir yang ditangani oleh Ustadz Yusron. "Dalam hidup, kita dituntut untuk menerima kenyataan yang harus kita hadapi. Termasuk kenyataan pahit untuk terlahir sebagai anak Kyai, anak sopir taksi dan lain sebagainya. Namun yang paling penting Selly ketahui, bahwasanya semua orang di dunia ini bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maa-ktasabat. Nama orangtua yang baik, cukuplah kita jaga tanpa ada keinginan untuk menyamai. Selly jadi anak yang berakhlaq karimah, aktif di berbagai organisasi, berusaha meningkatkan diri, selalu hadir dalam setiap pengajian dan berbagai aktifitas lain yang bermanfaat itu sudah bisa dikatakan Selly bisa menjaga nama orangtua Selly. Yang paling penting Selly lakukan adalah meningkatkan diri di berbagai bidang tanpa beban nama orangtua. Nama orangtua Selly itu bukan tanggungjawab Selly untuk mengeksiskannya. Bahkan, keadaan hanya menuntut Selly untuk menjaganya," tuturnya ketika itu. Qolbuku yang keras bagaikan es mencair seketika. Siapa lagi kalau bukan karena laki-laki itu. Sejak itu pula, Ustadz Yusron sangat perhatian padaku. Aku sering dimotivasinya, dibangunkannya tahajjud, dibawakannya oleh-oleh dan lain-lain. Perhatian-perhatian yang diberikannya padaku, kuanggap sebagai perhatian sayang seorang kekasih kepada kekasihnya. Aku mabuk dibuatnya. Aku yang dulu masyhur dengan sebutan anak nakal karena gaya hidup yang nggak pernah nyar’i berubah drastis menjadi anak alim. Aku yang pasif menjadi aktif. Aku yang suka menghabiskan waktu buat hura-hura, berubah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---000---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunanku buyar seketika setelah tiba-tiba seseorang menepuk bahuku.. Kutatap wajahnya barang sejenak. “Oh, Reni,” tuturku kemudian. " Ada apa Sel?" tanya Reni padaku. Aku tetap saja terdiam tanpa daya kekuatan tuk menjawab. Bibir ini kelu dan kaku seolah membeku oleh dinginnya salju pengkhianatan laki-laki arif itu. Tanpa sengaja, airmata berlinang dari kedua kelopak mataku. Aku tak mampu membendungnya. Reni menatapku pilu. Didekapnya tubuhku dan diusapnya airmata yang membanjiri roman wajahku. Aku menangis sesenggukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, kulepas dekapannya. "Ren, kamu mau kan aku ajak ke FORMASI?" pintaku padanya. "Tapi, kenapa Sel?" tanya Reni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ustadz Yusron penipu, Ren. Ternyata dia tidak sealim yang aku bayangkan. Betapa tidak, ada SMS mesra dari seorang wanita untuk dia. Mau ditaruh mana mukaku, Ren. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus bagaimana, Ren?" curhatku kemudian. &lt;br /&gt;"Gini aja, Sel," sambil menggenggam erat-erat kedua tanganku, Reni melanjutkan ucapannya, "Kamu nggak perlu ke sana. Telefon aja beliau. Tapi, ngomongnya yang pelan ya?" ajak Reni dengan sangat bijak.&lt;br /&gt;Nomor demi nomor kutekan. Sesaat kemudian, “Hallo, dengan pusat bimbingan dan konseling FORMASI di sini. &lt;br /&gt;Ada yang bisa kami bantu?” tutur seorang laki-laki di seberang. &lt;br /&gt;“Hallo, Assalaamu’alaikum. Bisa bicara dengan Ustadz Yusron?" &lt;br /&gt;"Wa’alaikumussalaam. Oh, ya benar. Saya sendiri Yusron. Ini siapa ya?"&lt;br /&gt;"Saya Selly, Ustadz."&lt;br /&gt;"Oh, ya. Sehat Sel?"&lt;br /&gt;"Alhamdulillaah, Ustadz. Ustadz, boleh saya bertanya?"&lt;br /&gt;"Ya ya. Boleh boleh. Ada apa Sel?"&lt;br /&gt;"Begini Ustadz, Ustadz kehilangan HP ya?"&lt;br /&gt;"Ya, benar. Kenapa?"&lt;br /&gt;"Saya yang menemukan, Ustadz."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kemudian, Ustadz Yusron terdiam dan aku semakin dibuatnya penasaran. Aku balik bertanya, "Kenapa Ustadz diam? Sebelumnya, saya minta maaf, Ustadz. Tanpa sengaja, saya membaca SMS yang sudah terbuka sebelumnya. Di situ saya membaca SMS dari seorang wanita. Kalau boleh saya tahu, siapa wanita itu Ustadz?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Yusron yang sejak tadi diam seribu bahasa akhirnya menjawab, "Wanita itu adalah istriku, Sel.” Aku terkejut dengan ucapan laki-laki itu. Kedua kelopak mataku mulai berkaca-kaca.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf kalau aku tidak pernah cerita ke kamu. Saya menikahinya setahun yang lalu. Sebulan lagi, dia akan menyusulku ke sini. Maafkan aku, Sel!" jelas laki-laki itu padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya kembali, "Trus, kenapa Ustadz tidak pernah cerita ke saya? Dan kenapa Ustadz sangat perhatian kepada saya?" Airmata yang tadi hanya tertahan di kedua kelopak mataku tumpah seketika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, Sel. Aku kira kamu sudah tahu. Kalaulah aku memberi perhatian kepadamu, itu karena aku dan Ida ingin membuatmu berubah. Maaf, kalau ini adalah bagian dari rencanaku dan dia. Ida sendiri adalah adik iparku. Selama ini, dia sering curhat dan memintaku untuk membuatmu berubah. Karena dia sadar bahwa kamu adalah masa depan pondokmu yang juga pondok yang selama ini mendidiknya. Masa depan pondokmu ada di tanganmu, Sel. Maka dari itu, aku berusaha meyembunyikannya hingga waktu itu tiba. Namun, kamu dah tahu dulu sebelum aku cerita. Maafkan aku, Sel. Maafkan Dek Ida juga, ya?" pinta Ustadz Yusron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya terdiam mematung tak kuasa menjawab. Aku tak tahan. Secepat kilat, kututup receiver telefon. Aku berlari menuju kamarku. Perlahan, kubuka diary yang setia menemani memory kehidupanku di bumi anbiya' ini. Kugoreskan pena tuk luapkan suara hati ini…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDAI TAKDIR BERBISIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai takdir berbisik....&lt;br /&gt;kabarkan diri yang kan terjadi nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai takdir berbisik....&lt;br /&gt;kekecewaan takkan kumiliki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai takdir berbisik.... &lt;br /&gt;Kan kupenuhi hari dengan kebahagiaan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai takdir berbisik....&lt;br /&gt;kubersiap diri tuk terima lara hati &lt;br /&gt;tanpa sakit hati&lt;br /&gt;tanpa sedihkan diri&lt;br /&gt;tanpa derita menguasai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun takdir hanya Allah yang tahu...&lt;br /&gt;hanya Dia yang paling mengerti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullaaha-l-'adhiem....&lt;br /&gt;Lara diri tuk beandai-andai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah....&lt;br /&gt;kenapa kuberharap seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takdir adalah kekuatan&lt;br /&gt;Takdir adalah dorongan&lt;br /&gt;Takdir adalah kebaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena takdir, aku kuat....&lt;br /&gt;Karena takdir, aku tabah....&lt;br /&gt;Karena takdir, aku tegar....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan...!&lt;br /&gt;Jangan karena satu batu, kau tersungkur!&lt;br /&gt;Jangan karena satu masalah, kau hancur!&lt;br /&gt;Jangan karena satu penderitaan, kau gugur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, Selly!&lt;br /&gt;Masalah bukanlah suatu masalah apabila kau tak jadikannya sebagai masalah. Yang lalu biarlah berlalu, songsong hidup yang baru. Sekarang, solusi terbaik buatmu hanya satu : BE YOUR BEST! Jadilah sisi terbaik dari dirimu. Okey? Kamu bisa!!! &lt;br /&gt;Ingat!&lt;br /&gt;Jangan jatuh...!&lt;br /&gt;Jangan hancur...!&lt;br /&gt;Jangan gugur...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu akbar…allahu akbar…..suara adzan maghrib memaksaku berhenti dari menulis diary. Sesegera mungkin, kuambil air wudlu dan kutemui Dzat Yang Maha Pengasih. Dalam sujudku, kupanjatkan do'a pada-Nya: Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang meniatkan kebaikan kepada selain-Mu. Ampunilah aku yang tlah menduakan-Mu. Ampunilah diriku yang mengharapkan cinta sejati dari selain-Mu. Karena sesungguhnya Engkau adalah Maha Yang Memiliki cinta sejati. Ya, cinta sejati itu adalah milik-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-7899951577243567558?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/7899951577243567558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=7899951577243567558' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/7899951577243567558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/7899951577243567558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/08/andai-takdir-berbisik.html' title='Andai Takdir Berbisik'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-7703493957501633976</id><published>2008-08-21T12:13:00.001+03:00</published><updated>2008-08-21T12:17:48.526+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Researches'/><title type='text'>Merajut Titian Pendidikan Islam</title><content type='html'>Selamat datang di jagat peradaban! Kali ini, saya akan mengajak Anda berkeliling melanglang buana. Membuka cakrawala seputar pendidikan Islam era klasik sebagai salah satu cara menunjukkan pada dunia bahwa Islam sangatlah kaya. Kaya akan peradabannya yang maha megah di masa lalu. Tersusun atas ragam sistematika yang cantik, pendidikan Islam mampu melahirkan kontributor-kontributor peradaban di pelbagai ranah pendidikan. Tak hanya pendidikan Islam. Namun juga ranah ilmu pengetahuan umum. Lantas, bagaimana dengan kita, generasi muda Islam yang sudah saatnya menjadi motor penggerak masa depan? Akankah kita berpangku tangan?&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Membaca Sejarah Pendidikan Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adalah Rasulullah yang mulanya mengawali dakwahnya di rumah salah seorang Sahabat bernama Arqam ibn Abi al-Arqam. Literatur sejarah yang bertebaran lebih mengenal rumah tersebut sebagai  Dâr al-Arqâm. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca hijrah ke Madinah, dakwah Nabi kian tak tertahankan. Tak hanya masjid Nabawi yang menjadi kiblat keberlangsungan pendidikan. Varian model dan sistemnya pun beragam. Yang terpopuler adalah sistem halaqah. Dalam momen halaqah, Nabi menggunakan metode tanya jawab, kaedah kuliah, perdebatan, perbincangan, dan hafalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, seperti ujaran sejarah, Nabi memfungsikan salah satu ruangan masjid Nabawi sebagai tempat menyantuni fakir miskin. Pun berguna untuk tempat tinggal para pemuda yang berhasrat memperluas wawasannya. Umat Islam menyebut tempat ini sebagai Suffah. Konon, menurut Ibnu Taymiyyah, para Sahabat yang mendiami Suffah sebanyak 400 orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Nabi, para Sahabat bahu-membahu mengikuti jejak beliau dalam berdakwah. Tak sekadar mengikuti, para Sahabat juga menumbuhkan inovasi metode pembelajaran baru. Mereka mendirikan Kuttâb yang diperuntukkan bagi usia kanak-kanak. Hingga pada saat mereka menginjak dewasa, anak-anak tersebut dapat mengikuti halaqah di masjid dan berbaur dengan masyarakat umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai masa dinasti Umayyah berkuasa, institusi pendidikan telah berhasil menyentuh kalangan istana dan rumah-rumah penduduk. Dalam rentang waktu tak terpaut jauh, di belahan timur, berdiri madrasah Islam pertama yang bernama madrasah Bayhaqiyah di kawasan Naysabur. Dan lantas, semangat menggebu dalam menggagas pendidikan yang rapi bak bersambut melintas tapal batas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beralih ke Spanyol, semasa khalifah al-Hakam al-Umawy, salah seorang khalifah Bani Umayyah berkuasa, Universitas Cordova berdiri. Layaknya madrasah Nizamiyah, universitas ini juga memiliki perpustakaan besar dengan koleksi empat juta buku. Materi-materi yang diajarkan pun sangat beragam. Tak sekedar menyentuh aspek religi. Di masanya pula, karya-karya ilmiah dan filosofis dari Timur ditransfer ke perpustakaan tersebut dalam bilangan yang sangat besar. Kelak, usaha yang dilakukan ini mampu menelurkan filosof-filosof besar sepanjang sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keruntuhan dinasti Umayyah mengantarkan dinasti Abbasiyyah dalam pentas politik kekuasaan. Semasa Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun bertakhta, dinasti ini mendulang kesuksesan dalam bidang ilmu dan pendidikan. Banyak madrasah berdiri di Baghdad, Madinah, Kufah, dan Kairo. Dari tingkat dasar, menengah, hingga atas. Puncaknya adalah keberadaan Bayt al-Hikmah. Sebuah penanda bagi kesuksesan aspek pendidikan dinasti Abbasiyah. Di tangan khalifah al-Ma’mun, lembaga tersebut berfungsi sebagai perguruan tinggi, perpustakaan, dan lembaga penelitian. Konon, perpustakaan Bayt al-Hikmah memiliki koleksi ribuan judul ilmu pengetahuan dan didukung dengan berbagai fasilitas yang sangat memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam paparan pelbagai literatur, Nizam al-Mulk, wazir Malik Syah yang berkuasa di Baghdad (1066/1067 M.) terpantik hasratnya guna mendirikan sebuah lembaga pendidikan. Hasrat luhur tersebut tertunaikan dengan keberadaan Madrasah Nizamiyah yang konon memiliki murid hingga 6000 orang. Satu madrasah yang terbangun atas keteraturan konsep dan metode. Madrasah yang lebih dari sekadar pantas dinobatkan sebagai penyulut kesadaran atas kerapian dalam prosesi pendidikan. Beberapa sistemnya, seperti penerimaan murid baru, ujian kenaikan kelas, bahkan ujian kelulusan, kelak diterapkan secara massal. Yang menakjubkan, madrasah tersebut memiliki perpustakaan besar yang berisikan 6000 judul buku dengan katalogisasi sistematis. Tak ayal, banyak sejarawan menahbiskannya sebagai perguruan Islam modern pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belahan lain, abad ke-10, khalifah Mu’iz Li Dinillah Ma’ad ibn al-Manshur, khalifah keempat dinasti Fathimiyah menguasai Mesir. Dia mendirikan sebuah masjid yang belakangan mendapat predikat sebagai ‘masjid dan institusi pendidikan tertua’. Kita mengenalnya sekarang sebagai masjid al-Azhar. Sejak berdirinya, masjid dan universitas ini berhasil melahirkan ulama-ulama muslim terkenal dunia seperti, Yusuf al-Qardlawy, Wahbah Zuhayli, Muhammad al-Ghazali dan lain sebagainya. Termasuk juga anak negeri kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pembelajaran menarik dari al-Azhar. Pihak penguasa, khalifah, tak lalai memperhatikan pendanaan bagi keberlangsungan al-Azhar. Bermula dari khalifah al-Hakim ibn Amrillah, keikhlasan para khalifah dalam memberikan wakaf bagi al-Azhar lantas diteladani kalangan pejabat dan bangsawan. Budaya wakaf itu berlangsung hingga kini. Dalam sebuah versi, kekayaan al-Azhar mencapai sepertiga kekayaan Mesir. Kini, wakaf tersebut selain untuk biaya operasional al-Azhar, juga dialokasikan untuk beasiswa, asrama, dan pengiriman utusan al-Azhar ke pelbagai penjuru dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rifa’ah al-Thahtawi dan Kesetaraan Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang lulusan al-Azhar, Rifa’ah al-Thahtawi selepas menyelesaikan jenjang pendidikannya di Perancis menyeru para pemudi negaranya untuk menggali ilmu. Dia berkeyakinan bahwa perempuan memiliki hak belajar sebagaimana kaum laki-laki. Ini tercermin pada tradisi era Nabi, di mana perempuan banyak memberikan kontribusi besar dalam pengumpulan hadis. Sayangnya, semenjak dinasti bani Umayyah berkuasa, cendekiawati pasca Aisyah tak lagi bergaung dalam percaturan keilmuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, salah satu cara yang mesti ditempuh dalam mensukseskan seruannya ini adalah dengan menambah batas usia menikah bagi perempuan. Dengan ini kaum perempuan dapat sepenuhnya fokus mengeksplorasi khazanah keilmuan dan siap sedia dalam mendidik anak generasi bangsa. Yang menarik, di balik semangatnya yang berkobar dalam menyeru urgensitas pendidikan bagi kaum perempuan, Rifa’ah tak lalai untuk mengingatkan bahwa perempuan memiliki sifat khusus yaitu rasa malu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya, rasa malu merupakan sifat terpuji seorang perempuan. Sepantasnyalah bagi pendidik kaum perempuan untuk tetap membiarkan perempuan mempertahankan rasa malu tersebut. Yang terpenting, pendidikan untuk mereka tidak dihapuskan. Apapun fitrah yang mereka miliki, baik rasa malu, takut, dan segan seyogyanya tak tercerabut dari perempuan. Pendidikan tak seharusnya memunculkan keberanian perempuan untuk melebihi batas fitrahnya.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Inspirasi Capaian Sejarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gagasan mulia al-Thahthawi itu yang kelak menggelorakan semangat al-Afghani dan Abduh untuk tak penat mengusung cita mulia. Satu hasrat untuk menggenapkan kebangkitan Islam dengan keberadaan pendidikan yang bermartabat. Dengan kisah sukses peradaban muslim masa silam sebagai inspirasi, kita tak diharapkan sekadar mencerapnya tanpa mampu berinovasi. Sudah selayaknya, kita memiliki institusi pendidikan yang mampu melakukan lompatan-lompatan sejarah, atau berproses demi menjalankan amanat kehidupan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inspirasi pertama, filosofi kota Madinah. Madinah identik dengan jiwa Nabi yang menyimpan memori masa lalu dengan segenap keikhlasan Nabi dalam dakwahnya. Kini, di sana kita banyak menyaksikan ulama-ulama yang handal dan hafal akan hadis Rasulullah. Tentunya, ruh-ruh nabawi yang terdapat di Madinah sudah selayaknya kita “kargo” ke tanah air. Dengan penuh harap, kita akan menyaksikan lembaga pendidikan yang berakhlak dan berwibawa. Semangat cinta ilmu Nabi juga dicerminkan dengan apa yang telah dilakukan Rifa’ah al-Thahthawi dalam menumbuhkembangkan cendekiawati-cendekiawati Islam yang handal masa kini.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inspirasi kedua, filosofi kota Kairo. Semangat kedermawanan al-Azhar yang melekat kuat memantulkan satu keinginan untuk menggapai pendidikan demi mencapai insan kamil, ilmi, tarbawi, dan qur’ani. Hal itu akan tercapai bila warna pendidikan Islam tak tercoreng paham materialisme dan kapitalisme. Terlebih iklim pendidikan Islam harus menempuh jalan keikhlasan dalam berjuang yang yang termanifestasikan dengan terjaminnya prinsip dasar wakaf suatu lembaga pendidikan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inspirasi ketiga, filosofi kota Cordova. Kepiawaian Cordova dalam memberikan stimulan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada Eropa. Cordova pula yang membentangkan jalan lurus pencerahan Eropa yang tak enggan merangkul peradaban Islam, khususnya filsafat. Ajaran-ajaran Ibnu Rusyd tentang filsafat Aristoteles –misalnya- mampu membangunkan Eropa dari mimpi buruk selama ratusan tahun. Sayang seribu sayang, setelah abai pada ajaran dan gagasan Ibnu Rusyd, justru umat Islam tenggelam. Tak lagi muncul ke permukaan lautan keilmuan dunia.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inspirasi keempat, filosofi kota Baghdad. Baghdad dengan Bait al-Hikmah-nya merupakan simbol kejayaan pendidikan Islam pada masanya. Hal ini kian meneguhkan satu fakta buat kita, bahwa umat Islam mampu menjadi raksasa pengemban amanat kehidupan melalui duplikat-duplikat Bait al-Hikmah yang senantiasa kita harap-harap cemas keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inspirasi kelima, filosofi negeri para Mullah, Iran. Sebagaimana buku Ibnu Rushd dan Averoism berujar, negeri ini selain berhasil menghidupkan tradisi keilmuan Yunani, juga berhasil mengembangkannya. Dan melaluinya, inovasi keilmuan terus berkesinambungan hingga mencapai penemuan-penemuan baru. Bahkan hingga kini, Iran selain memiliki suasana religius yang kental, juga berhasil menelurkan ilmuwan-ilmuwan handal di pelbagai bidang. Lantas, kalau pada masanya, mereka mampu mengembangkan tradisi keilmuan tersebut, mengapa umat Islam tidak? Kini, saatnya kita bangkit![]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-7703493957501633976?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/7703493957501633976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=7703493957501633976' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/7703493957501633976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/7703493957501633976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/08/merajut-titian-pendidikan-islam.html' title='Merajut Titian Pendidikan Islam'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-3905511415742659545</id><published>2008-08-21T11:55:00.000+03:00</published><updated>2008-08-21T12:09:04.476+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Articles'/><title type='text'>Mengenal Corak Ragam Sekulerisme, Moderat Dan Konservatif Di Timur Tengah</title><content type='html'>"Langgengnya sebuah peradaban harus ditopang dengan pemerintahan yang kuat dan solid"&lt;br /&gt;(Ibnu Khaldun)[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prolog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpang siur identitas Islam bergejolak dan tak pernah usai. Pada tiap masa, berbagai tuntutan pembaharuan selalu berganti dan menuntut adanya solusi terbaru. Di samping itu, agenda pembaharuan mengalami penolakan keras dari pihak yang menuntut pemertahanan suatu tradisi. Pada akhirnya, berbagai teori solutif pun diketengahkan namun tak satu pun yang mampu mencapai aplikasi dahsyat suatu penyelesaian.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada pembaharuan sistem pemerintahan misalnya, berbagai perubahan dahsyat banyak diambil namun juga banyak ditinggalkan. Ketika sekulerisme ditegakkan dan membabi buta terhadap suatu sistem pemerintahan, ternyata masih terdapat masyarakat yang sangat antusias mempertahankan iklim peradaban Islam yang sudah ada jauh sebelumnya. Sehingga, sistem pemerintahan sekuler sedikit demi sedikit pun semakin kurang diminati dan berusaha mengalihkan pandangannya pada corak sekuler nuansa Islami walau banyak pihak yang justru menganggap sekuler tetaplah saja warisan budaya Barat tanpa embel embel Islami di balik tabirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, banyak juga masyarakat yang masih saja turut mengelaborasi sistem pemerintahan konservatif yang kerasan dengan iklim stagnan. Seiring perubahan zaman, pihak pesaing yang enggan terkungkung dengan tradisi berusaha memberikan warna baru demi adanya pencerahan di suatu ekosistem masyarakat. Sehingga lahirlah masyarakat madani yang mampu mengkolaborasikan tradisi dan era globalisasi demi tercapainya kemajuan bangsa di berbagai detak jantung kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun perlu disadari bahwa Islam sebagai agama mulia memiliki berbagai metode pengembangan masyarakat. Karena pada dasarnya Islam datang bukan untuk dijadikan negara akan tetapi Islam datang untuk mengadakan perubahan ritme kehidupan yang sarat akan nilai kemanusiaan, kebebasan dan persaudaraan. Dan sistem pemerintahanlah yang merupakan seni Islam dalam mengakomodir perkembangan Islam rahmatan li al-'âlamîn.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjungan Masyarakat Sekuler Timur Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.     Miniatur Turki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Ideologi yang berkembang di Turki setelah runtuhnya Turki Usmani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa-masa keruntuhan dinasti Turki Usmani terdapat persaingan tiga ideologi yaitu, Islam, Usmaniyah, dan Turki. Dalam kaitannya dengan ideologi Islam misalnya, Turki sangat memegang teguh hukum Islam hanya saja sebagai hukum tradisi di tubuh Turki sendiri padahal negara-negara Islam klasik menjadikan hukum Islam sebagai hukum aplikatif dari suatu sistem kenegaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kaum muslimin Turki Usmani memperhatikan kaum Prosia dan Serdenia mampu menyatukan dua bangsa Italia dan Jerman pada abad 19, mereka berusaha pula menyatukan kaum muslimin. Adapun prototype penyatuan Islam yang diterapkan bukanlah prototype penyatuan bangsa Turki. Hal ini dilakukan demi tercapainya negara Islam terbesar sepanjang sejarah yang memperhatikan persatuan Islam. Berarti, kaedah dasar pemersatu Islam dilakukan dengan asas Islam. Sedangkan alat hegemoni Islam atas non-muslim ditempuh dengan mengadakan sistem monarki. Karena muslim Turki menganggap bahwa satu-satunya jalan menguasai kaum non-muslim hanyalah dengan membentuk sistem monarki. [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berideologi Islam, dinasti Turki Usmani memiliki tujuan proyektif terhadap peninggalan Rasul yang berupa syariat dan menegakkan kalimah Allah seperti halnya penerapan pemberian tampuk kepemimpinan untuk kaum muslim saja. Akan tetapi apabila ada non-muslim yang memiliki kredibilitas dalam kepemimpinan, maka akan dipermudah hanya saja haruslah tetap menyadari bahwa Islam harus diprioritaskan.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ideologi Usmaniyah atau –dalam istilah lain- Usmanisme muncul lantaran revolusi liberalis pada abad 19. Paham ini mencuat di antara pembesar Turki Usmani dengan mengalihkan pandangannya kepada paham religi demi tercapainya persatuan Usmanisme. Namun, paham ini masih bersifat praduga yang belum dapat ditentukan benar atau tidaknya. Bisa jadi paham ini muncul di kalangan kaum muslimin, bisa jadi termasuk di dalamnya kaum kristiani yang mendapat kepercayaan dinasti Turki Usmani.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada atau tidaknya paham ini, berakhir dengan munculnya paham baru yaitu paham Turkiyah atau disebut dengan Turkisme. Paham ini berhasil meniadakan usaha untuk kembali kepada sistem kerajaan Turki Usmani dengan runtuhnya dinasti Turki Usmani pada tahun 1923 dan khilafah Usmani pada tahun 1924.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ideologi ketiga yang bersaing ketika itu adalah ideologi Turkisme yang banyak dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh ekstern terutama pengaruh bangsa-bangsa berbahasa Turki di kerajaan Rusia dan sebagian dari pembesar bangsa tersebut yang berniat politis untuk menguasai Turki.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Rusia yang berbahasa Turki tersebut ketika di Rusia mereka membentuk Pan Slovisme yang kegiatannya ketika pertama kali berdiri adalah menentang militer Saljuk dengan cara menerapkan ideologi Turkisme walaupun mereka sering menutupinya dengan Pan Slovisme. Usaha riil yang telah dilakukan oleh Pan Slovisme ini dapat terlihat dengan jatuhnya Turki Usmani pada tahun 1923 dan tumbuhnya rezim Musthafa Kamal Ataturk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Munculnya Paham Sekuler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paham sekuler dibawa oleh Mustafa Kamal Ataturk di Turki bertujuan untuk memberikan kemajuan pesat di berbagai aspek kehidupan. Usaha ini dilakukan sebagai proyeksi revolusi Perancis yang berhasil membentuk sistem negara sekuler tepatnya pada tahun 1902 di mana peran penting gereja dihapuskan dari sistem kenegaraan.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita berbicara tentang politik Ataturk, kita tidak akan lepas dari peran penting kepribadiannya. Hal ini di samping tampak ketika Ataturk mampu memposisikan diri antara Barat dan Timur juga karena latar belakang sejarah Turki Usmani yang menuntut diberdirikannya sistem pemerintahan sekuler. [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukti dengan sistem sekulernya, Turki mampu menurunkan jumlah masyarakat buta huruf hingga 90 % dari 64 juta penduduknya. Di samping itu, kedekatannya dengan bangsa Barat banyak mengalami pertentangan dari etnis Kurdi sejak 1925 saat Kemal Ataturk berkuasa. Namun setiap pemberontakan-pemberontakan yang terjadi berhasil dipatahkan karena pemerintahan Ataturk menanggapinya dengan sangat represif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataturk dalam melancarkan sistem sekulernya, berhasil mengganti penggunaan huruf Arab dengan Latin, melarang poligami dan wanita diberi hak yang sama dengan pria. Dengan proyek sekulerismenya itu, syariat Islam mengalami degradasi tajam. Seperti adanya pelarangan jilbab di sekolah-sekolah dan kewajiban mengubah adzan salat dengan bahasa Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Turki pasca Erdogan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dilansir beberapa situs, Turki pasca pemerintahan Erdogan berhasil memberikan warna baru bagi pemerintahan Turki. Erdogan dengan tipologi kepemimpinannya mampu menengahi antara ide-ide sekuler dan warna Islam. Usaha-usaha yang dilakukannya pun sangat signifikan. Dia mampu mengambil hati baik kaum menengah ke bawah maupun menengah ke atas. Bahkan usahanya tersebut juga mampu menarik Eropa untuk respek kepada Turki. Karena Turki pasca kepemimpinannya mampu memberikan pemahaman sekuler yang masih terdapat ruh-ruh Islam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjungan Masyarakat Konservatif Timur Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.     Miniatur Arab Saudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arab Saudi selalu mengaitkan sistem kenegaraannya dengan agama Islam. Karena di samping Arab Saudi memiliki keterkaitan dengan Islam lebih banyak dari negara mana pun di dunia Islam di Arab Saudi juga terdapat Mekah, Madinah dan kiblat kaum muslimin dalam melakukan ibadahnya. Pada tahun 1745, Muhammad Ibnu Abd al-Wahab mengadakan koalisi bersama Ali Saud salah seorang emir Dariyat di daerah sekitar Najd. Dan koalisi ini masih bertahan hingga sekarang.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam sebagai agama bernegara dan tiang pokok penerapan syariat politis secara otomatis juga mengarahkan syariatnya untuk berpolitik, mengadakan berbagai pergerakan politik, dan menciptakan kaedah-kaedah dasar masyarakat berakhlak. Berdasar cara pandang Wahabi inilah, kerajaan dianggap sebagai rukun pokok madzab menurut mayoritas kaum Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Arab Saudi berdasarkan aturan perundang-undangan negaranya berusaha merubah keberadaannya sebagai negara berperadaban tinggi sehingga pada akhirnya Arab Saudi memperluas daerah kekuasaannya untuk menggabungkan berbagai daerah yang terpisah-pisah sebelumnya menjadi kaya akan hukum-hukum agama dan yayasan agama. Bahkan para ulama memegang peranan penting di administrasi negara dan undang-undang negara mampu menertibkan stabilitas aktivitas para ulama. Negara dengan hukum yang dibentuknya melalui sistem kerajaan tidak merelakan keberadaan kekuasaan agama lain bebas berdiri. Karena kekuasaan tersebut dianggap akan menyaingi kekuasaan Islam atas rakyat Arab Saudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stereotip hukum Islam –pada kisah klasiknya- belum pernah memisahkan antara agama dan politik. Ketika Islam tidak memiliki aturan religi kependetaan yang mirip dengan aturan yang ada di gereja Kristen, maka pilihan muslimin jatuh pada metode kepemimpinan penguasa sepanjang masa. Seperti halnya yang ada pada sistem khilafah di mana khalifah menjabat sebagai amirul mukminin. Dan seiring dengan berjalannya waktu, mereka mewakili nabi yang telah meninggal mendahului mereka dan menyandarkan segala tampuk kepemimpinan untuk menegakkan kebenaran dan melancarkan jalannya hukum syariat yang sarat dengan nilai-nilai Islam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu, negara ini menyandarkan kekuasaannya kepada civitas-civitas religi melalui yayasan-yayasan mereka yang kontiniu dalam menstabilkan ritme pemerintahan. Di samping itu, negara ini juga bersandar pada nilai-nilai agama demi memperkuat kekuasaannya dan menegakkan syariatnya. Pada dasarnya, berbagai persoalan memang menuntut adanya keterkaitan antara agama dan negara di Saudi Arabia. Hal ini disebabkan karena negara ini benar-benar merupakan salah satu kerajaan kecil yang masih berpegang teguh pada aturan sosio politis yang berasaskan pada kaedah-kaedah dan syi'ar-syi'ar taklid buta. Sehingga tataran rumah tangga kerajaan Saudi Arabia lebih membutuhkan keterkaitan dengan agama Islam dibandingkan negara-negara lain. Kerajaan ini pun dianggap sebagai madzhab para ushuliyin dengan menjadikan al-Qur'an sebagai aturan hukumnya dan syariat sebagai acuan perundang-undangan dan multidisipliner.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, setelah sekian lama bergelut dengan sistem kekhalifahan yang menjadi ikon pemerintahan dan didukung dengan adanya perang dunia pertama yang berhasil menumbangkan kekuasaan Turki Usmani, Islam menghadapi beberapa perubahan yang menghilangkan bentuk politis pra revolusi tersebut (khilafah Islamiyah) di mana menuntut mereka untuk menerima peradaban Barat yang terus menghegemoni dan memaksa kaum muslimin untuk menerima wacana sistem negara baru demi menjaga karakteristik dan nilai-nilai Islam dalam sistem bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Antara teori dan praktek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita telaah bersama, teori aplikatif sistem pemerintahan Islam yang sarat dengan tradisi itu selalu bersandar atas kepentingan kekuasaan dalam Islam demi proyeksi syariat dan pelaksanaan hukum-hukumnya. Berawal dari wafatnya Nabi tanpa adanya kesepakatan dari beliau untuk memilih seorang khalifah menimbulkan tiga krisis yang mempengaruhi bentuk-bentuk taqlidi dari sistem khalifah. Yang pertama adalah perdebatan antara kaum muhajirin dan kaum anshar. Disusul yang kedua adalah penolakan beberapa kabilah atas peralihan kekuasaan setelah Nabi karena bagi mereka kekuasaan akan berakhir dengan wafatnya Nabi. Hal seperti ini mengakibatkan keinginan beberapa kebilah untuk merdeka. Dan hal yang ketiga adalah terjadinya pertikaian antara Ali, kerabatnya dan Muawiyah yang menjabat sebagai penguasa Syiria dan berakhir dengan dibunuhnya Ali pada tahun 661 M sehingga memperkeruh persatuan Islam.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini dapat kita ketahui tujuan dasar berlakunya sistem tersebut adalah proyeksi syariat dan aplikasi kaedah-kaedah dasarnya yang dipraktekkan seiring dengan makin akrabnya istilah khalifah dan metode pemilihannya. Akan tetapi pada dasarnya tulisan ini lebih terfokus pada gambaran idealis suatu pemerintahan Islam dan keterpautannya dengan praktek yang selama ini telah terjadi di seputar kita.[11]   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha penyatuan sistem pemerintahan ideal dan praktek sebenarnya hanya berkisar antara dua hal yaitu menegakkan syariat dan mempertahankan sistem konsensus dalam hukum Islam. Maka proses pendayagunaan syariat dan prakteknya memerlukan adanya khalifah yang dipilih oleh umat demi stabilitas iklim negara dan lagi-lagi memang di sana diperlukan adanya ketaatan. Apabila khalifah mencemarkan kehormatannya dengan tindakan anarkis dan perintah syariat tidak dijalankan, maka keberadaan khalifah tersebut perlu ditinjau ulang. Inilah asas pokok dan teori idealnya. Akan tetapi, sayang seribu sayang, dalam prakteknya sistem khalifah berjalan secara turun temurun demi mempertahankan kekuasaan warisan leluhur dan hilangnya komponen-komponen pemerintah yang menegakkan syariat Islam sehingga terpecahlah negara-negara Islam itu sendiri.[12] Bahkan, modernisasi yang diterapkan telah menimbulkan kesenjangan antara kehidupan kota dengan penduduk pedalaman,  golongan muda dengan kaum tua dan para ulama. Para wanita misalnya, meski di luar rumah mengenakan pakaian semacam jubah yang disebut abha, namun di dalam rumah mereka sudah mengenakan pakaian Barat. Mereka juga menggunakan berbagai produk kosmetik Barat serta menonton aneka tayangan televisi yang selama ini ditabukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Hubungan Wahabiyah dan Sistem Pemerintahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan Ibnu Su'ud menguasai Riyadh merupakan titik tolak dimulainya iklim kerajaan Saudi Arabia modern. Demi mempertahankan kekuasaannya, Ibnu Su'ud tidak segan-segan menunggangi Wahabiyah sebagai kendaraan politisnya dengan menjadikannya bentuk ideal sebuah sistem kenegaraan. Bahkan, dia memberikan hak kepada kaum kerabatnya dalam menjabat beberapa jabatan penting di pemerintahan daerah secara turun temurun dan memanfaatkan mitos kemuliaannya dalam rangka mengukuhkan motif politis. Bahkan secara praktek, pemanfaatan agama dan berbagai lembaga-lembaga religi yang diusungnya itu tidak lain hanyalah demi memperkuat posisinya semata.[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem khilafah yang dipraktekkan Saudi Arabia beralih kepada iklim pemerintahan yang sarat akan nilai sistem monarki dengan memberikan jabatan pemerintahan kepada kaum kerabat kerajaan tanpa adanya system khilafah yang diselenggarakan dengan proses pemilihan umum antar para sahabat.[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ibnu Su'ud gencar memperbaiki proyek undang-undang pemerintahan dan mengelaborasi administrasi negaranya, banyak kalangan ulama yang menyeru untuk bertahan dari serangan berbagai perilaku produktif fenomena modernisme yang sengaja menggoyangkan power syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, sikap Ibnu Su'ud dan Wahabiyah dalam keterkaitannya dengan para ulama memberikan sinyal-sinyal penampakan motif politis dan pemaksaan produktifitas sosio historis. Dalam keterkaitannya dengan ulama misalnya, para ulama lebih senang memberikan berbagai kebijakan politis selama tidak melanggar hukum dasar Wahabiyah karena apabila hal tersebut telah bertentangan dengan Wahabiyah maka secara tidak langsung telah meniadakan syariat Islam. Karena itulah berbagai sarana yang dilancarkan membutuhkan keterkaitan ulama dengan masyarakat Arab Saudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun Wahabiyah sangat mempengaruhi iklim kehidupan rakyat Arab Saudi, akan tetapi dalam prakteknya Wahabiyah sering melakukan beberapa prosedur yang salah. Hal ini terjadi –misalnya- dalam mengagungkan warisan Nabi. Seperti dilansir Koran al-Fajr, Wahabiyah menyingkirkan peninggalan historis Rasul seperti rumah tempat dirinya dan Khadijah tinggal yang dijadikan sebagai saluran air dan tempat lahir beliau yang menjadi perpustakaan Mekah akan tetapi jarang dikunjungi dan kurang dikembangkan.[15]  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjungan Masyarakat Moderat Timur Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.     Miniatur Iran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal berdirinya, Iran sudah melaksanakan politik luar negerinya. Dimulai pada masa rezim dinasti Pahlevi, disusul dengan rezim Khomeini hingga yang dilakukan oleh Ahmadinejad saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.     Pada Masa Dinasti Pahlevi (1925-1979)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdirinya dinasti Pahlevi sering dikaitkan dengan kondisi negara yang lemah karena adanya berbagai macam gerakan pemisahan diri setelah perang dunia pertama, salah satunya adalah yang meletus di Arabistan di mana perusahaan minyak Inggris Persia menunjukkan hasil eksploitatifnya sehingga dengan demikian berhasil memunculkan sosok Reza Khan Pahlevi[16] yang berhasil menciptakan keamanan dan mengukuhkan kedudukan Iran dengan cara kudeta  selepas Perang Dunia I. Setelah berhasil menggulingkan kekuasaan Qajar, tahun 1925 Reza Khan Pahlevi mengangkat dirinya sebagai Raja Reza Pahlevi pada tahun 1925. Perubahan ini terjadi dengan bercermin pada revolusi yang digencarkan Kemal Ataturk di Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan yang dilakukan Reza Pahlevi tidak hanya berkisar pada perubahan nama negara dari Persia menjadi negara Iran tetapi juga memperluas daerah kekuasaannya hingga dapat menguasai daerah tepi pantai kawasan teluk. Iklim seperti ini didukung atas berbagai usaha yang dilakukan negara-negara Arab pada saat itu untuk menjadikan kawasan Teluk, daerah-daerah yang dikuasai Moskad dan Oman, dan munculnya negara Arab kecil menjadi bagian dari kawasan Arab.[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kerjasamanya dengan Nazi, menyebabkan sekutu yang selama ini mendukungnya, memaksanya turun tahta dan kedudukannya digantikan oleh putranya Muhammad Reza Pahlevi (1941-1979). Pada tahun 1960, ia gagas modernisasi dengan melakukan revolusi pendidikan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti politik luar negerinya terjadi pada tahun 1963 di mana Iran mengadakan koalisi pertahanannya dengan negara Kuwait dan dan Arab Saudi yang bertujuan untuk menakut-nakuti ancaman Soviet dan gerakan kiri yang muncul di utara daerah Teluk.[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.     Pada masa rezim Ayatullah Khomeini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan konfederasi Iran Syah dan eksistensi zionis tampak mengalami perubahan besar seiring dengan ditutupnya kedutaan besar Israel di Iran. Di samping itu, perubahan tersebut mengarah pada iklim pembebasan Palestina yang salah satunya ditempuh dengan cara mengundang Arafat sebagai pembesar pertama yang mengunjungi Teheran. Bahkan, mereka berniat untuk memerdekakan al-Quds dan daerah-daerah yang telah dikuasai Israel. Akan tetapi yang sangat disayangkan adalah konfederasi yang timbul selepas revolusi Iran tersebut memicu peperangan antara Irak dan Iran. [19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.     Politik Luar Negeri rezim Ahmadinejad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpilihnya Ahmadinejad menjadi presiden Iran merupakan suatu hal yang tidak menyenangkan bagi Amerika Serikat. Mengingat, selama ini Ahmadinejad terkenal sangat kontra terhadap Amerika. Bukti konkret yang dilakukan Ahmadinejad adalah layang suratnya untuk Presiden George William Bush berkenaan dengan kebijakan politik anehnya selama ini khususnya dalam rangka menghegemoni Timur Tengah. Sikap kontra yang dilakukannya ini berhasil memposisikan Iran sebagai negara yang sangat berpengaruh di kawasan Timur Tengah. Tidak hanya itu, sang Presiden juga tidak segan-segan melakukan lobi ke berbagai negara Islam demi mensukseskan politik luar negerinya tersebut. [20]  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik dan Analisa terhadap Wacana Masyarakat Timur Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu nilai normatif Islam adalah bahwasanya Islam adalah agama samawi yang sarat akan rahmatan li al-'âlamîn. Dengan demikian yang menjadi tujuan mendasar syiar Islam yang senantiasa didengungkan merupakan refleksi dari dakwah untuk menegakkan kebenaran seluruhnya bukan hanya mendengungkan syiar Islam bagi umat Islam atau dengan kata lain mendengungkan syiar Islam rahmatan li al-muslimîn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kita renungi bersama bahwa kaum yang menghendaki politisasi Islam memandang bahwa Islam adalah negara padahal Islam pada dasarnya adalah suatu peradaban yang menyatu dan dibentuk oleh kesamaan cara pandang. Dan negara adalah salah satu seni dalam rangka mensukseskan dakwah Islam. Bahkan, dalam terma membentuk suatu peradaban Islam, Nabi mengusung nilai-nilai Islam yang tercermin pada akhlak dan ajaran-ajaran beliau yang tentunya memiliki nilai filosofis tersendiri.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep kaum konservatif dalam aplikasi dakwah rahmatan li al-'âlamîn perlu ditinjau ulang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.     Apabila yang diinginkan adalah rahmatan li al-'âlamîn dan proyek aplikasi awalnya adalah rahmatan li al-muslimîn merupakan salah satu solusi tepat demi tercapainya dakwah Islam. Akan tetapi alangkah baiknya apabila kedua metode tersebut (rahmatan li al-'âlamîn dan rahmatan li al-muslimîn) sejalan segendang sepenarian supaya dakwah Islam berjalan dengan lancar dan progresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.     Apabila yang diinginkan adalah rahmatan li al-muslimîn saja, berarti kaum tersebut lengah bahwa tujuan dakwah dalam artian sebenarnya adalah rahmatan li al-'âlamîn. Sehingga diperlukan adanya perbaikan-perbaikan kesalahan atas pemahaman esensi yang terkandung dalam suatu dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya yang terjadi pada masyarakat muslim yang menegakkan sistem sekuler. Selama ini terma sekuler berawal dari revolusi Perancis. Pada prakteknya, contohnya yang dilakukan pada rezim Kemal Ataturk, sekulerisme yang diterapkan banyak berkiblat pada Perancis sehingga kekuatan Islam yang pada saat itu mengalami degradasi tajam. Pada taraf seperti ini, perlu adanya penyadaran di berbagai pihak bahwa esensi dari kepemimpinan Nabi Muhammad bukan memisahkan antara agama dan negara akan tetapi Nabi Muhammad memberikan ruh-ruh Islami dalam menopang suatu negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukti dengan terma sekuler yang dipadukan dengan ruh-ruh Islam, Turki mengalami perubahan yang signifikan dalam melaksanakan sistem kenegaraannya. Bahkan dengan terma yang diusungnya, Erdogan mampu mempengaruhi berbagai kalangan untuk dapat menerima kembali bahwa ruh-ruh Islam sangat erat kaitannya dengan sistem negara sekuler. Hal ini didukung dengan ideologi kepemimpinan Islam yang pada dasarnya memiliki dua norma yaitu permusyawaratan dan pertanggungjawaban. Pada sistem permusyawaratan misalnya, al-Qur'an telah menjadikan musyawarah sebagai salah satu aspek terpuji setaraf dengan keimanan dan tawakkal kepada Allah, meninggalkan dosa-dosa besar dan melaksanakan ibadah salat. Dalam konteks pelaksanaan pertanggungjawaban, pertanggungjawaban yang dilakukan adalah pertanggungjawaban seorang pemimpin kepada masyarakatnya bukan kepada penguasa. Maka, sudah selayaknya kita menerapkan Islam pada masa Rasulullah bukan Islam berideologi monarki.[21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun demikian sistem negara sekuler bukanlah solusi terbaik dalam menentukan suatu sistem pemerintahan. Demikian halnya sistem konservatif yang sebagian negara mempraktekkannya dengan melaksanakan sistem monarki. Bahkan, perlu adanya nota kesepemahaman dari berbagai pihak bahwa konsep khilafah yang selama ini diterapkan oleh beberapa negara banyak yang menyalah-artikannya sebagai konsep monarki. Permasalahan ini sebenarnya berkisar atas tiga hal;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.     Tidak adanya keputusan pasti untuk menentukan khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.     Tidak adanya pembatasan waktu berakhirnya kepemimpinan khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.      Tidak adanya pembatasan kriteria khalifah.[22]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya demi mengusung nilai-nilai Islam yang terkandung dalam dua normatif di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa keduanya sudah cukup mewakili konsep negara demokrasi dan rasional. Bahkan, ide-ide sekuler yang selama ini banyak beredar di pemikiran Arab sudah selayaknya dijauhi dan menggantinya dengan sistem kenegaraan yang demokratis dan rasional sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Arab terhadap melaksanakan proses kenegaraannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah carut marutnya fenomena inilah, setiap pemimpin yang mengalami proses dilematis antara iklim pembaharuan dan pemertahanan tradisi lama diharapkan mampu bersikap moderat supaya tidak terkesan stagnan atau kebablasan sehingga terkesan tidak berhasil memilah dan memilih iklim pembaharuan yang sarat dengan norma Islam. Wallâhu a'lam bi al-Shawâb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Saqr, As'ad, al-Syarq al-Awsath al-Hadîts, jilid 3&lt;br /&gt;   2. Al-Jâbirî, Muhammad 'Âbid, Wijhah al-Nadzor nahwa I'âdah Binâ' Qadhâyâ al-Fikr al-'Arabî al-Mu'âshir, Markaz Dirâsah al-Wihdah al-'Arabiyah, Beirut, 2004.&lt;br /&gt;   3. Al-Yâsinî, Aiman, al-Dîn wa al-Mamlakah al-'Arabiyah al-Su'ûdiyah.&lt;br /&gt;   4. Khaldun, Ibnu, Muqaddimah Ibn Khaldun, jilid 1, Maktabah al-Usrah, Kairo, 2006.&lt;br /&gt;   5. Lewis, Bernard, al-Islâm fî al-Târîkh, al-Afkâr wa al-Nâs wa al-Ahdâts fî al-Syarq al-Awsath, Madhat Thaha, al-Majlis al-A'lâ li al-Tsaqâfah, Kairo, 2003.&lt;br /&gt;   6. Al-Bâz, Muhammad, Jinâyat al-Wahâbiyîn 'alâ al-Rasûl al-A'dzam, Koran al-Fajr, edisi 119, tanggal 17 September 2007, Kairo.&lt;br /&gt;   7. Wulandari, Aprina Levy, Membongkar Skandar Nuklir Amerika-Israel, La Tansa, Edisi Syawwal 1427 H, Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]  Ibn Khaldun, Muqaddimah Ibni Khaldûn, jilid 1, Maktabah al-Usrah, Mesir, hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Bernard Lewis, al-Islâm fî al-Târîkh al-Afkâr wa al-Nâs wa al-Ahdâts fî al-Syarq al-Awsath, Madhat Thaha, al-Majlis al-A'lâ li al-Tsaqâfah, Kairo, 2003, hal. 347.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]  Ibid., hal. 348.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Ibid., hal. 349.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Ibid., hal. 350&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] As'ad Saqr, al-Syarq al-Awsath al-Hadîts, jilid 3, hal. 16. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]  Ibid., hal. 16.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Aiman Al-Yasini, al-Dîn wa al-Mamlakah al-'Arabiyah al-Su'ûdiyah, hal. 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9]  Ibid, hal. 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10]  Ibid., hal. 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11]  Ibid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12]  Ibid., hal. 83.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13]  Ibid., hal. 7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14]  Muhammad 'Abid al-Jâbirî, Wijhah al-Nadzor Nahwa I'âdah Binâ' Qadlâyâ al-Fikr al-'Arabî al-Mu'âshir, Markaz Dirâsah al-Wihdah al-'Arabiyah, Beirut, hal. 87.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Muhammad al-Bâz, Jinâyat al-Wahâbiyîn 'alâ al-Rasûl al-A'dzam, Koran al-Fajr, edisi 119, tanggal 17 September 2007, Kairo, hal. 1-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] Reza Khan Pahlevi adalah pendiri negara Iran Modern&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] Muhammad Ali Hawat, Mafhûm al-Syarq Awsathiyah wa Ta'tsîruhâ 'alâ al-Amn al-Qaumî al-'Ârabi, Maktabah Madbouli, Kairo, 2002, hal. 239.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18] Ibid., hal. 243.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[19]  Ibid., hal. 254.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[20]  Aprina Levy Wulandari, Membongkar Skandar Nuklir Amerika-Israel, La Tansa, Edisi Syawwal 1427 H, hal. 5-6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[21] Muhammad 'Âbid al-Jâbirî, Op. Cit., hal. 93.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[22] Ibid., hal. 88-89.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-3905511415742659545?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/3905511415742659545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=3905511415742659545' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/3905511415742659545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/3905511415742659545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/08/mengenal-corak-ragam-sekulerisme.html' title='Mengenal Corak Ragam Sekulerisme, Moderat Dan Konservatif Di Timur Tengah'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4428952711573648675.post-3995494941898523491</id><published>2008-08-21T11:52:00.000+03:00</published><updated>2008-08-21T11:53:33.203+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Emotions'/><title type='text'>Bisikan Tauhid</title><content type='html'>Laailaahaillallah tlah kau baca&lt;br /&gt;Tapi kau tak mengerti ma’nanya&lt;br /&gt;Laailaahaillallah tlah kau ucap&lt;br /&gt;Tapi hatimu tak pernah mantap&lt;br /&gt;Laailaahaillallah tlah kau jadikan dzikir&lt;br /&gt;Tapi kau tak jadikannya objek fikir&lt;br /&gt;Laailaahaillallah tlah kau nyatakan &lt;br /&gt;Tapi kepada selain Allah kau minta pertolongan&lt;br /&gt;Laailaahaillallah tlah kau bersaksi &lt;br /&gt;Tapi kau tak yakin bahwa Allah pasti kan memberi&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bias-bias kekufuran tlah menutupi hatimu&lt;br /&gt;Bias-bias kekufuran tlah menodai kemurnian hatimu&lt;br /&gt;Bias-bias kealpaan ‘aqidah tlah mengubur hidup-hidup jiwamu&lt;br /&gt;Bias-bias kenikmatan semu tlah mencoreng qalbumu&lt;br /&gt;Noktah hitam kekufuran tlah mengotori, mencoreng, menutupi… &lt;br /&gt;bahkan tlah memenuhi hatimu&lt;br /&gt;Seolah hati mengaduh kesakitan &lt;br /&gt;menyeruak…&lt;br /&gt;berteriak…&lt;br /&gt;Kapan aku bersih, Tuhan?&lt;br /&gt;Kapan aku suci, Tuhan?&lt;br /&gt;Kapan kemurnianku terlahir kembali, Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai khalifah fi-l-ardl!&lt;br /&gt;Akankah kau tak mempedulikan hatimu?&lt;br /&gt;Tegakah kau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan!&lt;br /&gt;Jangan biarkan dirimu berdasi &lt;br /&gt;tapi relung qalbumu pucat pasi&lt;br /&gt;Jangan biarkan dirimu berlagak &lt;br /&gt;tapi qalbumu tersesak &lt;br /&gt;dengan noda hitam yang tlah menyerbak&lt;br /&gt;Jangan biarkan dirimu bergaya &lt;br /&gt;tapi qalbumu tak kau sapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdzikirlah…&lt;br /&gt;Berfikirlah…&lt;br /&gt;Bersaksilah…&lt;br /&gt;Tanpa ada keraguan hati yang melanda&lt;br /&gt;Karena Dia kan selalu ada bersama kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4428952711573648675-3995494941898523491?l=dhoriefah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhoriefah.blogspot.com/feeds/3995494941898523491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4428952711573648675&amp;postID=3995494941898523491' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/3995494941898523491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4428952711573648675/posts/default/3995494941898523491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhoriefah.blogspot.com/2008/08/bisikan-tauhid_423.html' title='Bisikan Tauhid'/><author><name>Dhoriefah Niswah El-Fidaa'</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09286589127609408500</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_0HsCumaWKLA/SK07oWQ975I/AAAAAAAAAA0/C69YoPY9F40/S220/lagi+belajar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
